Features

Catatan Ketua Umum PKPI Diaz Hendropriyono: Balaroa Hati Bergetar, Sibalaya Senyum Mengembang

REDAKSI — Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) Diaz Hendropriyono, Minggu (14/10/2018) kemarin berada di Sulawesi Tengah untuk mendampingi Tim Penanggulangan Bencana Nasional (PBN) PKPI yang sudah dua pekan membantu masyarakat korban bencana likuifaksi, gempa dan tsunami di Palu, Donggala, dan Sigi. Selama sehari penuh berada di lokasi megabencana, Diaz mengaku perasaannya bergolak; hatinya bergetar ketika menginjak tanah yang menelan kampung dan mengubur ribuan warga, termasuk kader PKPI. Ikut sumringah ketika berada di tengah anak-anak dan balita yang menyambutnya dengan senyum mengembang. Berikut kisahnya;

Pukul 06:15
Pagi ini saya bersama rombongan pengurus dan relawan PKPI mendarat di Bandara SIS Al Jufri Palu. Saya perlu menyaksikan dan mendampingi langsung Tim Penanggulangan Bencana PKPI yang sudah dua pekan sejak bencana terjadi, bekerja melayani para pengungsi korban bencana liquifaksi, gempa dan tsunami; memberikan bantuan-bantuan yang mendesak dan sangat dibutuhkan seperti makanan dan kebutuhan harian lainnya. Saya perlu mengecek kebutuhan para pengungsi dan memastikan bantuan sampai dengan tepat waktu. Saya perlu berdialog dengan para pengungsi; bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak-anak, untuk membangkitkan harapan para orang tua, pemuda, dan remaja. Untuk menghibur anak-anak.

Mereka tak hanya membutuhkan sembako untuk bertahan hidup, tapi juga memerlukan dukungan dan motivasi untuk bangkit. Usai membongkar bagasi yang berisi puluhan paket bantuan dan memindahkannya ke mobil yang telah disiapkan, kami bergegas sarapan bersama relawan. Kemudian kami langsung bergerak ke lokasi bencana liquifaksi di Desa Balaroa, dengan perjalanan darat selama sekitar 30 menit.

Pukul 08:30
Kami berdiri di atas bentangan tanah rata dan luas di Balaroa. Perkampungan warga yang sekejap hilang ditelan bumi, diperkirakan menimbun sekitar 3.000 kepala keluarga atau kurang lebih 9.000 jiwa. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saya terdiam. Sejenak larut dalam kesedihan. Terlebih di antara ribuan warga yang hilang itu terdapat sejumlah kader PKPI.

Lalu, dengan aba-aba, saya mengajak para pengurus dan relawan PKPI untuk menundukkan kepala dan menengadahkan tangan, berdoa bersama memohon kepada Allah SWT: semoga warga Balaroa yang meninggal dunia akibat bencana liqukifaksi diterima Allah SWT dengan khusnul khotimah. Semoga keluarga yang ditinggalkan dimudahkan untuk bertahan hidup dan bangkit kembali. Berdiri di Balaroa selama sekitar 40 menit, hati saya bergetar. Rombongan kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju Pantai Talise.

Pukul 09:15
Kami ke Pantai Talise yang tersapu tsunami. Sedih menyaksikan tidak ada kehidupan di sana. Pantai yang indah, beserta kampung nelayan dan perahu-perahunya, semua lenyap diterjang tsunami. Demikian itulah jika Allah sudah berkehendak. Kami melanjutkan perjalanan ke Patebo, lokasi likufaksi kedua, dengan perjalanan darat selama 25 menit.

Jam 10:30
Berada di Patebo, sepintas saya merasa hampa ketika berjalan di jalan yang kosong. Memikirkan mimpi-mimpi indah ribuan anak-anak, para pemuda, dan keluarga-keluarga, yang ikut terpendam ditelan bumi. Kami kembali menggelar doa bersama dengan berdiri tegak lurus meghadap langit sambil membayangkan betapa dahsyatnya liquifaksi yang menimbun sekitar 3500 warga Desa Patebo.

“Ya Allah, ampunilah warga Desa Patebo yang wafat. Berilah mereka tempat terbaik di sisi-Mu. Limpahkan kekuatan bagi keluarga-keluarga yang ditinggalkan.” Setelah 40 menit di Patebo, kami kemudian bergerak ke titik bencana liquifaksi yang ketiga dan terparah, yakni di Sigi, dengan perjalanan darat sekitar 30 menit. Lalu, terus bergerak ke Posko PKPI di Sibalaya Utara dengan perjalanan darat 10 menit.

Pukul 11:45
Tiba di Posko PKPI Peduli Palu di Kantor Camat Tanah Mbulawa, Jalan Poros Palu Kulawi Desa Sibalaya Utara. Saya begitu terkejut ketika disambut anak-anak. Dari raut wajah mereka saya menyaksikan senyum yang mengembang dan gelak tawa.

Anak-anak ini mungkin baru saja kehilangan orang tua, saudara laki-laki, saudara perempuan, tetangga, teman-teman terbaik mereka. Mereka mungkin kehilangan rumah mereka. Tidak bisa memiliki kamar tidur sendiri seperti dulu. Tidak dapat pergi ke “warung,” atau taman bermain favorit mereka. Tidak ada sekolah yang harus dituju. Mushala tempat mereka bisa berdoa. Semua itu mungkin telah dihancurkan. Hal yang paling menyedihkan, mereka mungkin tidak mendapatkan kembali hal-hal itu, hilang selamanya. Namun, mereka masih bisa tersenyum ketika kami datang. Saya terheran-heran,bagaimana mereka melakukannya?

Ditemani anak-anak itu, saya berkeliling dari tenda ke tenda menyapa pengungsi. Di sini saya begitu terenyuh menyaksikan bayi manis berusia 10 hari yang lahir 4 Oktober lalu. Ketika saya gendong, bayi itu begitu tenang dan nyaman. Seolah berada dalam pelukan ayahnya. Saya bersyukur bayi ini ikut selamat.

Ketua Umum PKPI, Diaz Hendropriyono, menggendong bayi berumur 10 hari di tenda pengungsian

Ceritanya saat terjadi bencana, sang ibu yang sedang hamil berlari kencang untuk menghindar. Setelah kehilangan rumah, akhirnya beliau tinggal di penampungan dan melahirkan bayi ini. Alhamdulilah kita membawa cukup banyak dus yang berisi diapers, pakaian, dan sedikit makanan bayi. Semoga berguna sedikit banyaknya. Bantu atau berikan sesuatu kepada mereka yang membutuhkan, sekecil apa pun. Anda tidak akan pernah tahu betapa besar artinya bantuan itu bagi mereka.

Lalu saya meninjau dapur umum yang melayani kurang lebih 902 jiwa pengungsi. Di sini saya mengamati langsung bagaimana para relawan PKPI memasak dan membungkus nasi untuk 902 jiwa pengunsi. Membagikan ribuan nasi bungkus itu setiap hari dan sehari dua kali. Setiap masak butuh waktu 5 jam. Tidur di atas terpal dengan lalat yang cukup banyak. Masak dan tidur di tempat yang sama.

Dapur umum untuk 902 jiwa pengungsi

Saya mengajak anak-anak, keluarga-keluarga pengungsi, dan relawan makan bersama. Kami duduk lesehan di atas tikar. Setiap orang bersama-sama membuka nasi bungkus. Nasi dengan lauk terong dan tempe. Bagi kita barangkali makanan yang sangat sederhana dan terkesan begitu biasa. Namun untuk anak yang duduk di sebelah saya, semua anak dan keluarga mereka di pengungsian, nasi bungkus itu sangat luar biasa.

Ketua Umum PKPI sedang santap siang lesehan bersama pengungsi

Saya mengucap syukur dalam hati berkali-kali setiap kali menyaksikan orang-orang yang berhasil menghabiskan makanannya tanpa sisa dalam tempo singkat. Saya merasa berharga ketika melihat keberadaan para relawan PKPI sangat diharapkan warga di pengungsian.

Kegiatan masak-memasak di Posko PKPI ditangani oleh 15 chef profesional. Mereka adalah kader PKPI yang kami berangkatkan sejak terjadinya bencana itu. Perjuangan mereka menuju lokasi bencana begitu luar biasa. Saat itu tidak ada pesawat komersil ke Palu. Jadi mereka berangkat dari Jakarta dan landing di Gorontalo, perjalanan darat 15 jam ke Palu, begitu tiba langsung berkoordinasi dengan BNPB dan mencari titik yang paling memungkinkan untuk membuka dapur umum. Mereka melayani kebutuhan makanan dan minuman para pengungsi di tengah serangkaian gempa-gempa kecil yang masih terus terjadi.

15 chef profesional tenaga PBN PKP Indonesia

Saya bangga dengan mereka semua, para chef dan relawan PKPI di lokasi bencana yang dipimpin Kepala Bidang Relawan PBN-PKPI Jodi Ante. Kerja keras dan tulus ikhlas mereka begitu terasa manfaatnya bagi warga pengungsi. Lucunya, waktu ketemu saya, mereka malahan minta penugasannya diperpanjang karena takut tidak ada yang bisa melayani warga di tempat pengungsian.

Jody sempat cerita, ibu-ibu pengungsi sampai histeris begitu Tim PBN-PKPI bisa menyalakan lampu penerangan dan mereka sangat bersyukur karena ada alat penghasil daya listrik melalui genset. Kehadiran genset begitu didambakan karena mereka bisa mengisi baterai ponsel yang sudah hampir seminggu tak bisa dipakai sehingga memungkinkan mereka berkomunikasi dengan keluarga masing masing. Dibantu oleh warga, mereka langsung bekerja sama membereskan berbagai jenis bantuan dan barang bawaan, seperti perlengkapan memasak, sembako, dan bahan makanan lainnya.

Pukul 14:30
Saya bersama rombongan mengunjungi kediaman Ketua DPP PKP Indonesia Sulteng, Haji Ilyas Nawawi, yang kehilangan putra tertua, cucu usia 5 Tahun dan besan akibat bencana tsb. Kami menguatkan hati beliau sekeluarga. Bagaimana pun duka beliau, duka kami juga.

Pukul 18.00
Kami bertolak ke Jakarta.

Alhamdulillah. Melihat kehadiran relawan PKPI begitu dibutuhkan warga pengunsi, kami memutuskan akan terus hadir di Palu, Donggala, dan Sigi sampai batas waktu yang belum ditentukan. Insya Allah kami akan terus menggiatkan Tim Penanggulangan Bencana untuk selalu siaga dan siap jika terjadi bencana. Kami berusaha berbuat yang terbaik untuk warga pengungsi, mencukupi kebutuhan mendasar, menghibur dan menginspirasi mereka untuk bangkit. Terima kasih para relawan PKPI, semoga kerja keras kalian mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Mahakuasa, Allah SWT.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close