Deborah Dugan Dipecat, Recording Academy Cari Bos Baru

Deborah Dugan Dipecat, Recording Academy Cari Bos Baru

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Presiden dan CEO Recording Academy, Deborah Dugan telah diberhentikan sepihak pada Januari silam oleh para petinggi penyelenggara Grammy Awards.

Lewat sepucuk surat kepada para member, Dewan Pengawas Recording Academy mengonfirmasi bahwa Dugan tak lagi jadi bagian dalam organisasi.

Pernyataan itu menjelaskan bahwa Dewan Pengawas memutuskan menghentikan pekerjaan Dugan usai dua penyelidikan yang disebut dilakukan secara lengkap dan independen atas semua tuduhan, baik oleh mau pun kepada Dugan.

Awal konflik di dalam tubuh Recording Academy ini bermula ketika Deborah Dugan menuduh adanya pelecehan seksual dan konflik kepentingan dalam organisasi, transaksi yang tidak pantas oleh anggota Dewan, dan penyimpangan dalam pemilihan nominasi Grammy Awards.

Dia juga menyebut Recording Academy sebagai “klub bocah laki-laki” karena didominasi oleh pria.

Baca Juga

Dugan sendiri dibalas dengan tuduhan telah melakukan pelanggaran sebagai CEO Recording Academy. Saling tuduh-menuduh ini juga diwarnai saling membantah oleh kedua belah kubu.

“Setelah mempertimbangkan semua bukti dari dua penyelidikan independen, Dewan Pengawas Recording Academy memilih untuk menghentikan Ms. Dugan dari perannya sebagai Presiden / CEO,” tulis Ketua dan CEO sementara Recording Academy, Harvey Mason Jr.

Dia juga menyebut lembaga itu tengah melakukan pencarian pengganti Dugan. “Kami akan melihat dengan hati-hati, berkaca yang terakhir membuat kami tersesat dan membuat perubahan yang diperlukan ke depan,”

Salah satu pengacara Dugan, Doug Wigdor mengatakan kepada Variety lewat sebuah pernyataan bahwa keputusan Recording Academy untuk menghentikan kliennya dan menyebarkan kepada media menunjukkan budaya diskriminasi yang mengakar di lembaga itu.

“Mereka tidak akan berhenti untuk melindungi dan memelihara budaya kebencian terhadap wanita, diskriminasi, pelecehan seksual, korupsi, dan konflik kepentingan. Keputusan itu tercela dan pada waktunya, Recording Academy, para pemimpin dan pembelanya akan bertanggung jawab di bawah hukum,” kata Wigdor.

Sementara itu, Dugan menyebut dirinya direkrut oleh Recording Academy untuk membuat perubahan positif. Namun ia kecewa tak bisa melakukan itu sebagai seorang CEO.

“Sementara saya kecewa dengan perkembangan terakhir ini, saya tidak terkejut melihat pola Recording Academy berurusan dengan pelapor. Adakah yang terkejut bahwa penyelidikannya yang dimaksud tidak termasuk mewawancarai saya atau menangani klaim konflik kepentingan yang lebih besar dan penyimpangan pemungutan suara?” kata Dugan.

“Jadi, dibanding mencoba mereformasi institusi korup dari dalam, saya akan melanjutkan bekerja untuk meminta pertanggungjawaban mereka yang terus berbuat curang, menodai proses voting Grammy Awards dan mendiskriminasi wanita dan orang kulit berwarna,” lanjutnya.

“Para musisi layak mendapatkan yang lebih baik. Bagi saya, ini adalah arti sebenarnya dari ‘meningkatkan’.” kata Dugan. (MU)