Catatan dari Senayan

Cukup Sudah Kesabaran untuk KKB Papua

Cukup Sudah Kesabaran untuk KKB Papua
Kekejaman KKB Papua

KEKEJAMAN Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua sudah kelewatan. Mereka melakukan penyerangan ke Puskesmas Kiwirok, Kabupaten  Pegunungan Bintang. Setelah  membunuh  dan membuang jenazah Suster Gabriella Melanie, seorang tenaga kesehatan Puskesmas di Distrik Kiwirok ke jurang  sedalam 30 meter. Tidak berhenti di situ. Pratu Ida Bagus  Putu,  anggota TNI yang  mengamankan evakuasi nakes  pun gugur, mereka tembak. 

Sudah terlalu banyak kejahatan yang dilakukan KKB di Papua. Korbannya dari masyarakat biasa, guru,  TNI-Polri, hingga tenaga kesehatan. Pada  8 April 2021 teroris KKB di Kabupaten Puncak menembak mati seorang guru bernama Oktavianus Rayo dan juga membakar tiga sekolah di Kabupaten Puncak. Pada 9 April 2021, seorang guru SMP, Yonathan Randen,  kembali ditembak mati di Kabupaten Puncak. 

Menyusul tewas ditembaknya  Udin,  pengemudi ojek bernama  di area Pasar Ilaga, Puncak, pada 14 April 2021. Sehari sesudahnya KKB kembali menembak mati  Ali Mom,  pelajar SMA di Kabupaten Puncak. Sebelumnya  Kepala BIN Daerah Papua Brigjen TNI Putu I Gusti Putu Danny Nugraha turut menjadi korban kebiadaban akibat ditembak oleh teroris KKB

Rentetan peristiwa berdarah yang mengakibatkan sejumlah nyawa melayang di Tanah Papua akibat ulah kelompok teroris bersenjata Papua itu tak ayal mengundang kecemasan banyak pihak. Banyak pihak bersuara keras mengecam terhadap perilaku di luar kemanusiaan yang ditunjukkan KKB ini. Ada Ketua MPR, Sekjen PP Muhammadiyah, kalangan DPR, pengamat,  parpol dan ormas,  mengutuk keras aksi brutal KKB.   Umumnya mereka meminta aparat keamanan bertindak tegas dan keras terhadap mereka. Sudah cukup kesabaran aparat selama ini. Jika tenaga kesehatan perempuan, guru, pelajar, tukang ojek, sampai aparat yang tengah mengevakuasi korban keganasan KKB dibunuh, rasanya tak perlu lagi menghadapi mereka dengan lunak. mesti dengan represi yang seimbang. KKB harus dilumpuhkan. Dari soso hukum dan kemanusiaan tidak bisa lagi diberi toleransi.
 
Ketua MPR Bambang Soesatyo tak bisa menahan geram.  "Sekali lagi saya tegaskan, sikat habis (KKB di Papua), urusan HAM kita bicarakan kemudian, jangan ragu bertindak hanya karena persoalan HAM. Utamakan keselamatan rakyat Indonesia," ujarnya. Bambang Soesatyo cukup mewakili suara-suara masyarakat. 

Bahwa selama ini kita selalu ditakut-takuti dengan sorotan dunia tidak adanya perlindungan hak asasi manusia (HAM) di bumi Papua. Mereka tidak memperoleh informasi senyatanya dari kondisi di Papua. Sayangnya saudara-saudara kita para pegiat HAM tidak memberikan gambaran senyatanya tentang Papua. Mereka sering mencampuradukkan penanganan Papua keseluruhan dengan berbagai aksi kriminal seperti KKB ini. Ini sebenarnya masalah yang terpisah. Penanganan Papua secara keseluruhan sudah dan terus dilakukan pemerintah dengan berbagai pendekatan struktural, legal, dan kultural. 

Diberlakukannya otonomi khusus, diberikannya Dana Alokasi Khusus (DAK), dibangunnya infrastrktur bernilai triliunan rupiah, diberikan kesempatan kepada putra daerah untuk memimpin pemerintahan, pemberlakuan harga bahan bakar yang sama, dan lainnya. Semuanya merupakan bagian dari pembangunan Papua secara komprehensif. 

Persoalan KKB adalah persoalan tersendiri. Mereka terus melakukan tindakan teror,  pembunuhan, pengancaman, provokasi, dan perusakan terhadap fasilitas umum, adalah tindakan yang tidak dapat ditoleransi. Papua menjadi bagian dari negara hukum dan NKRI. Jika mereka melakukan tindakan yang melawan hukum dan kemanusiaan mesti ada penyelesaian sepadan.  Toleransi, kesempatan,  dan penyadaran  sudah cukup lama diberikan.  Korban harta dan nyawa pun tak sedikit. Maka "memberantas habis" adalah kata yang tepat. Jika tidak, akan sangat mengganggu kehidupan dan pembangunan di Papua khususnya dan Indonesia pada umumnya, TNI dan Polri tak perlu ragu.