Opini

Catatan Tercecer dari Tanah Suci (1): Pengembangan Kota Mekah yang Wah, Antara Manfaat dan Mudharat

EMPAT tahun tidak berkunjung ke Haramain, Kota Mekah dan Medinah, rasanya sangat banyak yang berubah. Terutama di Kota Mekah atau Almakkatul Mukarromah, bangunan-bangunan baru hotel dan pertokoan yang menjulang terkesan menutupi kemegahan Masjidil Haram.

Yang menarik, tahun depan, jemaah haji dan umroh dari Medinah ke Mekah atau sebaliknya tak perlu berjam-jam berkendara di jalan raya, tengah disiapkan angkutan kereta listrik yang waktu tempuh hanya 1,5 sampai 2 jam. Pembangunannya hampir rampung.

Proyek pembangunan jalur Kereta Api Al-Haramain yang menghubungkan kota suci Mekah dan Madinah melalui Jeddah sejauh sekitar 450 km itu akan menghabiskan biaya sekitar 16,5 miliar dolar Amerika atau sekitar Rp 220 Triliun.

Khusus menjelang puncak haji, 9 Zulhijah, disediakan MRT antara Mekah dan Arafah. Ini untuk menghindari kemacetan parah seperti yang terjadi setiap akhir musim haji saat jemaah menuju Arafah. Maklum pada tanggal itu dua juta lebih jemaah dari seluruh dunia bergerak dari Mekah menuju titik yang sama Padang Arafah, tempat diselenggarakannya wukuf pada tanggal 10 Zulhijah. Ini bagian dari proyek kereta metropolitan Mekah.

Masjidil Haram, pusat ritual haji dan umroh dan di situ Ka’bah kiblat seluruh Muslim di dunia berada dikepung dengan bangunan-bangunan jangkung di sekitarnya, puncaknya Menara Zamzam yang menjulang. Tidak jauh dari Masjid akbar itu tengah dibangun hotel terbesar di dunia, Abraj Kudai.

Bangunan Abraj Kudai akan memiliki 45 lantai yang menjulang ke langit di atas padang pasir Mekah. Hotel mewah berbintang lima itu menyediakan 10.000 kamar tidur dan 70 restoran. Hotel ini juga memiliki lima lantai khusus yang digunakan untuk satu-satunya keluarga kerajaan Saudi senilai 2,3 miliar poundsterling (Rp 48,6 triliun).

Bangunan ini bermodel benteng padang pasir tradisional, terdiri atas 12 menara di atas podium 10 lantai, yang merupakan tempat stasiun bus, pusat perbelanjaan, pusat kuliner, pusat konferensi, dan ruang serbaguna.

Terletak di distrik Manafia, lebih dari satu mil dari selatan Masjidil Haram, kompleks mewah itu didanai oleh Departemen Keuangan Saudi dan dirancang oleh kelompok Dar Al-Handasah, konglomerat konstruksi global.

“Kota Mekkah berubah seperti Manhattan. Semuanya telah tersapu untuk membuat jalan bagi gencarnya hotel mewah, yang menghancurkan kesucian tempat dan keluar dari patokan harga bagi peziarah yang normal,” kritik Irfan Al-Alawi, Direktur Islamic Heritage Research Foundation, yang berbasis di Inggris.

Hotel Abraj Kudai sendiri memiliki tinggi 600 meter dan memproyeksikan pesona hijau laser pada malam hari. Hotel ini berada di sebuah lahan, tempat Benteng Ottoman pernah berdiri dan diruntuhkan.

Banyak kritik terhadap metropolisasi Mekah. Hotel Abraj Kudai hanya satu contoh. Sebelumnya kita sudah terkesima dengan berdirinya Menara Abraj Albait atau Maķkah Royal Clock Tower, bangunan setinggi 601 meter, tertinggi kedua di dunia setelah Burj Khalifa di Dubai. Dibangun sejak 2004 dan dibuka pada 2012 bangunan yang berada di pinggir halaman Masjidil Haram ini lebih besar dari jam besar di London yangbdikebal dengan “Big Ben”. Bangunan perhotelan yang berbiaya 15 miliar dollar Amerika itu mampu menampung 10.000 orang tak luput dari kritik tajam masyarakat muslim sendiri lantaran “menenggelamkan” kemegahan Masjidil Haram. Orang Indonesia menyebut bangunan serba wah itu dengan Menara Zamzam.

Ambisi mengembangkan Mekah dengan mengorbankan nilai-nilai estetika dan kesejarahan di sana memang membuat Kota Mekah terkesan kehilangan identitas. Rasanya sulit mencari jejak keberadaan kediaman Rasulullah dan tempat beliau dilahirkan.

Sekumuh-kumuhnya Pasar Seng, misalnya, pada selalu dikenang jemaah Indonesia yang biasa berbelanja di sana. Tapi ketika pasar itu tergusur oleh bangunan mewah, banyak yang merasa kehilangan. Walaupun di sisi lain mesti dimaklumi pasar itu tak layak untuk sebuah kota masa kini.

Semuanya memang menjadi hak Kerajaan Arab Saudi. Tentu ini juga secara tak langsung akan menaikkan biaya akomodasi jemaah haji dan umroh selama tinggal di Kota Suci itu. Tarif hotel naik sejalan dengan naiknya kelas hotel. Apalagi Pemerintah Saudi mulai gemar memungut pajak, tidak seperti dulu yang konsisten menerapkan kebijakan free tax. Jika dulu banyak jemaah asal Indonesia menikmati harga barang murah di Mekah, kini hampir tak ada bedanya dengan harga barang di Jakarta atau kota-kota lain di dunia.

Jika pembangunan sarana infrastruktur berupa terobosan MRT Mekah-Medinah dan kereta rel jalur Mekah-Arafah bermanfaat untuk kelancaran para jemaah dalam menjalani ritual ibadah, pembangunan gedung-gedung jangkung rasanya lebih banyak mudharatnya, menyangkut estetika maupun nilai kesejarahan. Seolah kaum muslim berbondong ke Mekah untuk menikmati fasilitas modern kelas dunia.

Meskipun banyak kritik atas pengembangan Mekah yang metropolis, banyak juga yang mengagumi. Tak ada orang yang tak tergoda untuk berfoto bersama di halaman “Menara Zamzam” itu. Menginap di kompleks itu, misalnya, menjadi kebanggaan tersendiri bagi para jemaah haji atau umrah. Kadang melupakan bahwa haji dan umrah adalah panggilan Illahi.

Labbaik Allahumma labbaik, laabaika laa syarikalaka labbaik“.

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close