Opini

Berwudu Bersama Presiden Jokowi

Oleh Prof. Dr. KH. Fauzul Iman, MA

Beberapa kali saya bertemu dengan Bapak Presiden Jokowi dalam setiap even selau saja mendapat kesan yang mengharukan. Kesan itu teramati dari gesture Pak Jokowi yang amat bersahaja dalam cara memandang, menyapa rakyat, senyum dan berpakaian yang dikenakannya di tengah rakyat yang dikunjunginya.

Dengan sifat bersahabat dan kebersahajaannya itu warga masyarakat yang dikunjungi tak sungkan mendekatinya dan berebut ingin bersalaman dan berpoto bersama tanpa ragu dan rasa takut. Pak Jokowi pun meladeninya sepenuh hati tanpa rasa keberatan sedikit pun. Bahkan saya sempat melihat Pak jokowi dari dekat berupaya dan bergegas menemui kerumunan warga yang belum berkesempatan bersalaman dan berfoto bersama

Sifat bersahaja Pak Jokowi semakin saya rasakan saat beliau menunaikan salat idul Adha berjamaah di Masjid Agung Al-Tsawrah Serang Banten di mana saya menjadi khatibnya. Pak Jokowi dengan tekun mendengarkan khutbah yang saya sampaikan dan sekali waktu menatap wajah saya. Di luar dugaan, baru saja saya turun dari mimbar Pak Jokowi dengan cepat melangkah ke depan dan memeluk saya .

“Bagus Pak,” ujarnya, memuji khutbah saya seraya melepaskan senyum khasnya.

Pak Jokowi kemudian meminta saya agar berfoto bersama. Pak Teten Masduki yang berada di samping Pak Jokowi meminta saya agar merapat di sisi Pak Presiden. Lalu Pak Teten dengan cepat mencabut telepon seluler dari sakunya dan langsung menjepretkan kameranya. Tidak lama setelah itu Pak Jokowi menuju hewan korban miliknya sebagai ibadah kurban yang akan diberikan buat masyarakat setempat.

Di tempat itu lagi lagi Pak Jokowi harus menyalamani kerumunan warga yang sangat antusias ingin berkomunikasi dari dekat. Usai menemui kerumunan masa yang tak terbendung itu, Pak Jokowi menghampiri saya dan menyatakan hal yang amat mengagetkan di depan saya.

“Pak Rektor, pengusaha-pengusaha besar yang berkelas kakap yang masih menonopoli pedagang-pedagang kecil itu harus saya basmi,” ujar Pak Jokowi.

“Bayangkan Pak Rektor,” lanjut Pak Jokowi, “di negeri kita ini hal yang kecil-kecil saja masih impor. Garam impor, beras impor, buah-buahan impor dan sapi pun impor. Harga sapi di malaysia itu murah Pak Rektor tapi di negeri kita ini mahal sekali. Ini pekerjaan pengusaha yang kurang ajar.

“Akan saya berantas Pak Rektor!” tegas Pak Jokowi.

Saya sangat percaya apa yang dikatakan Pak Jokowi itu lahir dri hati yang tulus, spontan dan tidak diada ada. Pak Jokowi tidak sedang menghujat seluruh pengusaha kita bandel. Tapi ada beberapa pengusaha yang memang mengabaikn hak-hak pengusaha kecil sehingga yang besar makin melejit yang kecil makin terhimpit.

Poin yang patut dipetik dari pernyataan Pak Jokowi ini ia mengutarakannya dengan tegas tanpa tembok penghalang . Padahal seharusnya menjadi rahasia , apa lagi disampaikan di sekitar orang -orang seperti saya yang levelnya orang lokal. Ini berarti terkandung keseriusan Pak Jokowi yang ingin membela meningkatkn taraf kehidupan ekonomi arus bawah di satu sisi dan membasmi prilaku monopoli sebagai bentuk ketidakadilan ekonomi di sisi lain.

Keseriusan Pak Jokowi makin terlihat ketika ia bersama Prof Dr. KH. Makruf Amin menggagas perlunya membangun ekonomi arus baru. Menurut KH. Makruf Amin, Persiden Jokowi sangat mendukung gagasan prmbangunan ekonomi yang berbasis umat/ kerakyatan. Membangun Ekonomi arus baru ini, kata Makruf Amin, sebagai distribusi aset yg tidak top down / dari bawah ke atas tapi terdistribusikan ke bawah.

Gagasan itu ditangkap cepat Pak Jokowi dengan melakukan kunjungan ke pesantren-pesantren sekaligus meresmikan pendirian ekonomi mikro syariah di pesantren yang sudah ditentukan sebagai proyek percontohannya.

Uraian ini tentu dapat menepis pndangn dan berita hoax yang selama ini menyudutkan Pak Jokowi dengan narasi-narasi yang selalu negatif. Sebagai manusia biasa, Pak Jokowi bukanlh sosok sakral yang tidak pernah mengenal kesalahan. Akan tetapi tidaklah arif dan adil bila yang selama ini dilakukannya nihil dari kebaikan.

Kerap kali blusukan dan kunjungan daerah yang dilakukan Pak Jokowi dipandang sebelah mata sebagai pencitraan. Padahal dari belusukan dan kunjungannya itu Pak Jokowi menyaksikan dan mendengar langsung apa yang menjadi beban dan keluhan masyarakat untuk kemudian dicari pemecahannya secara simultan. Salah satunya adalah kunjungan ke pesantren yang hasilnya ditindaklanjuti dengan mendirikan ekonomi mikro syariah di pesantren.

Anehnya pandangan negatif pada Pak Jokowi tidak terhenti di sini. Ia juga dituduh presiden keturunan PKI yang tidak sensitif dengan nilai-nilai agama. Tidak dekat dengan ulama dan tidak bisa baca Quran. Kesan sebaliknya yang paling mengharukan justru pada saat acara konsultasi cendekiawan dunia islam tingkat tinggi di Istana Bogor, saya sempat menyaksikan Pak Jokowi menjelang salat zuhur berwudu di masjid dengan baik.

Saya perhatikan sejak niat wudu ia membacanya dengan fasih sampai dengan cara-cara membasuh anggota wudu ia melakukannya dengan tertib. Usai berwudu Pak Jokowi kaget melihat saya yang berdiri di sampingnya. Beliau tampaknya masih ingat lalu menyapa saya dengan senyumnya yang amat simpatik.

“Hai Pak Rektor terimakasih ya atas kehadirannya”.

“Sama- sama Pak Peresiden” jawab saya. Tidak lama setelah itu kemudian saya bersama Bapak Persiden menuju ke masjid untuk menunaikan salat berjamaah zuhur. Wallahu Aa’lam

Penulis, Rektor UIN SMH Banten

KOMENTAR
Tags
Show More
Close