Catatan dari Senayan

Busuk di Kepala dan Teladan Hoegeng

Busuk di Kepala dan Teladan Hoegeng

SETELAH heboh publik menyoroti berbagai tindak menyimpang di tubuh Polri, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sontak bereaksi. Maklum  kelakuan aparat di jajaran Polri  sudah keterlaluan. Tak lagi mencerminkan  korps Bhayangkara itu sebagai pengayom dan pelindung masyarakat. Apalagi jika diukur dengan program "Presisi" yang digagas Jenderal Listyo Sigit menjelang menjabat Kapolri.

Dengan nada geram Jenderal  Sigit mengancam para komandan jika tak mampu menertibkan bawahannya. Kapolri mengatakan  tak segan menindak tegas pimpinan yang tak mampu mengelola anak buahnya dengan baik. Jenderal Sigit mengumpamakan siap memotong ‘kepala ikan yang tak mampu bersihkan ekor’ di tubuh Polri.  Pernyataan tegas Jenderal Sigit disampaikan dalam penutupan pendidikan Sespimti Polri di Lembang beberapa hari yang lalu.

Gertakan Kapolri itu penting, agar kepercayaan masyarakat terhadap Polri tidak semakin melorot.  Jangan sampai joke masyarakat semakin terbukti: "kehilangan kambing lapor ke polisi malah jadi kehilangan sapi." Atau "gaji TNI dan ASN setiap bulan, gaji polisi setiap hari." Keduanya menggambarkan terbiasanya pungutan dan pemerasan yang dilakukan oknum anggota Polri. 

Belum lagi kejahatan yang lain. Polisi menembak rekannya sesama polisi, Kapolres menghajar anak buahnya, Kapolsek menodai anak seorang tersangka, polisi merampok, mengedarkan narkoba, menjual barang bukti, dan lain-lainnya. Semuanya mencoreng wajah Polri.

Sampai-sampai dulu Abdurrahman Wahid (Gus Dur)  guyonan olok-olok, bahwa di jajaran Polri itu hanya ada tiga yang jujur dan gak mempan disuap.  Ketiganya adalah polisi tidur, patung polisi dan Pak Hoegeng. Pak Hoegeng Iman Santoso disebut  tentu merujuk  pada keserhanaan dan kejujurannya. Publik menilai banyaknya polisi nakal lantaran minimnya keteladanan kesederhanaan para pimpinan Polri seperti ditunjukkan Hoegeng. Lelaki kurus dan sederhana itu tak doyan suap dan emoh gratifikasi. Sebuah buku mengisahkan Pak Hugeng pernah menolak memenuhi permintaan Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto, karena dianggap tak sesuai dengan ketentuan. 

Baca Juga

Salah satu kisah paling melekat pada diri Hoegeng adalah kekebalannya pada suap atau hadiah. Sekitar tahun 1956 saat menjabat sebagai Kepala Bagian Reserse Kriminal Kepolisian Daerah Sumatra Utara, nama Hoegeng mencuri perhatian. Ia yang baru saja dipindahtugaskan ke Medan, menolak hadiah yang diberikan oleh para pengusaha dengan meletakkan barang-barang tersebut di jalan depan rumahnya. 

Adakah polisi zaman ini mampu meneladani Pak Hoegeng, berani menentang arus,  menjadikan "kepalanya" tak membusuk sehingga ekor-ekor di belakangnya  tak ikut busuk. Semuanya butuh nyali dan perlu keberanian. Ayo Pak Jenderal Sigit, tunjukkan nyalimu. Tak sebatas Program Presisi yang indah di konsep tapi jeblok di lapangan. Siapa tahu Jenderal Sigit menjadi "polisi keempat" menggenapi "tiga polisi jujur" yang disampaikan Gus Dur. (*)