Dampak Corona, Polling Ramal Ekonomi RI Kuartal II -4,53%,

Dampak Corona, Polling Ramal Ekonomi RI Kuartal II -4,53%,

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Dampak dari pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) terhadap ekonomi RI akan segera terlihat.

Pada 5 Mei 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data output ekonomi (Produk Domestik Bruto/PDB) Indonesia periode kuartal II-2020. Sepertinya kontraksi atau pertumbuhan negatif sudah tidak bisa dicegah lagi.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia, Senin (3/8/2020) menghasilkan nilai median perubahan PDB sebesar -4,53% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY). Kalau sampai terwujud, maka akan menjadi catatan terburuk sejak 2009. Kala itu, Indonesia sedang mencoba bangkit dari terpaan krisis keuangan Asia alias krisis moneter alias krismon.

Sementara dibandingkan kuartal I-2020 (quarter-to-quarter/QtQ), PDB Indonesia periode April-Juni 2020 diperkirakan terkontraksi -2,89%. Pada kuartal I-2020 ekonomi Tanah Air sudah terkontraksi -2,41%.

Kontraksi ekonomi secara QtQ dalam dua kuartal beruntun sudah memenuhi definisi resesi teknikal. Dalam hal ini, Indonesia sudah merasakan pahitnya resesi…

Sebagian institusi yang terlibat dalam pembentukan konsensus juga memberi proyeksi untuk pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020. Hasilnya, ekonomi Ibu Pertiwi lagi-lagi diramal terkontraksi -0,155%.

Institusi Pertumbuhan Ekonomi QtQ (%) Pertumbuhan Ekonomi YoY (%) Pertumbuhan Ekonomi 2020 YoY (%)
Maybank Indonesia -4.05 -5.18 0.04
Bank Danamon -2.72 -3.87 -0.56
Mirae Asset -1.71 -2.87 0.52
Standard Chartered -3.2 -4.34
ING -5.1
Danareksa Research Institute -2.63 -3.58 0.04
Bank Permata -3.59 -4.72
Citi -7.9
BCA -13.6 -5 -4.6
Bank Mandiri -6.09
Moody’s Analytics 1.4
BNI Sekuritas -2.78 -3.92 -0.35
MEDIAN -2.99 -4.53 -0.155

Pada kuartal I-2020, Indonesia masih bisa membukukan pertumbuhan ekonomi 2,97% YoY. Namun pada kuartal berikutnya, Indonesia sudah tidak bisa melawan arus, ekonomi menyusut seperti negara-negara lain.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mulai memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada akhir Maret, sesuai Peraturan Pemerintah (PP) No 21/2020. Dalam pasal 4 ayat (1), PP tersebut mengamanatkan:

  1. Peliburan sekolah dan tempat kerja.
  2. Pembatasan kegiatan keagamaan.
  3. Pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum.

Semua ini dilakukan demi menekan risiko penyebaran virus corona. Maklum, virus yang awalnya menyebar di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Repbulik Rakyat China ini akan lebih mudah menular ketika terjadi peningkatan kontak dan interaksi antar-manusia.

Praktis selama April dan Mei aktivitas masyarakat sangat terbatas. Bekerja, belajar, dan beribadah #dirumahaja. Kebetulan pada kuartal II-2020 ada momentum yang semestinya menjadi puncak konsumsi masyarakat yaitu Ramadan-Idul Fitri.

Namun karena PSBB, puasa-lebaran tahun ini jadi terasa sangat berbeda. Tidak ada peningkatan aktivitas yang berarti. Kalau boleh dibilang, hambar…

Minimnya kegiatan masyarakat menimbulkan tekanan bagi dunia usaha, baik dari sisi pasokan (supply) maupun permintaan (demand). Pasokan bahan baku dan barang modal terhambat karena pembatasan mobilitas, sedangkan permintaan berkurang drastis karena orang-orang banyak menghabiskan waktu dengan rebahan di rumah. Tidak ada yang nge-mal, ngopi-ngopi cantik, karaoke, nonton bioskop, berburu foto instagramable di lokasi wisata eksotis, dan sebagainya.

Akibatnya, dunia usaha harus melakukan efisiensi demi bertahan hidup. Salah satunya dengan memangkas jumlah pegawai. Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pun terjadi.

“Sejalan dengan penurunan keyakinan terhadap penghasilan dan pembelian barang tahan lama, optimisme konsumen terhadap ketersediaan lapangan kerja juga semakin menurun. Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, per 27 Mei 2020 jumlah tenaga kerja yang terdampak pandemi Covid-19 (Coronavirus Disease-2019), baik dirumahkan maupun terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), adalah sekitar 1,75 juta orang,” sebut laporan Bank Indonesia (BI).

Para korban PHK tentu mengurangi konsumsi, karena dana yang ada kudu dihemat. Maklum, esok hari masih belum pasti.

Sementara yang belum jadi korban PHK juga menyiapkan diri andai (amit-amit) jadi korban selanjutnya. Persiapan itu dilakukan dengan meningkatkan tabungan dan investasi serta mengerem konsumsi.

Konsumsi dan daya beli rakyat yang bermasalah ini tercermin dalam data inflasi. Hingga Juli, inflasi tahun kalender (year-to-date) 2020 belum menyentuh 1%, tepatnya di 0,98%. Pergerakan harga barang dan jasa yang woles ini menunjukkan ekonomi sedang lesu, tidak dinamis, akibat minimnya permintaan.

Ini baru dari sisi konsumsi rumah tangga. Masalahnya, ketika negara-negara lain menerapkan kebijakan yang sama, bahkan lebih ekstrem dengan karantina wilayah (lockdown), maka ekspor dan investasi juga ikut anjlok.

Nilai ekspor Indonesia sepanjang semester I-2020 tercatat US$ 76,41 miliar, turun 549% dibandingkan periode yang sama pada 2019. Sementara investasi asing di sektor riil (Penanaman Modal Asing/PMA) turun 8,1%.

Tiga mesin penggerak ekonomi (konsumsi rumah tangga, ekspor, dan investasi) sudah mogok. Oleh karena itu, sangat wajar jika kue ekonomi Indonesia menyusut.

Indonesia memang sudah mengalami resesi teknikal, tetapi belum resesi yang hakiki. Penentuannya adalah pada kuartal III-2020, jika terkontraksi lagi maka Indonesia sah masuk jurang resesi.

So, bagaimana prospek untuk kuartal III-2020?

Sejauh ini ada pertanda baik, bahkan Indonesia mulai menunjukkan pemulihan sejak akhir kuartal II-2020. Setidaknya ada dua data yang memberi harapan.

Satu, kinerja ekspor pada Juni memperlihatkan kebangkitan. BPS melaporkan nilai ekspor pada Juni adalah US$ 12,03 miliar. Naik 15,09% dibandingkan bulan sebelumnya dan 2,28% YoY. Ini merupakan pertumbuhan positif pertama setelah mengkerut selama tiga bulan beruntun.

Dua, aktivitas manufaktur Indonesia mulai bergeliat. Terlihat dari angka Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang semakin meningkat, meski masih di bawah 50.

Pada Juli, IHS Markit mencatat PMI manufaktur Indonesia sebesar 46,9. Naik dibandingkann bulan sebelumnya yang sebesar 39,1 dan menjadi yang tertinggi sejak Februari.

Seperti yang disinggung sebelumnya, PMI menggunakan angka 50 sebagai titik awal. Kalau masih di bawah 50, maka artinya industriawan belum melakukan ekspansi.

Namun, tanda-tanda kebangkitan industri manufaktur Indonesia terus menguat. PMI memang masih di bawah 50, tetapi terus naik dalam tiga bulan terakhir.

“Data PMI terbaru menunjukkan bahwa perlambatan sektor manufaktur terus berkurang. Ada harapan dampak terburuk dari pandemi virus corona adalah pada kuartal II-2020 yang sudah berlalu.

Output produksi, pemesanan, hingga penyerapan tenaga kerja mulai meningkat seiring relaksasi kebijakan penanggulangan virus corona. Dunia usaha juga optimistis terhadap prospek produksi ke depan.

“Akan tetapi, pemulihan tidak akan berjalan mulus. Meningkatnya kebutuhan untuk pembatasan sosial (social distancing) di tempat kerja karena lonjakan kasus corona akhir-akhir ini bisa membuat proses pemulihan menjadi tertunda,” papar Bernard Aw, Principal Economist di IHS Markit, seperti dikutip dari siaran tertulis.

Ya, kunci dari pemulihan ekonomi akan berpulang ke aspek kesehatan karena bagaimana pun krisis akibat pagebluk virus corona adalah fenomena kesehatan. Apabila pemerintah merasa kasus corona sudah kebangetan, maka bukan tidak mungkin PSBB bakal diketatkan lagi.

Satuan Tugas Penanganan Covid-19 melaporkan, jumlah pasien positif corona per 3 Agustus adalah 113.134 orang. Bertambah 1.679 orang (1,51%) dibandingkan sehari sebelumnya.

Dalam 14 hari terakhir (21 Juli-3 Agustus), jumlah pasien positif corona bertambah rata-rata 1.780 orang per hari. Naik dibandingkan 14 hari sebelumnya yaitu 1.661,14 orang per hari.

“Suasana minggu-minggu terakhir ini cukup membuat masyarakat khawatir. Makin banyak yang tidak taat protokol kesehatan. Kasus positif Covid-19 kini mencapai 111.455 orang (per 2 Agustus), 68.975 sembuh dan 5.236 meninggal. Meski, case recovery rate kita cukup bagus, yaitu 61,9% sembuh,” cuit Presiden Jokowi di Twitter.

Kekhawatiran PSBB bakal ketat lagi semakin tinggi kala melihat Filipina sudah menerapkannya. Hingga 18 Agustus mendatang, Presiden Filipina Rodrigo Duterte kembali mengetatkan lockdown di wilayah Manila Raya dan sejumlah provinsi di sekitarnya.

Per 3 Agustus, jumlah pasien positif corona di Filipina adalah 106.330 orang. Bertambah 3.226 orang (3,13%) dibandingkan hari sebelumnya.

Lonjakan kasus corona di Indonesia memang belum separah di Filipina, yang pada 14 hari terakhir rata-rata pasien baru bertambah 2.673,71 orang per hari. Namun jika tidak ada perubahan, maka bukan tidak mungkin Indonesia menuju ke arah sana. Akibatnya, bukan tidak mungkin pula PSBB diketatkan lagi.

Bank Dunia sudah memberi wanti-wanti bahwa Indonesia bisa masuk ke zona resesi jika PSBB ketat lagi. Lembaga yang berkantor pusat di Washington DC itu memperkirakan ekonomi Indonesia tidak tumbuh alias stagnan alias 0% pada tahun ini. Namun apabila situasi memburuk, bisa saja ekonomi Indonesia mengalami kontraksi -2%.

“Infeksi virus masih terjadi. Skenario di mana Indonesia mengalami resesi bisa terwujud jika terjadi lonjakan jumlah kasus yang menyebabkan pemerintah kembali menerapkan PSBB yang lebih ketat pada kuartal III dan IV. Ekonomi sulit untuk pulih ke level pra-pandemi sebelum 2021,” tulis laporan Bank Dunia.

Kesimpulannya, peluang Indonesia untuk menghindari resesi masih ada. Namun itu akan sangat tergantung dari perkembangan pandemi virus corona. Kalau terjadi lonjakan kasus yang memaksa pemerintah kembali menegakkan PSBB, kelar. Indonesia bakal masuk jurang resesi… (WS)