Menikmati “Kluyuran” ke Langit Tujuh Langit ala:

Dante Aligheiri dan Mohammad Iqbal

Dante Aligheiri dan Mohammad Iqbal

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“ALHAMDULILLAH. Akhirnya, kiriman Javid Namah sampai juga!”

Demikian gumam bibir saya. Kemarin. Ya, kemarin siang, ketika saya menerima dua buku. Yang pertama, terjemahan karya seorang sufi kondang dari Mesir, Ibn ‘Atha’illah Al-Iskandari, Al-Hikam. Yang kedua, Javid Namah, salah satu karya puncak seorang pemikir Muslim asal Pakistan, Mohammad Iqbal. 

Segera, dua karya itu pun saya “nikmati”. Perhatian saya pertama-tama, kali ini, terarah pada Javid Namah, sebuah  karya puncak Iqbal yang terbit pertama kali pada 1932, dalam bahasa Persia. Dalam karyanya tersebut, Iqbal dipandu seorang Tuan Guru, Jalaluddin Al-Rumi, melakukan perjalanan ke langit tujuh. Dalam perjalanan itu, selain menghadap Hadirat Ilahiah., ia juga bertemu dengan sejumlah tokoh kondang. Dengan para tokoh itu, Iqbal berbincang dengan mereka. Berbincang tentang berbagai persoalan yang dihadapi dunia. 

Karya indah Iqbal tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh seorang profesor kondang dari Universitas Cambridge, Inggris, Arthur John Arberry. Sedangkan terjemahan ke dalam bahasa Jerman oleh Annemarie Schimmel, bahasa Italia oleh Alessandro Bausani, dan bahasa Perancis oleh Eva Meyerovitch dan Dr. Mohammad Morki. Sementara terjemahan ke dalam bahasa Indonesia oleh dr. Mohammad Sadikin D.Sc. 

Ternyata, terjemahan Javid Namah ke dalam bahasa Indonesia tersebut berbentuk prosa. Beda dengan terjemahan ke dalam Arab yang saya miliki dan nikmati sejak 1982. Terjemahan ke dalam bahasa Arab, oleh Prof. Dr. Houssein Moguib El-Masry, dengan judul  Fî Al-Samâ’, tetap dalam bentuk puisi. Sama seperti bentuk asli Javid Namah. Selain itu, karya terjemahan ke dalam bahasa Arab itu juga diberi anotasi. Tidak aneh jika tebal buku terjemahan ke dalam bahasa Arab itu memiliki ketebalan 232 halaman. Sementara terjemahan ke dalam bahasa Indonesia memiliki ketebalan 178 halaman.

Di sisi lain, banyak yang berpendapat, karya Mohammad Iqbal yang merupakan perpaduan antara percikan tasawuf, filsafat, dan sejarah ini merupakan duplikat dari sebuah karya kondang Dante Aligheiri, La Divina Commedia. Benarkah demikian?

Karya yang Membikin Geger

Pada tahun 1919, Miguel Asin Palacios, seorang orientalis kondang Spanyol (1871-1944), mempublikasikan sebuah karyanya tentang seorang pensyair kondang Italia dari Masa Pertengahan akhir, Dante Aligheiri (1265-1321). Judul karya Palacios itu adalah La Escatología musulmana en la Divina Comedia

Dalam karya tersebut, Palacios mengemukakan, La Divina Commedia, karya Dante, sangat terpengaruh karya-karya para pemikir dan penulis Muslim. Utamanya, karya-karya tentang mi‘raj Nabi Saw. Juga, karya-karya Abu Al-‘Ala’ Al-Ma‘arri, seorang filosuf, pensyair, dan penulis Muslim pada Masa Pertengahan, Risâlah Al-Ghufrân, dan beberapa karya Ibn ‘Arabi, seorang sufi kondang dari Andalusia.

Ternyata, karya Palacios itu membuat geger kalangan ilmiah. Ada yang mendukungnya.  Ada pula yang menentangnya. Kemudian, karena perbedaan pendapat tersebut, timbullah perhatian baru, dalam kalangan para ilmuwan, terhadap La Divina Commedia. Muncul pula kemudian gerakan pengkajian atas karya-karya Dante. Geger yang dipicu dan dipacu karya Miguel Asin Palacios tersebut,  akhirnya sampai pula kepada Mohammad Iqbal, seorang pemikir Muslim kondang asal anak benua India. Ia pun segera membaca La Divina Commedia dalam terjemahan bahasa Inggris. Malah, ketika Iqbal mengunjungi Andalusia, pada 1931, ia menemui Palacios. Kala itu, Iqbal sedang menulis sebuah karyanya yang kemudian terbit dengan judul Javid Namah.

Tampaknya Iqbal, sejak  awal menulis Javid Namah, ingin menimba pengalaman La Divina Commedia. Ia ingin, karya yang sedang tulis itu juga membangkitkan perhatian serupa yang dinikmati La Divina Commedia. Apalagi, ia melihat saat itu merupakan saat yang tepat untuk membangkitkan perhatian yang demikian. Namun, keinginan Iqbal tersebut bukan merupakan pemicu satu-satunya. Ia juga berharap, Javid Namah dapat menimbulkan kebangkitan di kalangan kaum Muslim. Sebab,  La Divina Commedia telah menimbulkan kebangkitan di kalangan bangsa Italia dan mewarnai peradaban Eropa pada Masa Pertengahan.

Dengan memandang sebagian besar kandungan La Divina Commedia ditimba dari karya-karya kaum Muslim, tidak dapat dibayangkan kandungan Javid Namah terpengaruh La Divina Commedia. Jika ada,  dampak itu terbatas pada bentuknya saja. Memang, karya Dante itu telah memacu Iqbal untuk mengkaji unsur-unsur Islam yang ditimba Dante dan mengolahnya serta menyajikannya dalam bentuk hidangan baru yang lain.

Memang, ada persamaan dan perbedaan antara La Divina Commedia dan  Javid Namah. Kini, sejauh mana sejatinya pengaruh karya Dante itu terhadap Javid Namah?

Ada sejumlah persamaan di antara kedua karya besar itu.

Pertama, Javid Namah dimulai dengan perbincangan tentang keterasingan manusia dan kesendiriannya. Sedangkan Dante mengawali La Divina Commedia dengan uraian tentang dirinya, yang telah tengah baya, sedang berada di tengah hutan gelap gulita. Menurut Dante, ia sebagai simbol kesendirian dan keterasingan.

Kedua, Dante memulai perjalanannya dari dekat sebuah gunung. Di situ, ia bertemu dengan Virgil, seorang pensyair Latin. Iqbal juga memulai perjalanannya dari dekat sebuah gunung. Di situ, muncul ruh Jalaluddin Al-Rumi. Al-Rumi kemudian menguraikan kepada Iqbal tentang rahasia-rahasia mi’raj. Dua tokoh itu kemudian bertolak menuju tujuh langit.

Ketiga, kedudukan Jalaluddin Al-Rumi, bagi Iqbal, sama dengan kedudukan Virgil bagi Dante. Keduanya menjadi pemandu jalan dalam perjalanan di tujuh langit sebelum sampai di Hadirat Ilahiah. Peran yang sama dilakukan Virgil dalam tahap di neraka dan tempat penyucian dosa. Sedangkan pada tahap selanjutnya, Beatrice yang menjadi pemandu jalan Dante.

Keempat, ketika berada di bintang-bintang dan di balik bintang-bintang, yang dilakukan Iqbal sama  seperti yang dilakukan Dante. Iqbal mengajukan sederet pertanyaan kepada para filosuf, pembaharu, dan pensyair sebelum ia berbicang dengan mereka tentang berbagai persoalan yang dihadapi dunia. 

Kelima, dalam La Divina Commedia, sebagian orang yang ditemui Dante meminta kepadanya untuk   menyampaikan surat mereka kepada penduduk Bumi. Sedangkan dalam Javid Namah, kita mendapatkan Jamaluddin Al-Afghani meminta kepada Iqbal untuk menyampaikan suratnya kepada bangsa Rusia. Namun, ada perbedaan besar antara  isi surat yang ada dalam La Divina Commedia dan Javid Namah.

Pesan untuk Kaum Muda

Itulah beberapa persamaan yang ada antara La Divina Commedia dan Javid Namah. Kini, apakah perbedaan-perbedaan di antara karya besar itu? 

Perbedaan-perbedaan tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, perjalanan Dante melalui tiga tahap: neraka, tempat penyucian dosa, dan surga. Di surga, ia memohon supaya diperkenankan melihat Tuhan. Permohonannya dikabulkan. Sedangkan perjalanan Iqbal selaras dengan konsep Islam. Pertama-tama ia mi‘raj ke langit, lalu ia menuju ke surga, dan akhirnya sampai ke hadirat Allah Swt. Ia tidak melewati neraka. Namun, ia melewati dua orang pengkhianat yang sedang disiksa di Planet Saturnus.

Kedua, beberapa bagian dari La Divina Commedia begitu njlimet. Dalam bagian-bagian itu banyak terdapat simbol dan teka-teki yang belum dapat dipecahkan hingga kini. Sedangkan dalam Javid Namah tidak terdapat teka-teki. Memang, dalam Javid Namah  juga terdapat simbol-simbol. Namun, simbol-simbol itu mudah dimengerti, dalam, dan luas pengertiannya.

Ketiga, perhatian Dante lebih terarah pada keindahan kata-kata. Sedangkan perhatian Iqbal langsung pada pengertian. Meski demikian, hal ini tidak mengurangi keindahan Javid Namah.

Keempat, La Divina Commedia sarat dengan fanatisme buta Dante terhadap agama yang ia peluk. Tidak aneh jika ia menyerang Islam. Selain itu, dalam karya tersebut, ia bertanya kepada Tuhan tentang rahasia Trititas. Namun, ia tidak mendapatkan jawabannya dari Tuhan. Sedangkan Javid Namah diwarnai humanisme dan sifat-sifat manusiawi. 

Kelima, Dante kurang menaruh perhatian terhadap kehidupan manusia dan problematikanya. Perhatiannya lebih terarah pada persoalan gerejani. Sedangkan sebagian besar perhatian Iqbal terarah pada kehidupan manusia. Pertanyaan-pertanyaan seperti: Apa kehidupan itu? Apa cinta itu? Bagaimana hubungan akal dengan cinta? Apa agama itu? Apa tubuh itu? Bagaimana hubungan antara ruh dengan tubuh itu? dan pertanyaan-pertanyaan serupa hampir mewarnai seluruh karya Iqbal itu. Juga, ia memberikan jawaban-jawaban yang tidak kita dapatkan pada La Divina Commedia.

Gamblang kini, Javid Namah bukan merupakan duplikat La Divina Commedia. Dampak karya Dante Aligheiri tersebut terbatas hanya pada bentuknya. Bukan pada isinya!

Selain berisi sederet perbincangan yang sangat bernas, karya ini juga berisi pesan kepada Javid, putra sang pemikir asal Pakistan itu. Namun, sejatinya, pesan itu ditujukan kepada kaum muda. Nah, dalam pesan tersebut, Iqbal, antara lain, menyampaikan:

“Bila ilmu tidak membawa kehangatan pada hidup, maka hari tidak akan menemukan kegembiraan dalam ilham yang dibawa ilmu. Ilmu itu keterangan dan uraian tentang tahap-tahap ruhani yang kau alami; ia tidak lain adalah ulasan dari isyarat-isyaratmu! Mestinya, kau bakar dirimu dalam api peperangan, agar terpisah emasmu dari loyang. Dalam ilmu ketuhanan, awalnya menafikan indra dan akhirnya mengalami kehadiran. Namun, akhir ini tidak terkaandung dalam daya pikir. 

Jauh lebih berharga pelajaran yang  kau peroleh dari pengalaman daripada yang diajarkan ratusan buku karya para ahli. Oleh anggur pengalaman ini, tiap orang akan mabuk menurut  takaran yang sesuai bagi dirinya. Oleh tiupan sepoi angin pagi hari, lampun pun padam. Namun, angin ini pun pengisi piala bunga tulip. Makan, tidur, dan bicara seperlunya saja. Bergeraklah di sekeliling dirimu bagai jarum pedoman berputar pada sumbunya. Orang yang tidak percaya kepada Tuhan adalah kafir di mata para mullah. Namun, orang yang tidak menegaskan dirinya, bagiku, lebih kafir lagi. Yang pertama dengan ceroboh menafikan wujd. Yang kedua ceroboh juga, pendek  pikiran, dan zalim.

Jujurlah selalu dalam semua tindakanmu. Bebaskan dirimu dari rasa takut akan para raja dan adikara. Sekali-kali jangan kau tampik keadilan. Baik waktu marah maupun gembira. Bersikaplah moderat, tidak peduli kau kaya atau miskin. Ajaran agama sangat halus dan njlimet, jangan kau paksa dirimu secara semena-mena untuk menafsirkannya. Jangan kau cari obor selain dalam kalbumu sendiri. Penunjang jiwa ialah pikir dan zikir. Penyokong tubuhmu ialah kehormatan diri semasa muda. Di dunia ini, kekuatan hanya diperoleh dengan keteguhan jiwa  dan raga. Tujuan perjalanan ialah kenikmatan merenung.”

Pesan yang sangat indah. Ciri khas Mohammad Iqbal!