Opini

Cadar dan Sopir BP

Oleh: Asep Salahudin

Kursi belakang terisi empat perempuan, sementara saya duduk di saf depannya berdempetan dengan wanita berwajah Arab. Cukup jelita dengan paduan kerudung coklat muda, kemeja tosca tua, dan levis biru.

Mereka berlima nampaknya masih semester awal, naik dari stasion Bandung, mungkin mahasiswinya Dr. Senny Susan Alwasilah atau Gusjur Mahesa, entahlah. Saya sendiri numpang BP (Bandung Panjalu) itu dari pintu tol Cileunyi.

Sepanjang perjalanan, saya tak bisa memejamkan mata, perempuan yang di belakang terus ngobrol. Tak pernah kehabisan tema pembicaraan. Mempercakapkan banyak hal termasuk menelpon keluarganya agar disediakan “emplod” dan aneka makanan lokal lainnya. Sementara wanita dipinggir saya, hanya sesekali menimpali, sisanya tertunduk dan dalam dua atau tiga kali belokan tak sengaja kepalanya tersandar di bahu saya dengan ujung kerudung yang telah diikat pada arah pipinya sehingga nampak seolah pakai cadar tepatnya seperti ninja.

Perempuan berwajah Arab yang seolah bercadar itu tidak banyak berbicara, terus menunduk. Saya menduga sedang berzikir atau menikmati perjalanan di jazirah Priangan, tanah dan pegunungan yang dijanjikan Tuhan.

Puji Tuhan, setelah melewati lima tikungan dari rumahnya keluarga besar Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, perempuan di samping saya itu tergesa-gesa membuka kerudung yang menutupi mulutnya dan: ongkek! Sementara empat kawannya terlambat memberikan kantong keresek. Kaki saya akhirnya terciprat muntahan bubur ayam yang mungkin menjadi sarapan paginya di stasion.

Di Cipeundeuy mereka berhenti. Dengan pipi merah wanita itu permisi dan meminta maaf diiringi empat kawannya yang cengengesan.

Sopir BP setelah menerima ongkos @ 30.000,- melanjutkan perjalanan sambil ngomel, “Geulis-geulis utah. Aing atuh kudu meresihan mobil.” Hanya dalam hati saya berkata, “Sarua aing oge kudu meresihan suku jeung tungtung calana”.

Perempuan yang seolah bercadar itu tak salah, penyebabnya sopir yang tidak cukup mahir menjalanlan elf-nya. Menyalip serampangan. Berhenti sembarangan, meliuk-liuk tidak pakai perasaan dan mengerem tak beraturan. Bikin penumpang mual. Sopir radikal.

*Penulis adalah kolumnis, tinggal di Bandung.

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close