CanSino Tantang Ahli yang Ragukan Calon Vaksin Coronanya

CanSino Tantang Ahli yang Ragukan Calon Vaksin Coronanya
Pensiunan prajurit berusia 84 tahun, Xiong Zhengxing, menjadi sukarelawan tertua di dunia untuk vaksin virus corona COVID-19 potensial. (Pear Video)

JAKARTA, SENAYANPOST.com - CanSino Biologics Inc., perusahaan vaksin China, mengatakan tak akan menuruti begitu saja kritik dari sebagian pakar tentang vaksin virus corona Covid-19 yang sedang dikembangkannya. 

Cansino balik menyatakan menunggu data hasil uji klinis yang berkecukupan.

Adalah metode pembuatan vaksin Cansino yang mendapat sorotan ilmuwan dari luar perusahaan itu. Mereka khawatir efektivitas Ad5-nCov, nama calon vaksin itu, akan sangat terbatas karena Cansino menggunakan metode viral vector berbasis virus flu pada umumnya.

Menurut para ahli itu, antibodi eksisting dalam tubuh manusia yang memang biasa melawan virus flu itu bisa dengan mudah menghancurkan Ad5-nCov pula. Artinya, pengembangan vaksin akan sia-sia.

Kepala eksekutif ilmuwan Cansino, Zhu Tao, mendebatnya. Menurutnya, sudah banyak kejadian di mana pengembangan vaksin yang semula diragukan justru bisa terbukti bekerja baik dan beredar luas.

"Pengembangan vaksin adalah sebuah ilmu berbasis praktik, dan kita tidak seharusnya ikut saja apa kata ahli itu," katanya dalam sebuah konferensi para investor.

Zhu Tao menambahkan kalau sejauh ini belum didapati kekhawatiran yang disampaikan sebagian ahli tersebut pada Ad5-nCov. Dia menunjuk kepada hasil uji klinis awal terhadap 128 orang dengan dosis kecil calon vaksin itu.

Ad5-nCoV, meski belum selesai uji klinis skala luas atau fase akhir, bahkan telah disetujui oleh otoritas di Cina untuk disuntikkan kepada personel militer negara itu. Normalnya, izin untuk distribusi atau penggunaan massal seperti itu harus menunggu data hasil uji klinis hingga tahap akhir.

Sementara itu, raksasa farmasi di Inggris, AstraZeneca Plc., mengumumkan menghentikan sementara uji klinis tahap akhir calon vaksin Covid-19 yang sedang dikembangkan. Penyebabnya, satu relawannya yang menerima suntikan calon vaksin itu jatuh sakit. Penghentian sementara menunggu penyelidikan atas penyebab sakit tersebut.

Pensiunan prajurit berusia 84 tahun, Xiong Zhengxing, menjadi sukarelawan tertua di dunia untuk vaksin virus corona COVID-19 potensial. Kredit: Pear Video

AstraZeneca Plc menggandeng University of Oxford mengembangkan vaksin Covid-19 menggunakan teknik viral vector, sama seperti Cansino. Meski begitu Zhu menolak kesimpulan semua teknik viral vector memiliki risiko yang sama.

"Tidak ilmiah membandingkan tingkat antibodi yang dibangkitkan oleh kandidat vaksin yang berbeda, karena metode uji yang berbeda bisa menghasilkan distorsi," katanya sambil menambahkan apa yang dialami AstraZeneca sangat wajar dalam proses uji klinis. (MU)