Catatan dari Senayan

Debat untuk Membuka Watak-watak Asli

Debat pasangan capres-cawapres (DPC) dua hari yang lalu disaksikan jutaan rakyat melalui televisi, radio, dan media sosial. Kedua pasangan dengan sungguh-sungguh menyampaikan program dan saling menanya dan menjawab program masing-masing menghadapi problem bangsa. Setelah serangkaian kampanye dilakukan sejak Oktober 2018, kita dapat melihat langsung kedua pasangan tanpa melalui media massa dan media sosial yang sering disusupi kabar-kabar hoax.

Publik dan pendukung kedua pasangan calon boleh berbeda penilaian tentang hasil debat. Para pengamat pun boleh bersilang penilaian soal kualitas dan content DPC itu. Semunya sangat tergantung pada perspektif dan pemihakan terhadap kedua pasangan calon. DPC bukan pertandingan tinju atau lomba lari yang semuanya terukur secara eksak. DPC juga harus dilihat sebagai panggung politik. Poinnya bukan sekadar benar dan salah, tapi sejauh mana masing-masing paslon mampu meyakinkan publik, seberapa besar dampak elektoralnya.

Lalu setelah debat berakhir, tim pemenangan masing paslon saling klaim bahwa paslonnya yang memenangkan debat, paslonnya paling hebat. Kalau ada salah data atau salah penyampaian statemen, rame-rame dibela dan diluruskan menurut versi masing-masing tanpa dasar penilaian yang jelas. Walau pun sebenarnya publik dapat menilai, apa yang sudah disampaikan masing-masing calon di atas panggung debat seketika itu sudah cukup. Publik menilai spontan apa yang ada dalan debat dan tidak memerlukan penjelasan sesudahnya.

Bahkan ada yang secara ekstrem menyatakan bahwa sesungguhnya debat calon pasangan capres-cawapres itu tidak diperlukan. Tradisi bangsa kita dalam sejarah perjalanan kita itu bukanlah tradisi yang vis avis, saling berhadap-hadapan. Yang biasa terjadi adalah tradisi kompromi dan komplementatif, saling melengkapi.

Kata mereka, tidak ada debat sekalipun sebenarnya rakyat bahkan seisi dunia sudah tahu kualitas dari masing-masing paslon. Dengan melihat rekam jejak dan kinerja yang ada selama ini sudah cukup jelas siapa yang seharusnya kita pilih. “Mari jujur pada hati nurani kita yang sebenarnya jika ingin bangsa ini maju,” itu ajakan mereka yang tidak memandang terlalu penting debat itu.

Dari satu sisi mungkin pendapat itu benar, tapi di sisi lain kita tetap perlu menilai positifnya penyelenggaraan debat itu. Meski hanya sekitar dua jam diselang-seling pesan sponsor. Dari beberapa tahapan DPC pertama Pilpres itu kita dapat mencatat beberapa hal. Pertama debat itu menarik perhatian publik. Walaupun boleh dikata debat pekan lalu itu hanyalah sebagai “adegan ulang”. Sebab pada Pilpres 2019 ini capres yang berhadapan masih sama dengan Pilpres 2014 lalu. Joko Widodo berhadapan dengan Prabowo Subianto. Hanya cawapresnya yang berbeda, dulu Jokowi didampingi Jusuf Kalla, Prabowo Subianto didampingi Hatta Rajasa. Kini calon-calon wakilnya KH Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno.

Kedua, kita melihat KPU sudah merancang secara maksimal DPC. Dipilihkan panelis, moderator, dan format debat yang terbaik dan objektif.

Dari sisi membuka pengenalan dan pemahaman publik terhadap visi-misi dan program para paslon ke depan kiranya sudah cukup. Tentu saja DPC sangat beda dengan debat para pengamat dan politisi di layar televisi selama ini. Misalnya dibandingkan dengan “ILC” di TV One, “Satu Meja” di Kompas TV dan lainnya.

Tontonan yang hadir hampir setiap malam di sejumlah stasiun televisi itu lebih bertujuan sebagai tontonan yang “mengentertain” publik dan mendatangkan uang. Substansi tidak penting yang diutamakan menghibur dan mengundang pemasang iklan. Memang itu masuk program komersial. Soal kualitas muatan debat bukan tujuan utama.

Yang terpenting dari debat itu secara reflektif memunculkan watak-watak asli para kandidat. Calon mana yang berwatak otoriter, egaliter, moderat, ambisius, rendah hati atau watak-watak lain. Kalau kita cermat mengikuti jalannya debat, penyampaian kata perkata, kalimat demi kalimat semuanya tereksplor selama debat. Juga tergambar dari ekspresi wajah dan gerak tubuh. (*)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close