Berkat Teknologi Mutakhir, Mumi Mesir 3.000 Tahun ini Bisa Bicara

Berkat Teknologi Mutakhir, Mumi Mesir 3.000 Tahun ini Bisa Bicara

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Seorang imam dari mesir kuno yang telah dimumikan selama 3000 tahun dikabarkan berhasil berbicara dari luar kubur berkat teknologi modern.

Dilansir dari DailyMail, (28/1/2020), mumi tersebut memiliki nama asli Nesyamun yang merupakan seorang pendeta pada saat firaun Ramses II berkuasa.

Jenazahnya terpelihara dengan sangat baik sehingga para ilmuwan dapat memetakan tenggorokan, mulut dan kotak suara menggunakan CT Scan di Leeds General Infirmary, dan membuatnya kembali menggunakan pencetakan 3D.

Nesyamun biasanya dipajang di museum Leeds, yang pertama kali dibuka pada tahun 1824 dan memiliki tulisan ‘true of voice’ di peti matinya.

Penelitian untuk mereplika suara Nesyamun dilakukan oleh para akademisi di Royal Holloway, Universitas London, Universitas York dan Museum Leeds yang dilakukan dengan pemindaian secara terperinci dan pengukuran saluran suara mumi.

Baca Juga

Dengan menggunakan saluran vokal dengan suara laring buatan, mereka mensintesiskan suara vokal yang mirip dengan suara Nesyamun.

Ini diyakini sebagai proyek pertama dari jenisnya yang berhasil menciptakan kembali suara orang mati melalui cara buatan. Di masa depan, para peneliti berharap untuk menggunakan model komputer untuk menciptakan kembali kalimat lengkap dalam suara Nesyamun.

Profesor David Howard, dari Royal Holloway, orang mendemonstrasikan Vocal Tract Organ pada Juni 2013 yaitu implikasi untuk memberikan suara vokal otentik kembali kepada mereka yang telah kehilangan fungsi bicara normal pada saluran vokal atau laring setelah kecelakaan. atau operasi untuk kanker laring. Tergerak untuk ikut dalam penelitian ini.

“Saya kemudian didekati oleh Profesor John Schofield yang mulai berpikir tentang peluang arkeologis dan warisan dari perkembangan baru ini,” kata David

“Karena itu menemukan Nesyamun dan menemukan saluran suaranya dan jaringan lunaknya sangat cocok bagi kita untuk dapat melakukan ini,” tambahnya.

Profesor Joann Fletcher, dari departemen arkeologi di University of York, menambahka, “Pada akhirnya, kolaborasi interdisipliner yang inovatif ini telah memberi kita kesempatan unik untuk mendengar suara seseorang yang sudah lama meninggal karena pelestarian jaringan lunak mereka dikombinasikan dengan perkembangan baru di teknologi.”

“Dan sementara ini memiliki implikasi luas untuk perawatan kesehatan dan tampilan museum, relevansinya sesuai persis dengan kepercayaan mendasar orang Mesir kuno bahwa” berbicara nama orang mati adalah membuat mereka hidup kembali,” ujar Joann.