Internasional

Cabut Kesepakatan Nuklir, AS Jatuhi Iran dengan Sanksi Baru

WASHINGTON, SENAYANPOST.com – Usai menarik diri dari kesepakatan nuklir, Amerika Serikat (AS) kini menjatuhkan sanksi baru terhadap individu dan sejumlah perusahaan terkait jaringan mata uang.

Menteri Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap enam orang dan tiga perusahaan yang telah menyalurkan jutaan dolar kepada Pasukan Qods, Korps Pengawal Revolusioner Iran (IRGC).

Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengatakan, hukuman itu menargetkan orang-orang yang telah menyalurkan jutaan dolar kepada IRGC, yang ditudingnya mendanai “kegiatan yang merugikan”.

Dikutip dari Time.com, Jumat (11/5/2018), Bank sentral Iran juga dituduh membantu IRGC untuk mengakses dolar AS.

Departemen Keuangan AS tidak menyebutkan nama individu yang terkena sanksi, tetapi mengatakan bahwa mereka semua adalah warga negara Iran.

Langkah AS yang didukung Uni Emirat Arab (UEA), melarang individu dan entitas AS berbisnis dengan mereka yang terkena sanksi.

“Rezim Iran dan Bank Sentral di sana telah menyalahgunakan akses ke entitas di UEA dalam memperoleh dolar AS, untuk mendukung kegiatan merugikan yang dilakukan oleh IRGC, termasuk mendanai dan mempersenjatai kelompok proksi regionalnya,” kata Mnuchin dalam sebuah pernyataan.

“Kami bermaksud memotong aliran pendapatan IRGC, dari mana pun asalnya, dan apa pun tujuan mereka,” tambahnya.

Adapun IRGC sendiri, telah beroperasi sejak tahun 1979 untuk membela sistem pemerintahan Islam Iran, dan juga menjelma sebagai penyokong kekuatan militer, politik, dan ekonomi utama di negara tersebut.

Sanksi terbaru yang diberikan oleh AS itu secara khusus menargetkan kegiatan operasional IRGC di luar negeri.

Presiden Donald Trump telah menyebut kelompok itu sebagai “kekuatan teror dan milisi yang korup”, yang kemudian berbuntut pada penetapan sanksi ekonomi.

Hukuman terbaru datang hanya dua hari setelah Donald Trump menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran, dan berjanji untuk meningkatkan tekanan kepada Teheran.

Keputusan Trump untuk membatalkan kesepakatan itu digambarkan sebagai sebuah “kesalahan” oleh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. (WW)

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close