Chris, Bung Karno dan Ibu Tien

Chris, Bung Karno dan Ibu Tien
Christianto Wibisono

Oleh: Banjar Chaeruddin

SELAIN EKONOM Dr Sjahrir dan Dr Rizal Ramli, Christianto Wibisono adalah pengamat yang sering mengirim tulisan untuk dimuat Bisnis Indonesia. Pokok bahasannya tidak terbatas masalah ekonomi bisnis, bahkan lebih sering sosial dan politik. Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI) itu sebelumnya sudah populer lewat serial

"Wawancara Imajiner dengan Bung Karno" yang dimuat sebuah koran ternama di Jakarta.

Sebagai Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia, ketika itu, saya dengan senang hati memberinya "kapling". Saya juga minta Mas Chris mengisi kolom di Bisnis Indonesia edisi Minggu, yang belum lama terbit dan tampil lebih berwarna ketimbang koran induknya. Ia diberi kebebasan mengekspresikan pandangan dan pemikirannya mengenai berbagai masalah sosial politik di dalam negeri. Hingga suatu hari di penghujung April 1996. Sabtu siang itu saya tidak ngantor. Bisnis Indonesia edisi Minggu dipantau oleh Sjarifuddin, yang ketika itu, kalau saya tidak salah ingat, salah satu Redaktur Pelaksana. Siang itu telpon rumah berdering. Saya angkat dan terdengar suara Sjarifuddin.

"Mas, ini tulisan Christianto Wibisono, bagaimana ya," suara Sjarifuddin agak bergetar.

"Tentang apa sih?"

"Ini Wawancara Imajiner Bung Karno dengan Ibu Tien Soeharto," kata Sjarifuddin.

Wah......, menarik nih. Waktu itu Ibu Tien Soeharto baru saja meninggal dunia.

Zaman itu saya masih belum akrab dengan email. Handphone pun hanya bisa untuk telpon dan kirim sms. Saya minta Sjarifuddin membacakan isi tulisan Christianto. Saya mendengarkannya melalui telepon. Isinya, kira-kira, obrolan Bung Karno dengan Bu Tien di alam baka sana. Tentang Indonesia mutakhir, juga Pak Harto dan kekuasaannya. Mungkin kekhawatiran saya berlebihan. Tapi saya terbayang wajah Pak Sukamdani Sahid

Gitosardjono, Pemimpin Umum Bisnis Indonesia. Beliau dikenal sangat dekat dengan keluarga Cendana. Saya menduga beliau tidak akan suka dengan tulisan itu. Saya pernah beberapa tahun sebelumnya, mendampingi Pak Sukamdani memenuhi panggilan Menteri Kehakiman Ismail

Saleh, yang tersinggung oleh sebuah tulisan di Bisnis. Ketika itu memang serba sensitif. Kalau sekarang sih, tidak ada apa-apanya. Karenanya, sedikit banyak saya paham apa yang dalam benak Pak Sukamdani. Saya juga pikir tidaklah pantas mempergunjing tokoh-tokoh terhormat yang sudah meninggal. Apalagi, Bu Tien itu ningrat Jawa yang sangat dihormati. Apalagi, Pak Harto ketika itu dalam puncak kekuasaan yang sangat kuat.

Saya siang itu minta Sjarifuddin mencabut tulisan Chris. Saya kemudian menelpon Christianto, mohon pengertiannya, Bisnis Indonesia tidak bisa menurunkan tulisannya. Ia, tentu saja, menggerutu. Tak apalah........

Beberapa tahun kemudian, setelah ia kembali dari AS, saya masih sesekali bertemu. Terakhir ia hadir dan berbicara dalam sebuah diskusi di kantor Lembaga Indonesia Tiongkok (LIT). Pembawaannya tetap santai, tapi pemikirannya sangat tajam, gaya bicaranya lugas. Ceplas-ceplos seperti dulu. Sejak itu saya tidak pernah jumpa dia lagi. Saya mendengar dia sakit dan Kamis (22/7) saya cukup kaget mendengar dia meninggal dunia.

Selamat jalan mas Chris..

* Banjar Chairuddin, wartawan senior, mantan Pemimpin Redaksi Harian Bisnis Indonesia, Jakarta.