Berisiko Tinggi, Perbankan Hati-hati Kucurkan Kredit ke Tiga Sektor Ini

Berisiko Tinggi, Perbankan Hati-hati Kucurkan Kredit ke Tiga Sektor Ini

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Perbankan saat ini sangat hati-hati dalam mengucurkan kreditnya kepada sektor perdagangan, sektor konstruksi dan sektor pertambangan.

“Asumsi para bankir, tiga sektor ini cukup tinggi resiko kredit macetnya atau non performing loan/NPL),” kata Sekretaris Perusahaan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Ryan Kiryanto, dalam diskusi panel Proyeksi Perekonomian 2019, Peluang dan tantangan bagi UKM di Kementerian Koperasi dan UKM, Rabu (7/11/2018).

Ryan Kiryanto menambahkan, secara umum kredit perbankan tumbuh menjanjikan hingga Oktober 2018 kemarin yaitu 12,69 persen year on year (yoy).

Capaian ini cukup tinggi dibandingkan bulan Agustus yang hanya 12,12 persen yoy. Namun di balik tingginya pertumbuhan kredit ini resiko NPL juga berpotensi naik khususnya pada tiga sektor tersebut.

“Sekarang ini perbankan (termasuk BNI) ekstra hati-hati untuk mendanai tiga sektor ini,” katanya.

Baca Juga

Ia menambahkan, bukannya BNI tidak akan kucurkan kredit sama sekali tapi BNI lebih selektif, karena tidak semua pelaku usaha dari tiga sektor ini bermasalah.

Berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI), per Agustus 2018 NPL di sektor perdagangan mencapai 3 persen dari total kredit yang disalurkan seluruh perbankan, konstruksi sebesar 2,8 persen dan sektor pertambangan sebesar 1,7 persen.

Meski tiga sektor ini dipandang memiliki resiko tinggi bagi perbankan, namun bukan berarti BBNI dan perbankan lainnya sama sekali menyetop penyaluran kreditnya.

“Memang banyak yang kreditnya bermasalah, yang tidak masalah ini yang akan tetap menjadi target pendanaan dari perbankan,” kata Ryan.

Dikatakannya, secara wilayah NPL tertinggi terjadi di Kalimantan Timur yaitu 5,7 persen. Karena wilayah ini banyak sektor usaha yang bergerak di bidang lertambangan, sementara pada periode tersebut sektor pertambangan tengah mengalami kelesuan akibat kenaikan harga batubara.

“NPL di Kalimanta Timur itu tertinggi di Indonesia, banyak pelaku usaha terdampak. Di luar bagian Kalimantan Timur seperti Kalimantan Selatan atau Kalimantan Barat juga cukup tinggi,” katanya.

Ia menambahkan, tipikal Kalimantan itu bertumpu pada Sumber daya alam, begitu sumber dayanya terganggu, maka NPLnya berpotensi tinggi. (JS)