Lintas Daerah

Cegah Kebakaran Hutan, KLHK Rekayasa Hujan di Lahan Gambut Riau

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Untuk mencegah kebakaran lahan gambut di Provinsi Riau, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan rekayasa hujan  meski di tengah suasana Hari Raya Idul Fitri. Upaya itu dilakukan bersama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), TNI AU, dan mitra kerja melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).

“Tim tetap bekerja di Hari Raya dengan melakukan satu sorti penerbangan. Adapun target penyemaian di Kabupaten Bengkalis, Siak dan Kepulauan Meranti, menghabiskan 800 kg garam NaCl,” ungkap Direktur pengendalian Karhutla KLHK Basar Manullang dalam keterangan tertulisnya yang diterima SINDOnews, Senin (25/5/2020).

Rekayasa hujan ini dilakukan merespons rekomendasi dari BMKG dan BPPT terkait masih adanya potensi awan hujan di atas wilayah langit Riau. Jika pelaksanaan rekayasa hujan ditunda, jadwal pelaksanaan bisa bergeser lebih lama. Sementara, wilayah Sumatera Selatan menjadi target rekayasa berikutnya.

“Sebagaimana arahan Ibu Menteri, rekayasa hujan ini sangat penting artinya guna membasahi gambut, mengisi kanal dan embung, karena sebentar lagi kita akan memasuki musim kering. Mudah-mudahan dengan upaya ini kita bisa mencegah kebakaran hutan dan lahan berskala besar,” kata Basar.

Sejak dimulainya operasi TMC pada 13 Mei lalu, hingga tanggal 24 Mei, telah dilakukan 10 sorti penerbangan dengan total bahan semai NaCl 8 ton di wilayah Provinsi Riau. TMC berhasil menghasilkan hujan di wilayah Kota Pekanbaru, Siak, Kuala Kampar, Sei Pakning, Kandis dan Sedinginan.

“Sejak dimulainya operasi rekayasa hujan 14 Mei hingga 24 Mei, tercatat total volume air hujan secara kumulatif diperkirakan mencapai 33,1 juta meter kubik,” ungkapnya.

Berdasarkan prediksi BMKG, musim panas diprediksi mencapai puncaknya pada periode Juni hingga Agustus. Rekayasa hujan melalui TMC dilakukan KLHK karena melihat mayoritas Titik Pemantauan Tinggi Muka Air Tanah (TP-TMAT) lahan gambut di Provinsi Riau, telah menunjukkan pada level waspada.

“Kita syukuri rekayasa hujan beberapa hari ini telah menambah tinggi muka air tanah gambut di Riau untuk mencegah terjadinya karhutla. Kalaupun masih terjadi, mudah-mudahan pasokan air ini cukup untuk mengisi embung dan kanal guna membantu tim darat melakukan pemadaman,” imbuh dia.

Basar memaparkan, KLHK memprioritaskan rekayasa hujan pada berbagai lokasi di provinsi yang sangat rawan karhutla seperti Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Rekayasa hujan dilakukan dengan pesawat Casa A-2107 milik TNI AU yang membawa garam dan menyemainya di sekitar awan hujan dengan ketinggian sekitar 10.000-12.000 feet.

Sementara itu, Menteri LHK Siti Nurbaya mengapresiasi seluruh tim yang masih tetap bekerja di saat Lebaran. Ia berharap upaya itu mampu mencegah kebakaran lahan di musim kemarau nanti.

“Terima kasih pada dedikasi tim yang luar biasa. Tetap jaga keselamatan. Saya mendoakan semoga kerja terbaik bagi bangsa ini membawa manfaat bagi masyarakat, terutama di daerah rawan karhutla,” kata Siti.

Dalam waktu dekat, Siti akan meminta kalangan dunia usaha melakukan transfer teknologi pemantauan Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) gambut pada kelompok masyarakat. Sebab, banyak lahan HTI, HGU, bahkan lahan masyarakat berada di Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) yang harus dijaga.

Setelah kejadian 2015, setiap konsesi yang berada di KHG diwajibkan memiliki Titik Pemantauan Tinggi Muka Air Tanah (TP-TMAT). Hal itu untuk memastikan kebasahan gambut berada pada batas aman.

Saat ini, ada lebih dari 10.690 TP-TMAT di 280 perusahaan yang memiliki tanggung jawab menjaga dan memulihkan ekosistem gambut. “Transfer teknologi ini sangat penting artinya untuk upaya mencegah karhutla sejak dini karena gambut yang kering rentan terbakar, dan bila sudah terbakar sangat sulit dipadamkan,” terang Siti.

Upaya rekayasa hujan yang dilakukan KLHK ini juga dibarengi dengan upaya tim satgas karhutla di darat, yang terus melakukan berbagai upaya pencegahan dengan melakukan monitoring titik panas (hotspot) dan ground check.

Berdasarkan data satelit, jumlah hotspot di Provinsi Riau pada 1 Januari-20 Mei 2020 mencapai 271 titik. Jumlah ini menurun bila dibandingkan pada periode sama tahun lalu dengan total 503 titik.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close