Opini

Catatan dari Haramain (5): Mendaki Jabal Nur, Napak Tilas “The Wonder Woman” Memotivasi Perjuangan Suami

MALAM cerah. Bulan separuh bersinar terang. Kami meninggalkan Kota Mekah pada dini hari menuju perbukitan, Jabal Nur. Bersama rombongan umroh ESQ kami sengaja napak tilas ke Gua Hira di atas gunung berbatu setinggi 642 meter itu.

Untuk mencapai Gua Hira tidaklah mudah. Harus berjuang keras mendaki dengan rata-rata kemiringan 50an derajat. Pendaki.mesti adu napas dan tidak boleh langsung ke atas. Napas bisa putus. Padahal jalan pendakian jauh lebih baik ketimbang masa lalu. Sudah ada tangga untuk jalan yang melingkar.

Dulu, sekitar 27 tahun yang lalu saya pernah mendaki. Pendakian lewat jalan setapak, tanpa tangga. Karena usia masih muda untuk sampai ke Gua Hira hanya perluwaktu sekitar satu jam. Tadi malam tampak ratusan pendaki selain dari Indonesia juga dari Turki, Tunisia, dan Bangladesh.

Sungguh melelahkan jika sekadar naik tanpa motivasi. Banyak yang terengah-engah, ngos-ngosan Dengan motivasi yang tinggi ingin napak tilas perjuangan Nabi Muhammad SAW, akhirnya dalam tempo sekitar 90 menit rombongan kami berhasil mencapai Gua Hira dan shalat Subuh di sana.

Dari puncak Hira, lampu-lampu kota Mekah tampal berpendar-pendar sangat indah. Menara Zam-zam pun terlihat menjulang tinggi.

 (5): Mendaki Jabal Nur, Napak Tilas "The Wonder Woman" Memotivasi Perjuangan Suami
Pemandangan Kota Mekkah dari atas puncak Jabal Nur (Foto: Imas Senopati/SenayanPost.com)

Berada di atas Jabar Nur atau Gunung Bercahaya tak bisa melepaskan dari konteks kesejarahannya.

Ada dua “aktor” penting dalam peristiwa penyepian ke Gua Hira. Selain Muhammad sendiri ada Siti Khadijah. Peran penting Muhammad sudah pasti dalam gua itu. Tercatat dalam sejarah begitu dramatis ketika beliau menerima wahyu pertama, surat Al Alaq.

Muhammad sengaja berkhalwat di gua itu karena kegelisahan hatinya yang mendalam seorang pemuda menyaksikan kezaliman manusia-manusia di lingkungannya. Pengingkaran kepada Tuhan, pembunuhan bayi-bayi perempuan, dan penzaliman lainnya. Allah menangkap kegelisahan Muhammad. Di puncak gunung dan dalam gua yang sunyi, turunlah wahyu pertama: Iqra” bismi rabbikal ladzii khalaq..”

 (5): Mendaki Jabal Nur, Napak Tilas "The Wonder Woman" Memotivasi Perjuangan Suami
Pemandangan Kota Mekkah dari puncak Jabal nur (Foto: Imas Senopati/SenayanPost.Com)

Bagaimana dengan peran Siti Khadijah? Andai hidup di zaman sekarang, Siti Khadijah layak digelari “The Wonder Woman” isteri Muhammad itu sangat setia kepada sang suami dalam suka dan duka. Kesetiaan itu dibuktikan saat Rasulullah berkhalwat atau menyepi untuk berkontemplasi di Gua Hira, di atas Jabal Nur, sekitar 7 kilometer dari pusat Kota Mekah.

Konon Khadijah berkuda untuk.menuju pendakian. Seelah itu harus mendaki gunung dengan jalur sepanjang sekitar 645 meter.

Dengan membawa makanan dan selimut beberapa hari sekali, dengan kecintaan dan kasih sayang yang mendalam terhadap suami tetcinta, Khadijah tak pernah lelah dan mengeluh.

Kita bayangkan masa itu di sekitar pendakian masih belum ada rumah atau bangunan. Khadijah begitu berani melintas dalam sepi sendiri demi suami.

Pendakian itu sekarang memang bisa dilakukan relatif lebih mudah. Ketika utusan Allah, Malaikat Jibril datang untuk menyampaikan wahyu yang pertama kali, badan Muhammad gemetar, dan hatinya terguncang. “Pada awalnya Nabi Muhammad SAW itu mimpi melihat cahaya putih dari kejauhan. Cahaya itu makin lama makin mendekat hingga masuk ke dalam jiwa Nabi,” ujar Prof Aswadi, guru besar UIN Surabaya dalam suatu kesempatan pada waktu yang lalu.

Khadijahlah satu-satunya orang yang menenangkan Muhammad. Badan suami tercinta diselimuti dan dibisikkan kata-kata untuk menenteramkan hati. Bahwa semuanya menjadi kehendak Allah sebagai keniscayaan. Mesti diterima penuh kepasrahan dan dijalani oleh lelaki pilihan Allah, Muhammad itu.

Khadijah tak ingin suaminya kelaparan di atas gunung. Dalam kondisi tengah hamil, dengan setia dia bersusah payah mengantar makanan dan segala kebutuhan Muhammad, mendaki bukit terjal yang sulit dibayangkan kala itu . Bagi perempuan, mendaki Jabal Nur bukanlah perkara mudah. Tanpa sebuah motivasi yang kuat, mustahil dilakukan.

Begitulah pesan tersirat dari Jabal Al-Nur atau Bukit Nur yang menjadi saksi bisu turunnya wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW.

Tidak dipungkiri, peran utama dalam sejarah Islam setelah tahun 610 Masehi adalah di tangan Rasulullah. Namun, peran Siti Khadijah sebagai isteri sangat memberikan kontribusi yang besar terhadap peradaban Islam.

Pada 1.958 tahun silam, Muhammad kerap menyendiri menyusul kerisauannya menyaksikan penyimpangan moral yang merebak kala itu. Lokasi yang dijadikan tempat untuk berdiam diri adalah Gua Hira, sebuah tumpukan batu besar yang muat hanya untuk tiga orang dewasa dengan menghadap ke Ka’bah.

“Nah keinginan inilah yang mendorong Siti Khadijah untuk menunjukkan kepedulian kepada suaminya. Apa yang diinginkan suaminya, dalam kondisi yang jauh pun dilakukan,” ujarnya.

Karena keinginan kuat dalam mendampingi dan membantu perjuangan Nabi itulah kemudian Siti Khadijah bisa mendaki bukit terjal. Tidak hanya sebatas menyuplai konsumsi, namun juga yang terpenting memotivasi Muhammad dengan segala kecintaan dan kasih sayangnya.

Lalu apa yang dapat dipetik dari pengalaman mendaki Jabal Nur. Pertama tentu mengetahui menghayati perjuangan berat Muhammad, menjauhkan diri dari keramaian, mencari petunjuk dari Allah apa yang harus diperbuat untuk masyarakat jahiliyah.

Dapat mengetahui tempat turunnya wahyu pertama yang kemudian pada akhirnya dapat mengubah dunia.

Bagi kaum perempuan akan dapat mengambil teladan Khadijah, perempuan tangguh yang sepenuhnya mengabdikan diri untuk perjuangan suami. Sebagai istri yang shalihah, rintangan seberat apa pun mesti diatasi dengan penuh ketulusan. Kisah Khadijah naik turun Jabal Nur sangatlah inspiratif untuk para muslimah. (Bersambung). (AF)

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close