Wawancara Khusus

BG dan Syafruddin Berpeluang Dampingi Jokowi di Pilpres 2019

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Presiden Jokowi sampai saat ini belum juga mengumumkan sosok yang akan mendampinginya dalam bursa Pilpres 2019 mendatang.

Namun beberapa nama kandidat yang digadang-gadang berpeluang jadi cawapres, sudah berseliweran di berbagai media. Mereka datang dari para politisi dan non politisi, bahkan dari jajaran perwira tinggi Polri.

Khusus Pati Polri, dua nama disebut-sebut sangat berpeluang untuk digaet Jokowi sebagai cawapres.

Berikut wawancara khusus Senayanpost.com dengan Peneliti Strategis dan Intelijen, Surya Fermana yang menganalisa kemungkinan majunya Pati Polri di bursa cawapres mendampingi sang petahana.

Soal peluang dari polri menjadi wakil presiden?

Peluang tiga, Kapolri, Wakapolri dan Kepala BIN. Dalam artian dia purnawirawan juga masuk dalam kategori ini. Cuma analisa saya Kapolri itu tidak kepingin jadi cawapres, jadi yang paling mungkin itu persaingan antara Jenderal (Purn) Budi Gunawan (Kepala BIN, Red) dan Komisaris Jenderal Syafruddin (Wakapolri, Red).

Alasannya?

Itu sudah ada pernyataan dari humas. Dia memang tidak mau. Dia seorang Bhayangkara sejati. Cuma tinggal dia bereskan aparat kepolisian itu sampai tingkat bawah sesuai trek

Yang punya gejala maju ini dua orang itu, Wakapolri dan Kepala BIN.

Bagaimana peluangnya?

Dua-duanya kuat. Budi Gunawan dekat dengan PDI-P, Syafrudin dekat dengan Jusuf Kalla, dua-duanya dekat dengan tokoh politik, kuat dua-duanya.

Apakah mudah untuk digaet?

Mudah, yang tidak mudah itu di antara mereka persaingan yang mungkin terjadi antara mereka itu. Tinggal mereka bersaing berdua, berdua mempunyai kekuatan

Berpeluang ke siapa?

Jokowi.

Polisi sekarang ini mempunyai jaringan kuat, mempunyai sosialitas ekonomi, politik dan grassroot teritorial ini mereka pegang.

Kenapa ini mencuat pada pemilu ini, pemilu sebelum-sebelumnya tidak ada karena pemilu-pemilu sebelumnya masih dikumpul-kumpul kekuatannya pada reformasi pertama walaupun tentara kembali ke tentara profesional tapi sisa kejayaan tentara lama masih kuat di dalam publik dan jaringan sosial ekonomi politik

Perlahan ini hilang, polisi muncul. Pebisnis kemana-mana. Kuat.

Modal?

Kapolri tidak masuk karena tidak ikut di dewan masjid tidak ikut chief of the mission Asian Games, Kapolri hanya mengurus urusan kepolisian. Kalau yang Budi Gunawan dan Syafrudin ini masuk dalam urusan-urusan masjid, olahraga. Ini persis seperti fungsi tentara di zaman orde baru

Bisa menyaingi?

Bukan hanya menyaingi, dia yang faktor besar mereka.

Apa untungnya bagi Jokowi?

Ini tergantung jokowi, mereka bisa membuat kemungkinan besar membuat jokowi jatuh pilihan kepada mereka karena mereka mempunyai kekuatan itu. Bisa tidak Jokowi lepas dari mereka. Katakan Jokowi tidak suka sama mereka tetapi kalau secara politik, Jokowi terkepung dengan kekuatan mereka.

Politik murni dan tidak murni soal lain yang penting siapa yang mempunyai kekuatan. Politik itu siapa yang mempunyai kekuatan.

Elektabilitas?

Tidak penting, dia kan hanya cawapres, tetapi kalau dia bisa mengalahkan partai bisa mengalahkan Jokowi untuk memilih dia. Mereka mempunyai itu. Tinggal dua persaingan. (MU)

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close