Dalilah Muhammad, Pendobrak Sejarah Dunia Olahraga AS

Dalilah Muhammad, Pendobrak Sejarah Dunia Olahraga AS

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Dalilah Muhammad mengukir namanya sebagai atlet wanita muslim pendobrak sejarah di dunia olahraga Amerika Serikat.

Dia menjadi satu-satunya atlet perempuan muslim pertama AS yang berhasil meraih emas pada Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil.

Muhammad merupakan satu dari dua atlet muslimat dari Negeri Paman Sam yang berhasil meraih keping medali di Rio de Janeiro. Salah satu perah medali adalah Ibtihaj Muhammad yang mendapat medali perunggu dari cabang olahraga anggar.

Dilansir CNN Indonesia, Dalilah Muhammad mendapatkan emas pada nomor lari gawang 400 meter cabor atletik di Olimpiade 2016. Berkat kesuksesan itu, dia juga tercatat jadi wanita pertama AS yang berhasil memenangkan medali emas Olimpiade di nomor lari gawang 400 meter.

“Rasanya luar biasa menjadi perempuan pertama yang menang di lari gawang Olimpiade. Amerika Serikat punya banyak atlet bagus.”

“Tentu saja menjadi bagian di dalamnya merupakan sebuah kehormatan. Rasanya gila dan sulit dipercaya bisa menang Olimpiade,” kata Muhammad dalam Youtube Team USA, Agustus 2016.

Pada 2019, dia memecahkan rekor dunia atas namanya sendiri pada lari gawang 400 meter pada ajang Kejuaraan Atletik Dunia di Doha. Dia mencatatkan waktu 52,16 detik.

Sukses Muhammad di dunia olahraga, juga mulai menginspirasi para wanita AS lainnya, terutama dari kalangan muslim.

Tak seperti rekannya, Ibtihaj Muhammad, Dalilah Muhammad tidak mengenakan hijab. Keputusannya ini pula yang kerap mengundang komentar orang-orang.

“Banyak orang berkata kepada saya: ‘Kamu bukan muslim stereotipe.’ Namun, banyak sekali muslim dan kami mengekspresikan agama kami dengan jalan berbeda.”

“Mungkin ibu saya takut dengan kondisi ini, apalagi sekarang saya banyak menjadi sorotan publik. Sementara ayah saya tak masalah. Dia ingin dunia melihat para muslim dengan beragam perbedaan. Mereka beragam tapi punya keyakinan yang sama,” ucap Muhammad kepada Guardian.

Muhammad merupakan salah satu potret dari muslimat moderat di AS. Lebih tepatnya, dia menyebut sebagai muslimat liberal. Sang ayah, Askia, merupakan salah satu imam masjid di kampung halamannya di Queens.

Menjadi atlet muslimat di AS dirasakannya cukup berat. Dia harus bekerja dua kali lipat lebih keras ketimbang atlet-atlet kompatriotnya yang lain.

Dia bercerita pernah kesulitan karena nama yang disandangnya tersebut. Nama itu kerap menjadi stigma bagi orang-orang non-muslim ketika dia bepergian ke luar negeri.

“Salah satu perwakilan sponsor saya di Nike, sempat khawatir saya bepergian [ke luar negeri] hanya karena nama saya.”

“Itu juga membuat saya sedikit cemas karena saya sering bepergian. Menyandang nama Muhammad memang sedikit membuat saya takut,” ujar wanita 30 tahun itu.

Kini dia merasa bisa lebih vokal dalam menyuarakan identitas sebagai muslim perempuan setelah namanya tenar.

Muhammad saat ini mengaku pandemi virus corona membuat dia menjalani bulan Ramadhan lebih khusyuk. Selama wabah Covid-19, Olimpiade 2020 di Tokyo diundur tahun depan. Persiapan yang dia lakukan pun juga ikut molor.

Meski demikian, dia mencoba melihat sisi positif dengan situasi sulit saat ini. Setidaknya, dia senang bisa berpuasa secara penuh selama Ramadan.

Sebelumnya dia kerap kesulitan untuk berpuasa selama menjalani aktivitas berat persiapannya sebagai atlet lari gawang.

“Saya menggunakan kesempatan ini untuk lebih sering berpuasa ketimbang yang normalnya saya lakukan. Jujur saja, saya sangat kesulitan berpuasa selama menjalani latihan berat.”

“Sebelumnya saya tidak pernah puasa sebulan penuh dan kali ini saya berjanji pada diri saya untuk berpuasa sebulan penuh. Saya bisa melakukannya selama latihan saya sekarang tidak berat,” ujar Muhammad dikutip dari CNN.