Opini

Catatan dari Haramain (2): Berjejal di Roudloh Menggapai Syafaat

SUARA azan berkumandang dari masjid Nabawi, nyaring dengan irama khas Madinah. Rasanya belum waktunya Subuh. “Ya belum Subuh Itu azan pertama. Sejam lagi baru azan Subuh. Azan pertama tanpa bacaan Asshalatu khairum miinan naum,” kata Ustadz Muafi, pembimbing umroh rombongan kami.

Kami yang sudah siap di lobi hotel begitu mendengar azan pertama langsung bergegas ke Masjid Nabawi. Udara pagi lumayan sejuk, sekitar 22 derajat Celcius.

Kaget dan kagum rasanya saat melihat dari kejauhan halaman masjid sudah tersusun rapi bersaf-saf ribuan jemaah menunggu shalat Subuh. Mereka diterangi cahaya lampu, terang benderang, entah berapa ribu kilowatt listrik yang digunakan untuk penerangan di halaman masjid itu.

Di dalam masjid sudah disesaki puluhan ribu umat Islam dari berbagai belahan dunia. Padahal kapasitas masjid kalau musim haji bisa mencapaj sejuta orang. Artinya, hari-hari ini Masjid Nabi sedang padat tamu. Hotel-hotel dan pertokoan pun tampak penuh.

Harus diakui suasana beribàdah di Masjid Nabawi selalu lebih baik dibanding kondisi beberapa tahun sebelumnya. Masjid yang didirikan Nabi Muhammad pada 622 Masehi itu tampak siap melayani kehadiraan ratusan ribu jemaah.

Seluruh kompleks masjid seluas 68.000 m2 itu dimanfaatkan dengan sangat baik. Ratusan payung raksasa dipasang di seluruh halaman masjid. Saat jelang Subuh rombongan kami memasuki kompleks Masjid payung-payung masih tertutup, tapi begitu keluar masjid, terlihat payung-payung bermekara begitu indahmya.

Dari masing-masing pangkal payung dua kipas mengembuskan semilir udara sejuk dengan semprotan uap air. Sungguh nyaman melintas di bawahnya.

Kesejukan itu lebih terasa pada siang harinya saat rombongan kami melintas menuju Roudloh, “Taman Surga” untuk berdoa di sana. Seolah kami terlindungi dan terayomi payung-payung besar itu menuju taman yang di dalamnya ada terdapat kediaman Nabi Muhammad SAW dan di area itu pula makam beliau berada. Jejak sejarah yang tak akan terlupakan.

Roudloh artinya taman yang menggambarkan kesejukan dan kenikmatan. Area antara rumah Nabi dan minbar, sebagaimana Sabda Nabi dalam hadis shahih riwayat Bukhari, maa bayna baiti wa mimbari ‘ala haudhi” (antara rumahku dan mimbarku adalah Raudloh, yaitu taman dari surga dan mimbarku di atas kolam). Di antara rumah dan mimbar ini Rasulullah biasa beri’tikaf. Karena itu hampir semua muslim yang berziarah ke Madinah selalu tak melewatkan momentum ke Roudloh ini.

Kami memasuki Roudloh melalui Babussalam, pintu satu. Subhanallah ternyata di dalam sudah berjejal ribuan orang dari berbagai bangsa, ras, dan warna kulit mengantre untuk memasuki kawasan tempat ijabah untuk memanjatkan doa dan shalat sunnnah.

“Assalamu alaika yaa Rasulullah, asalamu alaika yaa Habiballah,” begitu suara pengunjung menyapa dan melaporkan kedatangan mereka dengan tulus. Saya pun menitikkan air mata menyaksikan antusiasme massa muslim ingin menziarahi makam junjungannya. Mereka berharap syafaat Rasulullah di hari Kiamat

Tapi alhamdulillah suasana di sekitar Roudloh kali ini jauh lebih tertib dan khusyuk dibanding lima tahun yang lalu dan sebelumnya saat saya berumrah. Pengunjung masuk bergilir. Setiap giliran hanya sekitar 500 orang diberi waktu berdoa dan shalat di sana rata-rata 15 menit. Sesudah melewati waktu itu para asykar segera mempersilakan berlalu menuju makam Rasulullah untuk lewat dan meninggalkan kawasan Roudloh.

Sekadar membandingkan, pada waktu-waktu sebelumnya, suasana di seputar Roudloh sangat crowded, tak beraturan. Pengunjung dibiarkan berjejalan tanpa ada penggiliran. Siapa yang datang duluan bisa mendominasi, berdoa berjam-jam. Pengunjung lainnya sering tak sempat berdoa khusus maupun shalat karena tak tersedia ruang. Asykar penjaga hanya sibuk mengusiri pengunjung baru. Pengunjung lama biasa menggunakan trik dengan terus shalat agar dapat bertahan dari usiran asykar.

Tampaknya kini ada kebijakan pengelola Masjid Nabawi untuk memberikan keadilan dan kenyamanan bagi para peziarah. Suasana di sekitar masjid dan Roudloh jauh lebih tertib dan teratur dari masa-masa lalu. Payung-payung raksasa di sekitar masjid menjadi simbol keteduhan dan ketertiban umat. (Bersambung). (AF)

BACA JUGA: Catatan dari Haramain (1): Berbondong Berumroh, Rindu Baitullah, Rindu Rasulullah

KOMENTAR
Tags
Show More

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close