Mengintip Khazanah Intelektual Ulama

Cinta di Mata Seorang Ulama Kondang

Cinta di Mata Seorang Ulama Kondang
Ahmad Rofi’ Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

"ANDAI saja Cak Prof. Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi mau menulis  mengenai cinta. Atau, setidaknya, menuturkan kisah cintanya!”

 Entah kenapa, ide demikian tiba-tiba “melenting” dalam benak saya. Beberapa hari yang lalu. Saat itu, saya sedang “menimang-nimang” dan menyimak sebuah buku terbitan Kuwait. Buku itu mengenai cinta. Ya, mengenai “cinta dalam heritage pikiran Arab”, alias Al-Hub fi Al-Turâts Al-‘Arabî.  Sebuah buku tebal yang ditulis seorang profesor asal Mesir ini, Prof. Dr. Muhammad Hassan Abdullah, memaparkan pikiran dan kisah sederet cinta dalam heritage tersebut.

 Ide itu, ternyata, “melenting” dengan kuatnya: membayangkan kiai kondang pengasuh sebuah pondok modern besar di Ponorogo, Jawa Timur itu sedang asyik menuturkan kisah cintanya. Namun, ide “bengal” demikian segera saya buang. Jauh. Saya sadar: kiai yang meraih gelar Ph.Dnya mengenai pikiran Ibn Taimiyyah itu, kemungkinan besar, enggan membahas mengenai cinta. Ini sebagaimana tampak dari jawaban singkatnya, “syukran”, ketika hal itu saya kemukakan kepadanya.

Sebagai ganti Cak Amal, kini, saya mencoba menghadirkan pandangan seorang ulama kondang yang murid Ibn Taimiyyah, Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, mengenai cinta. Ulama kondang pada abad ke-8 H/14 M itu adalah seorang ahli fikih kondang  pada abad ke-8 H/14 M.  Nama lengkapnya adalah  Syamsuddin Abu ‘Abdullah Muhammad  bin Abu Bakar bin Ayyub bin Sa‘ad bin Al-Harits  Al-Zar‘i Al-Dimasqi. Karena ayahnya adalah seorang kurator (qayyim) Perguruan Jauziyyah  di  Damaskus,  Suriah ia  pun lebih  terkenal  dengan sebutan  Ibn Al-Qayyim (Putra Sang Penilik Sekolah). 

Nah, pandangan mengenai cinta tersebut  dituangkan seorang ulama kondang penganut Mazhab Hanbali itu dalam sebuah karyanya, Raudhah Al-Muhibbîn wa Nuzhah Al-Musytâqîn.  “Dengan cinta dan demi cinta, langit dan bumi ada. Karena  cinta pulalah makhluk-makhluk diciptakan. Dan, dengan cinta pulalah bintang-bintang beredar,  gerakan  sampai pada tujuannya, dan permulaannya bertaut dengan ujungnya. Dengan cinta pula, jiwa berhasil meraih keinginannya dan melepaskan diri dari kendala-kendalanya,” demikian ungkap Ibn Qayyim Al-Jauziyyah mengenai cinta.

Cinta, menurut murid kinasih Ibn Taimiyyah ini, dengan demikian, menduduki posisi tinggi. Mungkin, idenya tersebut terpengaruh oleh berbagai pendapat kaum sufi. Namun, ia juga berpendapat, cinta merupakan pemicu kecemburuan dan kebencian.  Ya, pemicu kecemburuan dan kebencian. Duh. Tulis sang ulama, “Cinta merupakan gerakan jiwa orang yang sedang dimabuk cinta terhadap kekasihnya.” Dengan kata lain, cinta merupakan gerakan yang  diwarnai dengan kegelisahan. Jelas, ini berbeda dengan pendapat Empedocles. Menurut seorang pemikir Yunani itu, ketika cinta sedang menguasai pikiran dan hati seseorang, dalam diri orang itu akan timbul suasana hati yang tenang dan damai. Sedangkan bila kebencian yang sedang membakarnya, timbullah aneka ragam pikiran yang bergolak keras.

Melambungkan atau Merusak?

Kini, mengapa tumbuh perasaan cinta?

Menurut ulama yang lahir Ia lahir  di Damaskus, Suriah,  pada Selasa, 7 Shafar 691 H/29 Januari 1292 M, ini ada tiga penyebabnya. Pertama, karakter dan perilaku yang dimiliki seseoranglah yang membuat ia dicintai kekasihnya. Kedua, perhatian sang kekasih terhadap karakter dan perilaku tersebut. Ketiga, pertautan antara seseorang yang sedang jauh cinta dengan orang yang dicintainya. Pertautan itulah yang menjadi pengikat hati di antara keduanya.

Nah, bisa  saja kecantikan atau ketampanan yang dimiliki seseorang biasa-biasa saja. Katakanlah, nilainya hanya enam dari sepuluh. Namun, dalam pandangan seseorang yang sedang jatuh cinta kepadanya, orang yang ia cintai tampak sangat keren. Ini karena cinta dapat membuat seseorang lupa daratan. Duh! Bagi seseorang  yang sedang terbuai cinta, “orang yang dicintai adalah orang yang paling cantik atau keren.” Demikian pendapat Ibn Qayyim Al-Jauziyyah. Ya, pendapat Ibn Qayyim Al-Jauziyyah.

Sebaliknya, bisa saja seseorang memiliki kecantikan atau ketampanan yang luar biasa. Namun, ada orang yang tidak merasakan getaran dari kecantikan atau ketampanan itu. Tiadanya getaran itu membuat pemicu cinta terhadap orang yang cantik atau keren itu memudar. Menurut Ibn Qayyim Al-Jauziyyah,  inilah di antara hal-hal yang membuat dibolehkannya seseorang yang akan meminang seorang cewek untuk melihat wajah cewek itu.  Dengan hal tersebut diharapkan, akan timbul cinta dan kasih sayang di antara keduanya.

 Pertautan jiwa antara antara seseorang yang sedang jatuh cinta dan orang yang ia cintai merupakan pemicu paling kuat cinta. Menurut ulama yang satu ini, ada dua macam pertautan jiwa. Yaitu pertautan jiwa internal dan pertautan jiwa eksternal. Pertautan jiwa yang pertama timbul karena adanya kesamaan beberapa tabiat. Sehingga, kemudian, di antara kedua belah pihak terjadi saling ketertarikan satu sama lain. Terjadinya ketertarikan ini sendiri sulit diuraikan penyebabnya. Pertautan jiwa ini, malah, antara lain, dapat dijadikan penjelas mengapa ketampanan atau kecantikan tidak selalu membuat timbulnya perasaan cinta dalam hati orang lain. Dari sini Ibn Qayyim Al-Jauziyyah berpendapat, dengan mengutip pendapat Muhammad bin Daud Al-Zhahiri, dalam karyanya berjudul Al-Zahrah, “Cinta merupakan cermin bagi seseorang yang sedang jatuh cinta. Untuk mengetahui tabiat dan kelemahlembutan dirinya dalam citra kekasihnya. Ini karena, sejatinya, ia tidak jatuh cinta kecuali terhadap dirinya sendiri.”

 Pertautan jiwa yang kedua timbul karena ada suatu maksud dan menghilang karena tiadanya maksud tersebut. Contohnya, untuk menyakiti orang yang dicintai. Komentar Ibn Qayyim Al-Jauziyyah tentang hal itu, “Dalam hati seseorang berpadu antara perasaan ingin menyakiti, membenci, dan mencintai seseorang yang  ia cintai." 

Kini, kita beralih mengenai hubungan antara hubungan intim dan cinta. Ada yang berpendapat, adanya hubungan yang semacam itu, yang dilakukan sebelum pernikahan, membuat perasaan cinta kian membara. Sebaliknya, ada yang berpendapat, hubungan intim merusak cinta. Di antara alasan yang dikemukakan pihak terakhir adalah hubungan intim merupakan tujuan dari cinta. Karena itu, selama orang yang jatuh cinta tetap mengharapkannya,  cinta akan tetap terpancang kuat. Dengan tercapainya tujuan tersebut, tuntutannya pun mereda dan gejolak cintanya melemah. Ini seperti halnya keadaan yang sedang dialami seseorang yang sedang mengharapkan sesuatu. Contoh, orang yang kehausan ketika telah minum atau orang yang kelaparan ketika telah kenyang kembali. Alasan lainnya, yang dikemukakan pihak ini, adalah pemicu  cinta berada dalam pikiran: kian kuat pikiran seseorang, kian dalam pula cintanya. Namun, selepas cinta itu tercapai, pikiran itu pun sirna.

Nah, kini, bagaimana pendapat Ibn Qayyim Al-Jauziyyah mengenai hal itu?

“Hubungan intim (tanpa pernikahan),” tulis Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, “adalah terlarang dan merusak cinta. Malah, cinta di antara keduanya akan berakhir dengan sikap saling membenci dan bermusuhan. Sedangkan hubungan intim yang diperkenankan Islam akan membuat cinta kian terpancang dalam bila seiring dengan keinginan orang yang jatuh cinta. Sebab, bila ia telah merasakan kelezatannya dan cita rasanya, tentu akan timbul keinginan lain yang tidak diperoleh sebelum merasakannya.”

Pendapat Ibn Qayyim Al-Jauziyyah tersebut mirip dengan pendapat Sigmud Freud, seorang tokoh psikoanalis abad ke-20. Menurut Freud, cinta merupakan dorongan seksual  yang tertunda. Karena itu, pemenuhan atas dorongan tersebut dapat mengancam kelangsungan cinta, selama tidak terdapat faktor-faktor lain yang dapat memelihara hubungan tersebut. Contohnya, pernikahan yang melahirkan anak-anak dan menumbuhkan hubungan sosial.

Dialog antara Mata dan Hati

Lebih lanjut Ibn Qayyim Al-Jauziyyah berpendapat, kecantikan atau ketampanan tidak selalu berbentuk kecantikan atau ketampanan fisik semata. Dalam hal ini, menurut ia, terdapat ketampanan atau kecantikan fisik atau batin.  Kecantikan atau ketampanan batin, contohnya, adalah kecantikan atau ketampanan akhlak. Dalam kaitannya dengan cinta, Ibn Qayyim Al-Jauziyyah mengakui, kecantikan atau ketampanan fisiklah yang kerap kali yang pertama-tama mengobarkan gelegak cinta. Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, dalam paparannya mengenai hal itu, menyajikan kisah dialog menawan anatara mata dan hati.

Seperti diketahui, matalah yang menikmati kelezatan memandang sesuatu.  Sedangkan hati atau kalbu yang menikmati keberhasilan dalam meraih sesuatu. Karena itu, keduanya merupakan mitra dalam mengumbar atau meredam nafsu. Nah, suatu ketika, mata dan hati terjebak dalam derita yang dalam dan lama. Karena itu, keduanya saling menyalahkan pihak yang lain.

“Mata! Kaulah yang membuat aku kini mengalami kehancuran seperti ini!”  bentak hati.  Sangat galak. “Kau pulalah  yang membuat aku mengalami derita luar biasa. Seperti ini.  Ini akibat kerlinganmu pada seseorang  yang sangat menggoda dan memesona. Karena itu, hentikanlah kerlinganmu. Yang sakit itu!”

“Hati! Sejatinya, kaulah membuat aku menderita begini!” jawab mata. Tak kalah garang. “Karena itu, kaulah yang akan menanggung dosa-dosaku. Lahir dan batin. Bukankah aku ini hanya utusanmu. Utusanmu yang patuh melaksanakan segala perintahmu dan sebagai tukang penunjuk jalan saja. Kau adalah penguasa yang ditaati. Sedangkan aku hanyalah sebagai serdadu dan pengikutmu saja!”

Mendengar dan menyimak perselisihan yang sengit antara mata dan hati, juga karena tidak kuat menahan diri, jantung akhirnya ikut nimbrung, “Mata dan hati! Kalian berdua saling bergandeng tangan dalam membuat aku binasa. Juga, kalian berdua saling menolong dalam membuat aku mati. Karena itu, akulah yang paling patut memberikan keputusan terhadap kalian berdua. Kalian berdua sama-sama merasakan penderitaan. Demikian pula halnya dalam mereguk kenikmatan, kalian berdua juga saling merasakannya. Matalah yang merasakan kenikmatan. Sedangkan hati yang berangan-angan dan memiliki sederet keinginan!”

Dalam dialog tersebut, sejatinya, terkandung persoalan: boleh atau tidaknya memandang kecantikan atau ketampanan yang menawan hati. Menurut pendapat yang membolehkan, pandangan terhadap kecantikan atau ketampanan akan membangkitkan ucapan yang luhur, “Mahasuci Allah (Subhânallâh)!”  Dia tidak menciptakan keindahan ini sia-sia. Namun, keindahan ini menunjukkan kekuasaan-Nya, keesaan-Nya, dan keindahan ciptaan-Nya!”

Lebih jauh, mereka juga mengemukakan sebuah hadis, “Suatu hari, salah seorang sahabat hendak menikah dengan seorang cewek yang hanya ia kenal namanya. Ketika orang menghadap kepada Nabi Saw., beliau bertanya, ‘Pernahkah engkau melihatnya?’  ‘Belum,’ jawab orang itu. Beliau pun berpesan kepada orang itu, ‘Pergilah ke rumahnya. Lihatlah ia.’ Berdasarkan hadis tersebut, mereka berpendapat, andai melihat kecantikan atau ketampanan seseorang tidak dipernankan, tentu beliau tidak memerintahkan untuk melihat cewek tersebut.

Kini, bagaimana pandangan Ibn Qayyim Al-Jauziyyah terhadap persoalan terakhir tersebut?

Sikap Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, sebagai seorang ahli fikih murid Ibn Taimiyyah yang puritan,  kali ini muncul kembali, “Perintah Nabi Saw. untuk melihat cewek itu merupakan penglihatan karena suatu keperluan. Penglihatan tersebut diperkenankan karena adanya kepentingan. Seperti diketahui, pandangan yang diperkenankan beragam. Salah satunya adalah pandangan yang seperti itu. Hal ini berbeda dengan pandangan terhadap sesuatu yang tidak diperkenankan.” 

Cinta Tidak Terbagi-Bagi

Apakah cinta tumbuh atas kehendak sendiri atau di luar kehendak?

Berkenaan dengan persoalan ini terjadi perbedaan pendapat. Ada yang berpendapat, cinta tumbuh bukan atas kehendak sendiri. Ini bak kerinduan seseorang yang sangat kehausan pada air. Di sisi lain, ada yang berpendapat, cinta timbul dan tumbuh berkembang atas upaya diri sendiri. Perasaan cinta ini timbul sesuai dengan keinginan dan kehendak jiwa. Sebab, cinta merupakan gerakan jiwa, atas kehendaknya sendiri, terhadap yang ia cintai. Dengan kata lain, cinta bukan merupakan gerak yang berada di luar kehendak seseorang.

Mengenai persoalan tersebut, ulama yang memiliki banyak murid dan juga  seorang penulis  yang produktif dalam berbagai bidang ini, seperti yang kerap ia lakukan, tampil sebagai penengah. Menurut ia, pada awalnya cinta timbul dan tumbuh atas upaya diri sendiri. Sebab, renungan, pikiran, dan tindakan yang membuat seseorang terpanah cinta merupakan tindakan atas keputusan diri. Namun, apa yang timbul dari tindakan tersebut menjadi  hal yang berada di luar kehendak diri. Ibn Qayyim Al-Jauziyyah lantas mengumpamakan seseorang yang sedang jatuh cinta dengan seseorang yang sedang menenggak minuman keras. Menurut ia, tindakan seseorang yang  menenggak minuman keras merupakan tindakan atas kehendak diri sendiri. Namun, akibat yang timbul  dari minum tersebut di luar kehendak diri.

Ternyata, sikap Ibn Qayyim Al-Jauziyyah dalam hal tersebut kurang konsisten. Dengan kata lain, dalam persoalan: seseorang yang tanpa sengaja memandang seorang cewek cantik dan tiba-tiba dalam hatinya tumbuh perasaan cinta terhadap cewek itu. Di sini Ibn Qayyim Al-Jauziyyah berpendapat:  memang ada  cinta yang berada di luar  kehendak diri dan tumbuh sejak pandangan pertama tanpa sengaja dan tanpa pikiran apapun sebelumnya.

Lebih jauh Ibn Qayyim Al-Jauziyyah memaparkan, cinta mengharuskan seseorang yang  sedang terpanah cinta untuk mengkhususkan cintanya kepada orang yang dicintainya. Juga, seyogianya ia tidak “menyekutukan” cintanya kepada kekasih dengan yang lain. Dengan kata lain, tidak berselingkuh. “Cinta tidak dapat dibagi-bagi secara adil!” pesannya. Prinsip ketunggalan cinta tersebut diterapkan Ibn Qayyim Al-Jauziyyah atas cinta kepada Allah Swt. Tulisnya, “Dalam hati seseorang tidak mungkin terdapat dua cinta. Demikian halnya, di langit pun tidak terdapat dua Tuhan!”

Di sini, tampak pengaruh konsep tauhid atas  ide cinta menurut Ibn Qayyim Al-Jauziyyah.  Pengaruh itu tampak lebih gamblang pada pendapatnya berikut, “Rasulullah Saw. mencintai istri-istri beliau. Di antara mereka, ‘A’isyah binti Abu Bakar Al-Shiddiqlah yang paling beliau cintai.  Beliau juga mencintai ayah ‘A’isyah dan juga mencintai  ‘Umar bin Al-Khaththab. Dalam hal ini, cinta beliau bertingkat-tingkat. Meski adanya cinta beliau terhadap mereka semua, namun cinta beliau sepenuhnya tertuju kepada Allah Swt. dan cinta beliau yang paling dalam pun juga hanya tertuju kepada-Nya!”

Demikian itulah sekelumit pandangan ulama kondang yang berpulang ke hadirat Allah di kota kelahirannya, pada Ahad, 23 Rajab 751 H/26 September 1350 M, mengenai cinta. Nah, bila saat ini Anda sedang jatuh cinta, luangkanlah waktu Anda sejenak untuk menyimak karya tebalnya tersebut mengenai cinta! Oh ya,  jangan lupa pula simak opus magnum, karya puncak, mengenai cinta Ibn Hazm, Thauq Al-Hamâmah, dan karya Joseph N. Bell, Love Theory in Later Hanbalite Islam!

 Silakan!