Opini

Catatan dari Haramain (3): Mengenang Hamzah di Jabal Uhud, Ingat Aksi Anthony Quinn

HARI ketiga di Madinah penyelenggara umroh membawa kami tour wisata sejarah di benerapa tempat. Satu di antaranya Jabal Uhud.

Pembangunan kawasan Bukit Uhud sangat mengesankan. Di perbukitan setinggi 200 meteran itu berdiri sebuah masjid yang eksotis. Kabarnya masjid itu baru diresmikan bulan Ramadhan yang lalu.

Di kaki Uhud dekat tempat parkir sejak dua tahun lalu dibangun hamparan luas yang diplester rapi. Dulu hanya berupa hamparan pasir. Jalan menuju Uhud dari kota Medinah yang berjarak sekitar tujuh kilo meter kini mulus empat lajur, dua di antaranya jalur cepat. Kiri kanan jalan terbangun pertokoan dan perumahan baru. Siapa pun yang lebih dari tiga tahun tidak ke Uhud pasti pangling. Terjadi perubahan yang sangat drastis.

Mengapa kawasan Jabal Uhud dan akses menuju lokasi itu terus dipercantik? Ya karena Perang Uhud yang berlokasi di seputar Jabal Uhud adalah sejarah yang sangat penting dalam perkembangan Islam. Perang Uhud yang terjadi sekitar 1200 tahun yang lalu dengan korban 70 syuhada di kubu pengikut Nabi Muhammad sangat terkenal. Di perang itu tersebutlah nama Hamzah bin Abdul Mutholib yang sangat legendaris itu gugur mengenaskan sebagai syuhada.

Di tengah perang Uhud, dia dibunuh secara keji oleh pembunuh bayaran, seorang budak. Tombak dihunjamkan sang budak menembus dada Hamzah paman nabi itu. Telinganya dipotong, jantungnya pun diambil dan dimakan mentah-mentah oleh Hindun binti Utbah, perempuan yang menyuruh pembunuh bayaran.

Dikisahkan Hindun memendam dendam kesumat terhadap Hamzah. Karena Hamzah yang terkenal dengan julukan Singa Padang Pasir itu telah menghabisi banyak tokoh kafir Quraisy dengan tebasan pedangnya. Satu di antaranya, Utbah, ayah kandung Hindun.

Jemaah umroh ESQ larut dalam kesedihan mendengar kisah Uhud yang dituturkan oleh Ustad Muhammad Romadoni dengan penuh penghayatan dan linangan air mata. Pikiran saya larut ke bayangan tokoh Hamzah melalui sebuah film kolosal yang saya saksikan 40 tahunan yang lalu. Dalam Film The Message produksi 1976, Hamzah diperankan begitu apik oleh Anthony Quinn, aktor Amerika yang sangat terkenal ketika itu. Hindun dimainkan juga sangat mengesankan oleh aktris Irene Papas. Film disutradarai oleh Mpusthapa Akkad dan sangat sukses di pasaran.

Beberapa saat kemudian dari Sutradara yang sama muncul film dengan tema yang sama, produser dan sutradara yang sama, versi Islam berjudul Al-Risalah. semua dialognya berbahasa Arab, Hamzah dimainkan oleh Abdullah Ghoits sedangkan Hindun diperankan oleh aktris Muna Washif. Meskipun nonton kedua film, tapi saya lebih terkesan pada The Message Meski pemeran utamanya Anthony Quinn, bule nonmuslim, dia mampu memahami karakter Hamzah sebagai orang Arab muslim garang yang tak mengenal kompromi dalam membela Islam.

Moustapha Akkad juga berhasil membuat setting masa lalu dengan baik. Setting kota Mekkah sangat detil, ka’bah saat itu belum berkiswah, suasana pasar Mekah pada abad ketujuh yang masih dipenuhi oleh para kabilah dagang. Demikian pula setting kota Medinah juga dibuat sangat teliti. Misalnya Masjid Nabi yang kini terkena megah itu dalam film berdurasi hampir tiga jam itu digambarkan sangat sederhana, atapnya dibuat dari pelepah kurma dan tiang-tiangnya pun dari batang kurma.

Walaupun karena persoalan syariah, figur Nabi Muhammad — yang sesungguhnya sangat berperan dalam Perang Uhud– tidak ditampakkan, film The Message menurut saya cukup sukses mendeskripsikan Perang Uhud beserta latar sejarahnya. Film ini sebenarnya tidak khusus menggambarkan Perang Uhud, juga ada Perang Badar dan kisah perjalanan Rasulullah lainnya.

Ziarah sejarah religi rombongan umroh ESQ ke Jabal Uhud ternyata mambawa kesadaran para jemaahnya bahwa mereka sesungguhnya berutang sangat banyak kepada para syuhada yang gugur dalam Perang Uhud, utamanya kepada Hamzah bin Abdul Mutholib, paman Muhammad SAW. Kisah Perang Uhud lalu menjadi bahan perbincangan menarik di antara para jemaah umroh dan pembimbing di sepanjang perjalanan pulang ke hotel.

Ketika bersama jemaah umroh mengunjungi obyek wisata ziarah lainnya seperti Pasar Kurma dan Masjid Quba, bayangan Perang Uhud, 70 syahid dan Hamzah sulit dilupakan. Baru tersentak saat menuju Masjid Nabawi dalam keadaan jemaah membludak tidak hanya dalam masjid tapi halaman masjid dan emperan toko di sebetang jalan sekitar masjid penuh sesak. Tak sejengkal tempat pun yang tak terisi manusia. Subhanaĺlah. (Bersambung).

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close