Canggih, Limbah Masker Disulap Jadi Bahan Bakar Minyak

Canggih, Limbah Masker Disulap Jadi Bahan Bakar Minyak
Ilustrasi (AFP)

YOGYAKARTA, SENAYANPOST.com - Tim peneliti Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia berhasil membuat terobosan yang sangat berarti dan bermasa depan, yakni mengolah limbah masker menjadi minyak bakar.

Dekan Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia  Prof. Dr. Ir. Hari Purnomo., M.T., IPU didampingi Sekretaris Program Sturi Teknik Kimia FTI Dr. Arif Hidayat., S.T., M.T., menjelaskan, tim peneliti FTI baik masker medis maupun nonmedis bahkan plastic bekas penampung “abab” atau hembusan pada tes GeNose menjadi minyak. 

“Untuk limbah masker hasilnya cukup menggembirakan,. Minyak yang dihasilkan pada kisaran 60% dari berat limbah,” katanya.

Arif menambahkan, hasilnya minyak bakar sudah setara dengan minyak tanah. Namun, lanjutnya, jika dengan perlakukan yang lebih spesifik, minyak yang dihasilkan dapat sekualitas dengan premium bahkan Pertalite.

Hari Purnomo menjelaskan, teknologi untuk mengubah limbah masker menjadi minyak setara dengan Pertalite sudah dikuasai oleh tim.

“Namun secara sederhana sudah dapat menghasilkan minyak yang setara dengan minyak tanah,” kata Hari.

Ia mengungkapkan, untuk mengubah limbah masker menjadi bahan bakar alternative setara dengan minyak tanah, tidak memerlukan teknologi  yang tinggi. Bahkan, ujarnya, dapat dilakukan oleh masyarakat biasa di tingkat RT/RW sekalipun untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar bagi rumah tangganya sendiri.

Arif mengungkapkan lagi, pada tahap uji produksi di laboratorium, peralatan pemanas masih menggunakan listrik, namun ke depan akan diarahkan dengan pemanas berbahan bakar gas.

Dia mengakui proses yang sekarang masih belum mencapai titik ekonomi karena banyak hal. “Ke depan akan mencapai titik ekonomi dan bahkan menguntungkan,” katanya optimis.

Selain menjadi minyak, Arif mengungkapkan, pada skala pemanasan yang berbeda, dapat dihasilkan “benda padat” yang dapat dimanfaatkan untuk campuran pembuatan beton atau batako dan bahkan campuran plastic.

Ia menegaskan, selain 60% menjadi minyak, ternyata proses juga meninggalkan limbah berupa sisa arang yang masih dapat digunakan untuk lainnya. (MU)