Opini

Catatan dari Haramain (6-Habis): Umroh Penuh Makna Bukan Tour Biasa

SETIAP hari dari sejumlah bandar udara besar di Indonesia diberangkatkan ribuan jemaah umroh. Pria dan perempuan berseragam dengan menenteng hand carry yang sama bertuliskan nama penyelenggara umroh adalah ciri rombongan umroh dari Indonesia. Mereka selalu berkelompok dan kompak.

Jemaah umroh Indonesia barangkali terbesar di dunia. Waktu rombongan kami turun di Bandara Prince Muhammad bin Abdul Aziz Medinah, 28 Maret yang lalu misalnya, hampir 80 persen yang antre di Imigrasi berasal dari Indonesia. Demikian pula ketika tiba di kota Medinah jemaah asal Indonesia yang mendominasi.

Suasana All Indonesia juga terasa di Mesjid Nabawi di Medinah dan Masjidil Haram, Mekah. Demikian pula di pusat-pusat perbelanjaan. Dari 10 orang yang saya jumpai 5 orang di antaranya adalah jamaah asal Indonesia. Suasana berbahasa Indonesia memenuhi kota Medinah dan Mekah. Petugas bandara, pelayan hotel, penjaga toko sampai pengemis di berbagai tempat sangat familier dengan bahasa Indonesia.

Kata-kata “sapuluh rial, lima rial, ini murah, tidak mahal, Indonesia bagus,” biasa diucapkan pelayan toko saat melayani pembeli asal Indoneaia. Juga bahasa Indonesia gaya Padang, ” dipilih-dipilih….. dan sebagainya.”

Data di Kemenag pada tahun 2016 pemerintah RI mengeluarkan visa umroh sebanyak 699.6 ribu. Ada peningkatan jumlah visa yang dikeluarkan aecara signifikan pada setiap tahunnya. Data lain menyebut bahwa pada 2016 dari Indonesia berangkat 818 ribu orang. Jumlah itu terus meningkat pada 2017 dan 2018.

Walaupun tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia tergolong rendah saat ini, nyatanya orang yang berangkat umroh terus membludak. Sesuatu yang sesunggunya bisa disebut anomali. Belum pernah terdemgar penelitian, apakah ini suatu indikasi meningkatnya keberagamaan di antara bangsa Indonesia.

Tapi bisa jadi sebagai “kompensasi” karena antrean yang sangat panjang bagi yang ingin berhaji. Mendaftar lewat jalur Kementerian Agama bisa antre antara 8 sampai 35 tahun. Kuota haji yang diberikan pemerintah Saudi tahun 2017 dam 2018 sama, 221 juta orang.

Untuk yang mendaftar melalui travel biro atau yang biasa disebut Haji Plus, rata-rata bisa berangkat dalam 4 sampai 5 tahun. Itu pun harus membayar antara Rp 100 juta sampai Rp 140 juta. Sambil menunggu berangkat haji, banyak di antaranya yang ikut program umroh. Atau sudah perrnah berhaji tapi berhasrat ke Tanah Suci lagi, maka umroh sebagai pilihan praktis, begitu mendaftar langsung bisa berangkat, durasinya pun pendek, cukup 9 atau 12 hari.

Yang patut disyukuri jemaah umroh Indonesia umumnya adalah jemaah yang terurus. Mereka mendapatkan akomodasi yang layak di Tanah Suci, bukan model-model jemaah backpacker seperti jemaah dari beberapa negara si Asia. Walaupun diakui dengan besarnya minat berumroh berbiaya murah, akhir-akhir ini bermunculan perusahaan umroh bermasalah, seperti First Travel, PT SBL, dan Abu Tour yang gagal memberangkatkan puluhan ribu calon jemaah umroh.

Melihat munculnya permasalahan beberapa kasus penyelenggara umroh, Kemenag sudah melakukan langkah penertiban. Antara lain biaya umroh minimal Rp 20 juta dan sejak mendaftar harus ada jaminan bagi calon jemaah bisa berangkat paling lambat 3 bulan sejak mendaftar.

Tapi sebenarnya soal penyelengaraan umroh bukan hanya soal regulasinya, melainkan bagaimana sesungguhnya penyelenggara umron memberikan pelayanan dan program yang baik untuk para jemaahnya.

Banyak di antara ratusan penyelenggara umroh memperlalukan jamaahnya hampir seperti tour biasa. Padahal umroh memiliki sejumlah kekhasan dalam pelaksanaan di lapangan. Misalnya jemaah selain dibimbing untuk menunaikan ritual umroh diantar ke obyek-obyek sejarah dan dijelaskan latar belakang historis obyek-obyek itu secara memadai. Bukan sekadar mengunjungi obyek kemudian foto-foto lalu pergil lagi.

Ada hal lain yang perlu menjadi bahan renungan kita, sesungguhnya dari pengerahan ratusan ribu jemaah umroh ke Tanah Suci sumbangan rakyat Indonesia kepada Arab Saudi sangat besar. Apalagi kalau jumlah itu ditambah dengan 200 ribu jemaah haji. Sedikitnya sejuta jemaah haji+umroh dalam setahun memberikan kontribusi ekonomi kepada pemerintah Indonesia, mulai dari pengurusan paspor dan visa, pembayaran pajak tiket pesawat, airport tax, dan lainnya. Pemerintah Saudi juga menerima banyak devisa dari jemaah, mulai dari biaya visa, naik turunnya pesawat di bandara di Jeddah dan Medinah, biaya akomodasi di Mekah dan Medinah, pembelian barang dan pajak di pertokoan, dan lainnya.

Devisa berjumlah triliunan rupiah akan terus mengalir ke Saudi sejalan dengan terus mengalirnya jemaah umroh kita.

Itulah salah satu berkah dari ibadah umroh. Belum lagi berkah spiritual bagi para jamaah yang tentunya juga berdampak kepada bangsa dan negara.

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close