Opini

Catatan Tercecer dari Tanah Suci (2): Solidaritas Antarbangsa di Dua Masjid Bertabur Pahala

MENGUNJUNGI negeri mana pun kalau sudah empat sampai lima kali rasanya sudah puas, bahkan mungkin sudah bosan. Tapi berkunjung ke Tanah Suci, Mekah dan Medinah, walaupun belasan kali, rasanya tak ada bosan-bosannya. Ingin datang dan datang lagi. Selalu ada kerinduan untuk kembali.

Secara lahiriah apanya sih yang menarik dari Tanah Haram itu? Di sebagian besar waktu sepanjang tahun kawasan di Arab Saudi selalu panas kerontang. Kadang suhu bisa sangat panas menyengat mencapai 50 derajat Celcius di tengah udara kering dan berdebu.

Begitu mendarat di bandara, layanan imigrasi di Bandara King Abdul Aziz Jeddah atau di Bandara Pangeran Muhammad bin Abdul Aziz di Medinah juga kurang nyaman. Tidak seperti lazimnya di bandara internasional lainnya. Bisa sekitar dua jam hanya urusan imigrasi dan pengambilan bagasi. Demikian juga layanan hotel pun sering mengecewakan. Proses check in bisa lebih dari satu jam. Walaupun demikian, orang tetap merindukan pelukan hangat bumi Mekah dan Medinah. Merindukan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Masjid Nabawi dirindukan karena suasananya yang teduh, hening, dan menenteramkan. Siapa pun yang masuk ke dalam masjid besar itu akan merasa terayomi. Suara azan dan imam shalat yang merdu dan tartil sangat menyejukkan. Karpet-karpet tebal terhampar, ornamen indah di interior masjid berpadu dengan semilirnya embusan sejuk AC yang bertiup dari setiap pangkal pilar-pilar besar berwarna emas. Karena masjid model tertutup maka kesejukan tetap terjaga berapa pun lama kita berada di dalam masjid. Di luar masjid masih dalam satu kompleks ada Roudloh, taman surga, dan makam Rasulullah Muhammad SAW. Semuanya menjadi daya tarik tersendiri.

Sementara di halaman masjid payung-payung raksasa bermekaran indah dipadu dengan blower besar bersemprotan air siap mengusir panas dan menaungi jemaah yang tidak kebagian tempat di dalam masjid dari sengatan matahari.

Kondisi ini kontras dengan suasana di dalam Masjidil Haram. Masjid yang di dalamnya ada Ka’bah Baitullah itu terbuka, tak sesejuk Mesjid Nabawi. Di Masjidil Haram kesibukan terjadi hampir sepanjang waktu. Kaum muslimin datang dan pergi silih berganti, hilir mudik antara tempat thawaf dan lokasi sa’i. Tak pernah sepi dari kalimat talbiyah dan kalimah-kalimah thayyibah lainnya. Memang ada AC dan kipas angin tapi tak mampu sepenuhnya menyejukkan karena konsekuensi model mesjid yang terbuka.

Apalagi beberapa tahun terakhir ini renovasi masjid berlangsung tiada henti. Siang malam pekerja terus menimbulkan suara-suara bising. Ada suara gemuruh gergaji mesin, pusingan alat bor, berputarnya gerinda, ketok ketok palu menancapkan paku, dan sebagainya. Semuanya berbaur dengan gema talbiyah, takbir, dan tahmid yang terucap tulus dalam berbagai dialek.

Tapi siapa pun tak peduli dengan ketidaknyamanan secara lahiriah. Yang terpenting hadirnya ketenteraman batiniyah ketika berada di Masjidil Haram. Berbaur dengan ribuan umat Islam yang datang dari berbagai belahan dunia. Warna kulit, bahasa, dan pakaian bisa berbeda-beda, tapi mereka dipersatukan dengan kerinduan dan pengharapan yang sama untuk memenuhi panggilan ilahiah.

Terlebih ketika thawaf mengitar ka’bah dan sa’i berjalan antara Shafa dan Marwa, doa yang dipanjatkan sama. Di sudut ka’bah semua padu menyeru: “Bismillahi Allahu Akbar,” seolah melupakan asal usul, bangsa, ras, dan warna kulit.

Daya tarik Masjidil Haram dijanjikan Rasulullah berupa pahala yang berlimpah. Sabda Nabi: “Shalat di mesjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di mesjid lainnya selain Masjidil Haram. Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah).

Di saat thawaf dan sa’i apabila ada yang kehausan dengan mudah botol minuman disorongkan. Bila ada yang membutuhkan tempat shalat, shaf segera dikosongkan. Saling menolong, mudah berbagi.

Ketika keluar dari konpleks masjid berpapasan dengan sesama muslim dari bangsa lain indah rasanya saling bersapa, “Indonesi?” sapa mereka dengan ramah. “Yes. Alhamdulillah,” jawab kami dengan gembira.

Semangat “Almu’minuuna ikhwatun. Faashlihu baina akhawaikum. Wattaqullaha la’allakum turhamuun.” (Sesungguhnya (sesama) mu’min itu bersaudara, maka sambunglah (tali silaturahim) antara saudara-saudaramu. Bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapatkan kasih sayang-Nya) dalam Al-Qur’an Alhujurat ayat 10 menautkan persaudaraan sesama muslim.

Persoalan politik, ekonomi, dan sosial di dalam negeri dilupakan. Demikian pula perbedaan pandangan. Kita menghadap kiblat yang sama, minum air yang sama, menghirup udara yang sama, dan mengagungkan Tuhan yang sama: “Allahu Akbar walillahilhamd.”

Apalagi jika para jemaah dari mana pun asalnya mampu menghayati perjuangan Nabi Muhammad SAW di Kota Medinah yang berupaya hidup berdampingan secara damai dengan nonmuslim melalui “Piagam Medinah” yang monumental dan inspiratif itu akan terjalin solidaritas sesama warga dunia. (bersambung) (AF)

BACA TULISAN SEBELUMNYA: Catatan Tercecer dari Tanah Suci (1): Pengembangan Kota Mekah yang Wah, Antara Manfaat dan Mudharat

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close