Catatan dari Senayan

Cinta dan Pemberontakan Antara Sukarno dan Suharto

JAKARTA tahun 1966. Bukan hanya putaran roda, kini pusingan roda gila. Memporak-porandakan nasib manusia. Baru beberapa bulan yang lalu rapat-rapat raksasa memuja-muja Presiden Sukarno. Kini arus berbalik. Demonstrasi menghujat menuntut agar Sukarno diadili. Di mana berada penghujat ini sebelumnya? Seperti tiba-tiba muncul. Rasa-rasanya semua orang di Jakarta adalah pendukung revolusi, pendukung Sukarno, ‘pejah gesang nderek Bung Karno‘. Begitu ramai setiap kali berlangsung rapat raksasa. Semua orang penuh semangat untuk ikut sebagai sukarelawan untuk Ganyang Malaysia. Kini semua sudah berubah.”

Kutipan di atas bukan dari buku atau tulisan tentang sejarah. Kalimat-kalimat pendek dalam satu alinea panjang itu muncul dari penggalan sebuah novel, berada di bagian akhir karya Ashadi Siregar. Novel yang menggambarkan satu kondisi dari gerakan PRRI di bagian utara Sumatera.

Ashadi tidak berpretensi menulis sejarah. Tapi sejarah adalah sebuah fakta yang hanya sering ditulis hitam putih, tanpa warna, tanpa latar belakang sosio kuktural. Juga tanpa pemaknaan yang komprehensif. Maka dalam novel ini dibalik fakta sejarah sebagai setting waktu yang membuat cerita fiksi itu mempunyai pijakan.

Dengan paduan antara fiksi dan fakta yang unik Ashadi berkesempatan memasukkan nilai-nilai kearifan manusia, penghormatan terhadap adat, kesetiaan, kejujuran, juga pengingkaran, pemberontakan, kerakusan, dan kesombongan. Semuanya diaduk-aduk sang penulis novel dengan baik dan memikat.

Bahwa korupsi dan komersialisasi jabatan itu sesungguhnya bukan barang baru. Praktik backing dan surat katabelece juga sudah dipraktikkan sejak dulu. Bahwa cuaca politik bisa berubah sontak. Bahwa Bung Karno yang semula disanjung bisa dengan cepat dijungkalkan.

Ashadi Siregar sudah berusia 72 tahun lebih. Tapi energinya luar biasa
Ia masih bersemangat menulis novel setebal 434 halaman. Dan novel itu bukan sembarang novel yang ditulis sambil lalu, novel yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia itu berkisah tentang anak yang tercerabut dari akar tradisi dan adat karena kondisi. Istri sahnya dan anak kandungnga pun dicampakkan dan tak diurus selamanya.

Akhirnya isteri yang mencoba setia demi penghormatan terhadap adat itu harus berjuang keras membesarkan anaknya salam kesulitan. Akibatnya perjalanan seorang anak manusia –Tondi dalam kisah itu— terombang ambing, terpaksa berpetualang dalam cinta, karir dan menolak kehadiran ayah kandungnya.

Di sini Ashadi banyak memperkaya pemahaman kita tentang budaya dan tradisi Batak tanpa terkeasan menggurui. Istilah-istilah Batak muncul dalam jalinan cerita. Keindahan daratan Toba, lebatnya rimba Sumatera Utara bagian selatan hingga Bukit Tinggi dideskripsikan dengan detil, menarik dan tidak klise.

Adegan percintaan, perselingkuhan juga digambarkan dengan wajar dan halus. Antara lain adegan seks Tondi dan Habibah di kursi paling belakang bus dan kisah pengantin di kebun kopi. Alhasil pembaca novel ini dibawa le suasana di sekitar gerakan PRRI antara tahun 1957 hingga jatuhnya Sukarno dan naiknya Soeharto di tahun 1966. Sukarno dan orang-orangnya ditangkap termasuk Brigjen Pardomutua, ayah Tondi.

Ada banyak pesan moral dalam buku bersampul merah itu. Seperti Ki Dalang dalam wayang kulit sejumlah anak manusia diperjalankan pada orbit dan nasib masing-masing.
PRRI itu sejatinya pemberontakan macam apa juga disinggung di sini. “Novel Menolak Ayah” terasa lebih kuat dan kaya dibandingkan novel-novel Ashadi sebelumnya seperti “Cintaku di Kampus Biru”, “Kugapai Cintamu”, dan “Sunyi Nirmala.”

“Kemampuan mendeskripsikan sesuatu, Ashadi telah melampui novelis dunia Ernest Hamengway atau novelis Indonesia Motinggo Busye,” kata Martin Aleida, seorang sastrawan yang akhir pekan lalu membedah buku itu bersama Budiawan dari Fakuktas ilmu Budaya UGM di Rumah Budaya Tembi, Yogyakarta.

Ini memang novel yang digarap sangat serius setelah 30 tahun Ashadi absen dari menulis. “Pakai riset segala” kata penulisnya. Horas Bah!

Salam.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close