Opini

Catatan dari Haramain (1): Berbondong Berumroh, Rindu Baitullah, Rindu Rasulullah

Entah ini umroh saya yang keberapa. Saya lupa menghitung. Pergi beribadah haji atau umroh tak pernah terasa bosan. Rindu Rasulullah dan rindu Baitullah selalu memotivasi saya dan mungkin bagi kaum muslim pada umumnya untuk hadir kembali di Mekah dan Medinah.

Setiap mengunjungi Haramain, dua tanah haram, di telinga saya selalu terngiang pujian yang kami lantunkan di masjid atau surau menjelang shalat Subuh di kampung saya di Jombang waktu masa kecil saya, Makkatun musyarofah, Madinatun munawwaroh. ‘Abdika wa rosulika, wa nabiyyika, nabiyi waummihi.

Yang jelas, umroh saya tetakhir sebelum ini sudah berlangsung lima tahun yang lalu, ketika Masjidil Haram di Mekah mulai dibenahi, bangunan hotel di sekitar Masjid pusat perhatian muslimin sedunia itu dibongkar dan dipugar rata-rata tinggi menjulang. Dari tayangan televisi Masjidil Haram terkesan ditenggelamkan bangunan-bangunan baru.

Saya ingin sekali lagi memenuhi panggilan Allah, Labbaik Allahumma labbaik umrotan! Sambil mencari jawaban atas keingintahuan apa yang terjadi di Mekah setelah lima tahun saya absen. Setelah terjadi berbagai perubahan, termasuk perubahan geopolitik, adanya tuntutan demokratisasi, perubahan terhadap eksistensi perempuan di Saudi, adanya kesadaran internal di Kerajaan Saudi bahwa gerakan Wahabi yang merisaukan dunia Islam itu adalah paham yang keliru. Juga setelah Saudi terlibat langsung dalam ketegangan dengan negeri tetangga sesaudara, Yaman.

Saya ingin mencocokkan antara simpang siur berita yang beredar dan kondisi senyatanya. Maklum sedikit ada guncangan di Saudi selalu menjadi perhatian dunia. Sebagai penjaga dua tanah haram (Hadamul Haramain).
Tentu saja saya tidak berpretensi untuk mendapatkan semua jawaban Itu hanya dalam waktu sekitar 9 hari. Dinamika di negeri yang sangat bersejarah itu sering tak dapat diduga ujungnya. Semuanya bisa berkembang secara asimetris.

Kota Madinah, di sana Nabi, keluarga, dan keempat sahabat utamanya, khulafaur rasyidin (Abu Bakar Asshiddiq, Umar bin Khattab, Utsman Bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib) dimakamkan, konon juga mengalami banyak perubahan fisik dalam 5 tahun terakhir. Terutama Masjid Nabawi yang megah dan meneduhkan jiwa, serta bangunan-bangunan hotel dan pertokoan di sekitarnya.

Maka sebelum keberangkatan ketika travel biro kami, ESQ, mengumunkan akan terbang Jakarta-Madinah, hati saya berdegup. Ini pendaratan saya kali kedua di Bandara Prince Muhammad bin Abdul Aziz sejak pendaratan saya yang pertama 18 tahun yang lalu ketika ikut rombongan Presiden Abdurrahman Wahid tahun 2001, beberapa bulan menjelang beliau lengser dari kursi kepresidenan. Biasanya setiap berumroh saya selalu dibawa mendarat di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah.

Saya akan segera bersua dengan jejak Rasulullah, berziarah ke makam beliau, keluarga dan sahabatnya, menapaki rekam jejak sejarah perjuangan membangun peradaban masyarakat madani. Jejak sejarah yang bersifat fisik ataupun yang ideologis seperti terbitnya Piagam Madinah yang sangat monumental itu. Dalam piagam itu Nabi Muhammad SAW menghormati dan mengajak hidup berdampingan warga nonmuslim di sana.

Maka ketika pesawat berputar di remang malam di atas kota Madinah menjelang landing di Bandara Prince Muhammad, saya lihat dari kejauhan pendar lampu yang menyinari lekuk Masjid Nabi, saya langsung bergumam, Alaikassalam yaa Rasulullah. Saya Ingin segera menziarahi dan berdoa di makammu, hadir di tamanmu Ar Raudlah serta shalat berjamaah dan mengaji di masjidmu, Masjid Nabawi. Saya Ingin melupakan sejenak hiruk pikuk politik di Tanah Air.

Tak terduga di tengah malam, antrean ribuan orang di Imigrasi Bandara, hampir 80 persen adalah warga negara Indonesia. Subhanallah, syukur alhamdulillah jamaah umroh terbesar yang masuk melaui Bandara Madinah berasal dari Indonesia. Ini selain terlihat dari wajah-wajah mereka juga tampak dari seragam mereka. Beraneka corak dan model seragam jemaah sesungguhnya menunjukkan kebhinekaan bangsa kita. Tua muda bersuku-suku dari negeri yang mayoritas penduduknya muslim menunjukkan ghirah, semangat beribadah, berihram di Mekah dan berziarah di Medinah. Bulan Rajab sampai Ramadhan memang bulan-bulan favorit untuk umroh. Di pesawat Garuda Boeing 777 yang kami tumpangi, hampir semua penumpangnya adalah rombongan umroh dari berbagai travel biro.

Semoga semuanya memberikan berkah bagi negara dan bangsa Indonesia, menuju baldatun thayyibatun warabbun ghafur. Amin. (Bersambung)

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close