BTN Buka Peluang Merger dengan Tiga Bank Syariah BUMN

BTN Buka Peluang Merger dengan Tiga Bank Syariah BUMN
Ilustrasi

JAKARTA, SENAYANPOST.com - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN memiliki peluang untuk ikut bergabung dalam merger bank syariah BUMN lainnya, yakni PT Bank BRI Syariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah.

Menurut Direktur BTN Pahala Mansury, untuk saat ini BTN belum ikut serta dalam aksi korporasi tersebut lantaran lini bisnis syariah masih berbentuk Unit Usaha Syariah (UUS). 
Sementara itu, untuk dapat mengikuti merger harus berbentuk Bank Umum Syariah (BUS).

"Jadi, memang kami belum ikut dalam proses merger yang dilakukan oleh 3 bank Himbara lainnya," ujarnya dalam paparan kinerja kuartal III 2020, Kamis (22/10) dikutip CNN Indonesia.

Namun, ia menyatakan terdapat peluang bagi perseroan untuk menyusul 3 bank syariah Himbara lainnya. Pasalnya, OJK mewajibkan UUS melakukan spin off alias melepaskan diri dari induk usahanya dan membentuk BUS.

Tetapi, kata Pahala, BTN masih akan menunggu arahan dari pemegang saham lantaran keputusan merger merupakan kewenangan pemegang saham, dalam hal ini Kementerian BUMN.

"Memang kalau kami lihat di 2023, mungkin dengan melihat regulasi sekarang ini semua UUS sudah harus dipersiapkan menjadi BUS. Jadi mungkin kalau dari apakah akan ikutan, mungkin nantinya akan ikutan, tapi sampai dengan saat ini kami masih menunggu bagaimana arahan dari pemegang saham ke depannya," tuturnya.

Saat ini, proses merger 3 bank syariah itu sudah sampai pada tahap penyampaian rencana merger pada 20 Oktober lalu. Sebelumnya, ketiga bank tersebut telah menandatangani Conditional Merger Agreement (CMA) pada 12 Oktober.

Dalam rencana penggabungan 3 bank syariah BUMN itu, komposisi pemegang saham terbesar pada bank hasil penggabungan dikuasai oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dengan porsi 51,2 persen.

Sementara itu, untuk PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk sebesar 25,0 persen, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebesar 17,4 persen, DPLK BRI - Saham Syariah 2 persen, dan publik 4,4 persen. Struktur pemegang saham itu ditentukan berdasarkan perhitungan valuasi dari masing-masing bank peserta merger.

Targetnya, pada awal Februari 2020 ketiganya sudah bisa mencapai legal merger sehingga secara resmi sudah tergabung menjadi satu entitas.