Opini

Dari “Teroris Medsos” Menjadi “Pengantin Teror”

PERISTIWA serangan teror kepada Menko Polhukam Jenderal TNI (Purn) Wiranto menjadi peringatan (warning) ekstra serius untuk aparat keamanan (apkam), pemerintah pusat dan daerah, serta seluruh masyarakat Indonesia. Khususnya untuk pihak-pihak yang kurang peduli, bahkan abai, pada ancaman intoleransi, radikalisme dan terorisme bagi keutuhan NKRI. Bahwa teroris itu “nyata adanya”, siapa saja dan kapan saja bisa menjadi korbannya. Termasuk keluarga kita.

Apkam dan para ahli menyatakan, kebanyakan teroris yang muncul pasca tahun 2000-an umumnya lahir dan tumbuh besar dari anak kandung internet; yakni media sosial (medsos).

Proses metamorfosis seseorang dari “teroris medsos” menjadi “pengantin teror”, memang tampak sederhana dan terkesan biasa-biasa saja, tapi bahayanya luar biasa; mendatangkan bencana bagi bangsa dan negara.

Berawal dari simpatik kepada kelompok intoleran dengan dalih membela agama, lalu terpengaruh dan ikut-ikutan menyebar ujaran kebencian dan SARA, lantas mengkristal menjadi intoleran hingga radikal, kemudian direkrut dan masuk dalam jaringan pelaku aksi teror, dibekali ilmu teror dan akhirnya menjadi “pengantin” serangan teror.

Yuk kenali ciri-ciri “teroris medsos” dan jauhkan keluarga kita dari pengaruh mereka.

Ciri-ciri “Teroris Medsos”

1. Kerap mengatakan bahwa kejadian terorisme yang menelan banyak korban sebagai rekayasa atau drama. Ini dilakukan agar masyarakat tidak bersimpati atas hilangnya nyawa korban.

2. Mengalihkan fokus berita korban jiwa akibat terorisme dengan berita lain yang tidak ada sangkut pautnya. Tujuannya agar masyarakat lupa atau abai dengan kekejaman teroris.

3. Menggunakan kata-kata melecehkan untuk mengambarkan keadaan korban. Ini memang sesuai dengan tabiat teroris yang senang melihat korbannya tersiksa.

4. Suka menyalahkan aparat penegak hukum bila terjadi aksi terorisme. Padahal aparat penegak hukum adalah garda terdepan mencegah aksi teror dan melumpuhkan teroris, tapi oleh para teroris di media sosial fakta diputar balik.

5. Suka mencaci maki pemerintah dengan menyebar opini tendensius memakai istilah keagamaan untuk membentuk stigma negatif. Misal, pemerintah dituduh anti-Islam dan istilah lain yang intinya bertujuan membangkitkan kebencian rakyat terhadap pemerintah.

Salam Indonesia Damai,

ZULFIKAR FUAD adalah Ketua LSP KONTERPART (Lembaga Strategi Penanggulangan Konflik, Terorisme & Sparatisme)

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close