Opini

Catatan Tercecer dari Tanah Suci (3-Habis): Suasana Indonesia di Balad, Bakso Mang Udin Mendunia

KALAU rindu Indonesia di Tanah Suci, datang saja ke Mall Croniche atau yang lebih dikenal dengan Pasar Balad, mall tua di Kota Jeddah. Di pasar besar itu mirip Pasar Tanah Abang atau pertokoan Glodog di Jakarta. Semua barang dan makanan yang anda cari pasti ditemukan. Aneka barang dagangan mulai dari bermacam souvenir sampai aneka jenis dan merk pakaian tersedia di sini.

Letaknya di dekat Pelabuhan Jeddah di tepi Laut Merah. Di depan Balad tersedia lapangan parkir cukup luas. Puluhan bus dan mobil-mobil rental maupun pribadi berderet mengantar-jemput para pembelanja.

Ustad Muafi, pembimbing umroh dari ESQ berseloroh, ” Tawaf wada’ terakhir nanti kita laksanakan di Balad. Tentu bukan tawaf dalam arti sesungguhnya. Tapi jemaah haji dan umroh Indonesia yang ke situ umumnya akan mengelilingi pertokoan di Balad itu bagaikan melaksanakan tawaf.

Wada’ artinya pamitan. Jadi tawaf wada’ adalah tawaf untuk pamit meninggalkan Mekah sebelum balik ke negara masing-masing. Keluar dari Balad biasanya jemaah Indonesia menambah satu koper untuk membawa belanjaannya.

Dulu sebelum Kota Mekah ditata, beberapa tahun yang lalu, pusat perbelanjaan jemaah Indonesia di “Pasar Seng”, ada di sekitar Masjidil Haram. Setelah Pasar Seng digusur pertokoan dan hotel-hotel modern jemaah kita beralih ke Balad.

Memang daya tarik Pasar Balad bagi jemaah Indonesia luar biasa. Begitu memasuki kawasan ini tulisan-tulisan di depan toko berbahasa Indonesia. Para pelayan toko umumnya asal Indonesia. Cara mereka menyapa samgat familier.

Puluhan kios menggunakan nama Indonesia, seperti ‘Toko Ali Murah’, ‘Sultan Murah’, ‘Nur Murah’, ‘Amir Murah’, ‘Kamal Murah’ dan toko-toko lain dengan embel-embel ‘murah’ di belakangnya. Walaupun kalau tidak pandai-pandai menawar harga-harga barang di toko “murah” itu tidak selalu murah.

“Cari apa Pak, Bu, silakan pilih di sini,” ucap mereka dengan ramah.

Tawar menawar pun biasa berlangsung cair. Kalau tidak membawa uang riyal, uang rupiah atau dolar Amerika pun diterima. Tapi dolar Singapura kurang diterima.

“Maaf kami tidak paham uang Singapura,” seorang pelayan toko beralasan.

Barang-narang mulai dari kaos oblong sampai baju dan tas bermerk mudah didapat di Balad dengan harga miring. Hal ini karena kebijakan free tax yang diterapkan oleh Pemerintah Saudi.

Tidak hanya pakaian dan tas yang mudah didapat di Balad. Makanan dan minuman ala Indonrsia pun gampang ditemui. Beberaoa langkah dari pintu masuk Balad sudah menghadang Bakso Mang Udin. Di dalam resto itu tidak hanya dijual bakso. Ada gado-gado, siomai, mi ayam, nasi goreng, es cendol, dan lainnya.

Saya mencoba mencicipi bakso bersama istri. Sementara anak saya memesan semangkuk mi ayam ditambah 3 gelas es Kami dilayani dengan cepat. Walhasil semua makanan dan minuman itu cukup kami membayar 50 riyal atau sekitar 200 ribu rupiah. Tidak terlalu mahal untuk ukuran harga di Jeddah.

“Es tehnya juga enak,” kata istri saya.

Bukan hanya jemaah Indonesia yang berjejal di Bakso Mang Udin. Saya lihat jemaah lain dari Malaysia, Brunei Darussalam dan beberapa tamu dari negara Eropa berada di situ. Rupanya Bakso Mang Udin sudah mendunia.

Di dekat Bakso Mang Udin ada warung makan Indonesia lainnya, bahkan agak jauh di belakang tampak tulisan Mat’am atau Rumah Makan Garuda yang di Jakarta dan Medan sangat terkenal dengan masakan Padang itu.

Di Jeddah sesungguhnya banyak mall-besar lainnya. Pasar Balad hanyalah salah satunya dan merupakan pasar yang tergolong kuno dibandingkan dengan puluhan mall besar lainnya. Sebut saja beberapa mall besar dan modern seperti “Red Sea Mall”, “Aziz Mall”, “Flamingo Mall”, “Andalus Mall”, “Salam Mall”. Maklumlah Jeddah adalah kota kedua terbesar di Saudi setelah Kota Riyadh, ibukota negeri Petro Dollar itu. Tetapi untuk masyarakat Indonesia semuanya tak mampu mengalahkan daya tarik Pasar Balad. Yaitu tadi karena nuansanya yang kental dengan Indonesia.

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close