Birrul Walidain dan Kisah Denny JA

Birrul Walidain dan Kisah Denny JA
Syaefudin Simon

Oleh: Syaefudin Simon

KHOTBAH JUMAT Jumat di masjid Muhammadiyah dekat rumahku di Perumnas Tiga, Bekasi, tadi bagus. Khotib menguraikan tentang besarnya pahala birrul walidain (berbakti kpd orang tua). Kata Khotib, percuma orang salat dan puasa jika dia tidak berbakti kpd orang tua. Muspro di mata Allah.

Ridha Allah tergantung ridha orang tua, ujar khotib. Selagi orang tua masih ada, bahagiakanlan mereka. Jangan pernah berucap kasar dan menyinggung orang tua. Allah akan murka. Orang tua adalah ladang amal yang paling menguntungkan. 

Dalam hal berbakti kepada orang tua, Islam sangat menghormati ibu. Sampai ada hadist, sorga berada di bawah telapak kaki ibumu. 

Sahabatku Ikhsan Haryono, pemilik Bimbel di Purworejo, pernah bercerita. Suatu ketika dia ingin usaha Bimbelnya maju. Teorinya harus bikin brosur sebanyak mungkin untuk disebar ke sekolah. Sebagai iklan. Ternyata ibunya gak setuju. Tapi Ikhsan maksa. Bikin brosur.

 Apa yang terjadi? Selama dua tahun, pendaftar di Bimmbelnya hanya lima orang. Bimbelnya nyaris bangkrut. Baru setelah minta maaf kepada orang tua atas kesalahannya itu, bimbelnya hidup lagi. Pesertanya berdatangan lagi. 

"Sungguh ridho ibu dampaknya luar biasa. Bahkan di luar logika normal. Semesta mengikuti ridho ibu, di luar logika,"  kata Ikhsan. 

Aku sering mikir, kenapa Denny JA kaya dan bisnisnya kinclong terus. Dari survey politik, merambah ke resto, tambang, saham, properti -- semuanya lancar. Hingga dia punya kekayaan   satu trilyun lebih. Ternyata kuncinya, antara lain, berbakti kpd orang tua, terutama ibu. 

Denny pernah cerita, dia adalah anak kesayangan ibunya. Sejak kecil ibunya sangat menyayangi Denny. Begitu juga Denny sangat menyayangi ibunya. Ketika ayahnya wafat, Denny rajin mengunjungi dan menghibur ibunya. 

Meski ibunya sudah sepuh, Denny selalu menghiburnya. Kadang menyanyi lagu kesukaan ibunya di hadapan sang mamah. Bagi Denny cara apa pun ditempuh untuk membahagiakan ibunya. 

Ia selalu membelikan makanan atau barang kesukaan ibunya. Antara lain, selalu memberi uang meski Denny tahu, uang itu cuma disimpan di bawah bantal dan gak pernah dipakai. Tapi yang namanya orang, kata Denny, pasti senang dikasih uang. Denny juga sering melakukan hal-hal lucu kayak anak kecil agar ibunya senang. 

Suatu ketika Denny tanya kepada ibunya. "Mamah, apa yang paling membuat mamah bahagia yang bisa Denny lakukan."

"Mamah  ingin melihat Denny menyanyi di televisi," kata ibunya.

Wah. Denny kaget. Ini permintaan yang sulit. Tapi demi kebahagiakan mamah yg usianya sudah 80-an, Denny menuruti kemauan ibunya.

Ia beli smart tivi. Kemudian minta crew sebuah tivi untuk merekam Denny yang sedang menyanyi agar kelihatan seperti menyanyi di tivi. Setelah rekaman jadi, diputarlah YouTube dari smart tv di depan ibunya.

"Ibu senang sekali melihat aku menyanyi," kata Denny tersenyum.  Sampai berkali kali menepuk bahuku. 

"Denny kamu hebat, bisa menyanyi di televisi seperti artis," kata sang mamah.

"Ibu senang sekali kamu bisa menyanyi di televisi," puji ibunya. 

 Denny pun tersenyum dan memeluk ibunya. 

"Mamah sampai meneteskan air mata bahagia," kata Denny.  

Begitulah temans, bakti Denny kepada ibunya. Luar biasa. Ibunya Denny sudah wafat tiga tahun lalu.

Aku pikir-- karena baktinya yang luar biasa kepada sang mamah --  hidup Denny jembar.   Rejeki lancar.     

Jadi betul -- ridho Allah tergantung ridho ibu. Denny sudah membuktikannya.