Catatan dari Senayan

Berkah Ramadhan, Bersatu Melawan Teroris

RAMADHAN mubarak, Ramadhan yang penuh berkah. Ramadhan Kariim, Ramadhan mulia. Kalimat itu menjadi idiom, dambaan dan realitas yang dikehendaki setiap muslim. Suasana dan dan damai akan dapat menyemangati untuk memaksimalkan amalan Ramadhan. Maka aksi teror beruntun di Indonesia adalah anomali Ramadhan. Kita cemas dan resah oleh aksi-aksi di Mako Brimob Depok, di sejumlah lokasi di Surabaya, di Mapolda Pekanbaru, dan tempat lainnya di negeri tercinta akhir-akhir ini.

Aksi-aksi terorisme seperti itu memang tak seperti biasa. Dilakukan terlalu nekad dan di luar nalar akal sehat. Di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, sejumlah tahanan membunuh empat aparat secara sadistis. Di Surabaya, ayah bersama ibu membawa anak-anaknya meledakkan diri di tiga kompleks gereja dalam waktu hampir bersamaan. Di Pekanbaru, empat orang mendobrak masuk Mapolda dan nekad menyerang aparat. Seorang anggota Polri gugur.

Peristiwa sporadis dalam tempo dengan modus baru menyentakkan kita. Tidak hanya menyisakan duka, tapi rasa kaget, gemas dan geregatan menjadi satu. Ternyata dalam suasana menyambut Ramadhan ada anak-anak bangsa yang tanpa sebab yang rasional tega membunuh saudara-saudara sebangsa. Bahkan ayah dan ibu pun tega mengorbankan anaknya meledakkan diri.

Dunia internasional pun merespon cepat. Ada beberapa negara yang ikut prihatin dengan tragedi menjelang Ramadhan ini. Ada yang mengutuk keras. Empat belas negara merespon dengan mengeluarkan travel warning, agar warga negara masing-masing waspada dan hati-hati berkunjung ke Indonesia, kalau perlu menghindari. Kita pun bisa memaklumi.

Anehnya ada tokoh-tokoh masyarakat kita yang merespon rentetan tragedi itu secara aneh dengan menyalahkan pemerintah dan aparat. Menuding semua ini karena pressure yang berlebihan terhadap kehidupan beragama. Kata mereka akibat penzaliman masif yang dilakukan penguasa terhadap ulama, karena lemahnya intelijen, dan seterusnya. Duka bangsa dimanfaatkan untuk kepentingan politik mendiskreditkan aparat dan pemerintahan Presiden Joko Widodo. Dimanfaatkan pula untuk kepentingan politik menjelang Pemilu 2019.

Setelah ditelaah motif dari semua kejahatan terorisme menjelang Ramadhan ini sama sekali tidak terkait dengan kesalahan tata kelola pemerintahan, keteledoran aparat, kelemahan intelijen dan sebagainya. Hasil kajian dan dengan akal sehat kita orang awan saja ditemukan kesimpulan bahwa seluruh rangkaian aksi para “jihadis” tetap pada niat orang-orang yang “kurang waras” yang asal bunuh dan sembarang menebar nyawa atas bisikan ajaran sesat.

Maka pasca aksi-aksi terorisme itu bangsa kita memetik hikmah besar: bersatu melawan terorisme, bersepakat memerangi sikap jahili. Menyadari ada yang salah dalam mencegah berkembangnya terorisme-radikalisme dan melawan para pelakunya. Aparat keamanan kita sesungguhnya sudah siap berada di garda terdepan. Tapi negara dan bangsa kita tidak kunjung memberikan mandat secara penuh. Ibarat mereka kita beri senapan hampa, tanpa dilengkapi peluru.

Peluru itu berupa regulasi utama yang mengatur sejumlah batasan berkaitan dengan terorisme. Apakah terorisme, siapa terduga pelakunya, kapan mereka bisa ditindak, kapan dan siapa yang bisa menindak, dan seterusnya. Pemerintah dan parlemen tak kunjung bersepakat memutus undang-undang antiterorisme. Masih banyak legislator dan politisi kita yang tak menyadari bahwa keberadaan UU itu sangat mendesak ketika teroris sudah di depan mata. Mereka lebih mengedepankan kecurigaan ketimbang menyadari urgensi undang-undang itu.

Maka aksi-aksi terorisme menjelang Ramadhan yang mengorbankan puluhan nyawa pelaku dan masyarakat akhirnya melahirkan hikmah besar, kesadaran bersama bahwa kita tidak perlu buang waktu, tidak usah berdebat panjang, sesungguhnya UU antiterorisme adalah keniscayaan dan kebutuhan bersama untuk menyelamatkan bangsa. Kita tidak ingin porak poranda seperti yang dialami bangsa Suriah, Yaman, dan negara-negara berkonflik internal lainnya. Pada akhirnya pemerintah dan DPR menyepakati UU Antiterorisme. Kesadaran yang sebenarnya terlambat. Terlalu banyak korban akibat kelambatan itu. Meski terlambat, ada UU itu tetap lebih baik ketimbang kosong (rechtsvacuum) seperti selama ini.

Salam.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close