Galeri

Cakra, Aplikasi Terapi Autisme dari ITS

 

Ahad, 8 Mei 2016 11:13 WIB

Penulis: Suryani Wandari

CAKRA, aplikasi pengembangan terapi anak penyandang autisme yang dikembangkan Nurul Wakhidatul Ummah, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) serta tiga kawannya, berhasil menjadi jawara Imagine Cup 2014, kompetisi teknologi informasi yang diselenggarakan Microsoft Indonesia.

Penasaran, bagaimana tim DigiD2 itu menghubungkan teknologi informasi dengan kebutuhan anak penyandang autisme? Simak obrolan Muda dengan Nurul, sapaan akrab Wakhidatul, di sela babak final Imagine Cup 2016 di Jakarta, Rabu (6/4).

Ceritakan dong, bagaimana kamu mengembangkan Cakra?

Jika dibandingkan dengan down syndrome atau keterbelakangan mental lainnya, sekarang ini perkembangan autisme paling cepat. Mulai 2000, sebanyak 1 dari 68 kelahiran ialah autis dan semakin berkembang. Pada 2020 diprediksikan, separuh dari kelahiran anak itu autis. Semakin banyaknya jumlah mereka membuat kami ingin mengambil peran di sana.

Mengapa bentuknya aplikasi?

Walau hingga kini jumlahnya masih sedikit, enggak menutup kemungkinan di desa atau kabupaten juga ada pende­rita autisme, sementara mereka jauh ke tempat terapi. Padahal, terapi harus dilakukan rutin dan intensif. Biaya terapi pun mahal bisa mencapai Rp5 juta. Makanya, dengan aplikasi ini, kami ingin membantu semua orang yang tidak bisa menjangkau tempat terapi.

Aplikasi online atau offline?

Setelah diunduh, bisa digunakan offline. Sistemnya, kalau sekarang adanya versi desktop. Terdapat tiga versi Cakra, bronze yaitu gratis untuk percobaan, bisa diunduh di website cakra-app.com. Yang kedua, silver, berbayar tahap awal Rp500 ribu. Ketiga, gold yaitu versi lengkap dari awal hingga akhir, seharga Rp1 juta. Harga segitu selamanya, jika ada perbaikan akan dikabarkan.

Jelaskan soal cara kerjanya dong?

Di Cakra, ada tiga fitur utama. Pertama, ada evaluasi awal untuk melihat kondisi pengguna, seperti orangtua menjawab beberapa pertanyaan, nanti akan keluar hasilnya. Selanjutnya terapi, tersedia 237 jenis pembelajaran, di antaranya pengenalan huruf, mengenali hewan dan tumbuhan, serta mengenali anggota tubuh dengan cara yang asyik. Anak penyandang autisme melihat ke layar komputer dan di sana akan ada sosok dirinya.

Sudah merambah ke versi Android atau IOS?

Ya, akhir tahun ini akan diluncurkan versi IOS dan Android. Harganya pun akan berbeda dengan versi sebelumnya, akan lebih murah. Versi Android dihargai Rp5.000, sedangkan IOS rencananya antara Rp200 ribu hingga Rp500 ribu.

Sudah lebih dari 2.000 pengguna, tersebar di 78 kota di enam negara, salah satunya Malaysia, Australia, Qatar, dan North Dakota, AS, karena selain dalam bahasa Indonesia, kami mengeluarkan versi berbahasa Inggris. Kita menggunakan metode applied behavior analysis (ABA) yang menag menjadi salah satu pendekatan terapi untuk anak penyandang autisme. Keberhasilan hingga 80%. Insya Allah jika dibarengi dengan niat dan pola makan yang baik, akan mencapai keberhasilan 80%.

Sudah ada yang berhasil?

Terapi di tempat terapinya saja butuh waktu tiga tahun. Kalau sampai sembuh sambuh sih belum karena pengguna yang membeli aplikasi kita ini baru sekitar 1 tahun, makanya belum terlihat signifikan. Kalau perkembangan mengenali huruf, hewan, ataupun tumbuhan, mereka sudah bisa.

Idealnya berapa jam sehari Cakra digunakan?

Seharusnya 40 jam seminggu untuk belajar, tapi kan biasanya anak penyandang autisme hiperaktif. Karena itu, minimal anaknya bisa duduk tenang, kontak mata sudah ada, dan mengerti perintah.

Sudah dapat untung?

Sebenarnya kami tidak banyak mengambil untung. Uang yang kami dapatkan hanya untuk operasional Cakra-nya sendiri. Tujuan kita membantu seluas-luasnya, jadi kadang kita pun memberikan gratis ke sekolah yang kondisinya kekurangan. (M-1)

miweekend@mediaindonesia.com

Sumber:

http://www.mediaindonesia.com/news/read/44221/cakra-aplikasi-terapi-autisme-dari-its/2016-05-08

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close