Opini

Catatan dari Haramain (4): Masjidil Haram Masih Berbenah dan Umroh Zaman Now

MEKAH menjelang Subuh. Udara sejuk, semilir angin. Suhu hanya 20 derajat Celcius. Berjalan dari hotel Royal Majestic menuju Masjidill Haram langkah kaki terasa ringan. Subhanallah, jemaah sudah memadati masjid dan pelatarannya.

Bayangam saya meleset. Tadinya saya membayangkan di kompleks Masjidil Haram sudah sempurna. Jamaah umroh bisa menikmati area masjid yang gilar-gilar, luas, dan lega. Para tamu Allah tak lagi terhambat dalam menjalani prosesi thawaf, sa’i dan ibadah lainnya. Nyatanya pembenahan masjid terbesar di dunia itu masih terus berlangsung. Akses masuk masjid pun melingkar-lingkar.

Kunjungan terakhir saya ke sini empat tahun yang lalu. Kali ini di 1 April 2018 masih mendapati kondisi masjid disibukkan pengerjaan renovasi besar. Di tengah menjalani pr0sesi thawaf dan sa’i masih terdengar suara-suara melalukan aktifitas pembangunan seperti pengelasan atau mengebur. Rasanya kurang nyaman di telinga.

Ada keluhan dari seorang penyelenggara umroh. ”Akibat pembangunan itu, jemaah kami yang menginap di Hotel Grand Zamzam atau ‘Tower Jam Makkah’, tidak bisa langsung masuk ke Masjidil Haram. Kami harus memutar mencari pintu yang lain. Jamaah pun mengeluh suasananya di sekitar hotel masih semrawut,” keluhnya.

Seperti dikutip dari Al Arabiyya, Direktur Proyek tersebut, Sultan Al-Qurashi, mengatakan perluasan benar-benar akan tuntas dalam waktu tiga tahun ke depan. Fase pembangunan terakihir ini akan meliputi tiga babak. Pertama, yang meliputi pembangunan jalur antara Safa menuju gerbang Al-Fatah (Pintu I), Kedua, pembangunan jalur Al Fatah menuju Gerbang Al Umrah, dan ketiga, menuntaskan perluasan proyek pembangunan ‘Raja fahd’ berupa perluasan tempat Sa’i, Al Shafa.

Untuk saat ini proyek perluasaan ‘Mataf’ (area tawaf) sudah selesai. Para jamaah kini lebih leluasa ketika hendak melakukan ibadah tersebut. Kapasitas area tawaf kini bisa menampung 105 ribu orang per jam. Selain di lantai mataf seluruh lantai bangunan masjidil haram pun leluasa dipakai untuk melakukan tawaf. Suasana makin nyaman karena lampu, kipas angin, dan alat pengeras suara yang baru pun sudah terpasang. Suara imam saat shalat maghrib, isya atau subuh terdengan bersih dan enak di telinga.

Umroh Zaman Now

Tapi sudahlah, semua proses pembangunan selalu ada konsekuensi. Terutama bagi mereka yang kurang bersabar. Tidak hanya di Mekah, di Indonesia pun banyak yang nyinyir dan tak puas menyaksikan derap pembangunan. Sebalknya bagi kaum positivis, membangun adalah proses menuju kemajuan.

Seolah tak peduli dengan hambatan akibat renovasi masjid, kami dan rombongan umroh tetap menikmati suasana. Demgan nyaman kami menjalani prosesi thawaf dan sa’i. Melantunkan doa-doa pengharapan, agar mampu meningkatkan kualitas keislaman buat diri dan keluarga. Berbaur dengan berbagai bangsa terasa indah. Dengan penampilan pakaian, lafaz doa yang berbeda-beda, menunjukkan keberagaman yang indah.

Frman Allah dalam Quran Surat Hujurat 13 terpantul dalam suasana thawaf. “Yaa ayyuhannas. nna kholaqnaakum min dzakarin waunstaa, waja’alnaakum minas syuuban waqabaailaa, lita’arafu. Inna akramakum indallahi atqaqum“. Allah menciptakan manusia lelaki dan perempuan, berbangsa-bangsa dan suku bangsa. Itulah sunnatullah.

Para pembimbing umroh dari berbagai rombongan dan bermacam bangsa mandu dengan suara keras. Riuh rendah bersautan. Tak terasa bising karea itu kalimat-thayyibah, mengagungkan Allah dan bershalawat untuk Rasulullah. Dalam keramaian tiba-riba saya tersadar, tengah menikmati teknologi baru.

Pembimbing kami, Ustadz Muafi, tak perlu teriak lantang. Dia dan seluruh anggota rombongan menggunakan TGS (travel guide system). Earphone terpasang di telinga masing-masing. Berlangsunglah prosesi dengan nyaman dan lancar. Subhanallah. Itulah cara baru berumroh zaman now. Memanfaatkan teknologi modern. Kayaknya sepengetahuan saya baru ESQ Travel Biro dari Indonesia yang menggunakannya. (Bersambung).

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close