Nasional

Bertemu Ulama se Jatim, Panglima TNI Beber Data Kerusuhan 22 Mei

JOMBANG, SENAYANPOST.com – Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto melakukan pertemuan dengan ulama se-Jatim di pondok pesantren Tebuireng Jombang, Kamis (20/6/2016).

Kedatangan rombongan Panglima TNI disambut oleh pengasuh Tebuireng KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah serta sejumlah kerabat lainnya. Selanjutnya, Panglima TNI memasuki dalem kasepuhan.

Pertemuan di rumah induk tersebut tidak berlangsung lama. Gus Sholah bersama Panglima TNI dan rombongan menuju lokasi acara inti, yakni di Aula Gedung KH Yusuf Hasyim lantai tiga.

Di tempat itu, para undangan, yakni puluhan ulama se-Jatim sudah memenuhi kursi undangan.
Dalam ceramahnya, Marsekal Hadi Tjahjanto blak-blakan berkisah tentang penanganan kerusuhan yang terjadi di Jakarta pada 21 dan 22 Mei.

Mengawali pidato soal kerusuhan 21 dan 22 Mei, Hadi Tjahjanto mengungkapkan, pihaknya jauh-jauh hari sudah mencium bakal adanya kerusuhan tersebut berdasaran data intelijen. Karena itu, persiapan dia lakukan bersama polri.

“Beberapa waktu lalu, saya memang bertemu dengan Gus Sholah (KH Salahuddin Wahid). Beliau meminta agar saya menyampaikan secara langsung soal kerusuhan di Jakarta kepada para ulama. Alhamdulillah, hari ini saya bisa memenuhi permintaan itu,” ujar Marsekal Hadi Tjahjanto mengawali uraiannya.

Untuk memudahkan dalam menjelaskan materi, tidak jauh dari podium tempat Panglima TNI berdiri terdapat layar yang sudah tersambung dengan komputer jinjing. Di layar itulah data-data seputar kerusuhan terpampang.

Mulai jumlah pasukan yang diterjunkan, strategi yang diterapkan, jumlah korban luka, korban yang menjalani rawat inap, serta jumlah korban yang meninggal. Semua muncul di layar lebar tersebut. Tentu saja, puluhan hadirin yang notabene para ulama se-Jatim bisa melihat dengan jelas layar power point itu.

“TNI dan Polri solid dalam meredam kerusuhan. TNI dan Polri tidak boleh pecah. TNI dengan kekuatan 480.000 personel dan Polri berkekuatan 440.000 personel merupakan kekuatan besar yang tidak boleh pecah. NKRI akan tetap utuh kalau TNI dan Polri solid. Itu yang kita lakukan guna meredam kerusuhan,” ujar Hadi.

Panglima TNI Hadi Tjahjanto mengungkapkan, pihaknya jauh-jauh hari sudah mencium bakal adanya kerusuhan tersebut berdasaran data intelijen. Karena itu, persiapan dia lakukan bersama polri. Melakukan analisa serta berbagai upaya untuk meredamnya. Termasuk belajar dari kerusuhan Mei 1998. Dia tidak ingin tragedi Mei 1998 terulang.

Oleh karena itu, TNI bersama polri melakukan langkah-langkah persiapan untuk mengatasi, dan menanggulangi kemungkinan betul-betul terjadinya kerusuhan. Termasuk menyiapkan rumah sakit darurat di Cilangkap serta dapur umum.

Hadi menceritakan, pada 20 Mei 2019 pihaknya sudah menggelar pasukan di sejumlah titik. Antara lain di depan Bawaslu, KPU, Istana Merdeka, dan gedung DPR. Monitoring dilakukan secara ‘wide angle’.

Untuk keperluan itu, Mabes TNI sedikitnya menurunkan 16.000 personel untuk membantu pengamanan di Jakarta. Total dengan personel Polri sekitar 35.000 orang.

Analisa Hadi benar. Demonstrasi meletus pada 21 Mei. Yakni, di depan kantor KPU, kemudian di Bawaslu. Namun yang terbesar di Bawaslu, sekitar 2000 orang yang berorasi sampai buka puasa bersama, salat maghrib, dan kemudian salat tarawih.

Kapolri dan Panglima kemudian sama-sama memberikan briefing kepada jajarannya agar tidak percaya terhadap isu-isu atau gorengan isu yang tujuannya memecah belah TNI-Polri.

“Dan alhamdulillah sampai sekarang TNBI dan Polri tetap solid dan bersatu,” tandas Hadi, disambut tepuk tangan ratusan undangan yang memenuhi ruangan acara.

Hadi juga menjelaskan secara detail jumlah korban meninggal sebanyak 9 orang. Dari jumlah itu, satu orang meninggal akibat pukulan benda tumpul. Sedangkan lainnya akibat tembusan peluru tajam. Hadi menegaskan, saat ini kasus tersebut ditangani oleh tim pencari fakta dari Polri dan juga Komnas HAM.”

“Terkait kasus kerusuhan pada 21 dan 22 Mei itu sendiri, kita serahkan pada koridor hukum. Yang tertangkap sebanyak empat ratus sekian. Mereka adalah para pelaku dan juga saksi yang saat ini masih diproses,” kata Panglima TNI Hadi memungkasi paparannya. (MU)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close