Berikut Saham Pilihan di Tengah Ledakan Kasus Covid-19

Berikut Saham Pilihan di Tengah Ledakan Kasus Covid-19
Ilustrasi

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,25 persen pada perdagangan pekan lalu atau naik dari 6.007 menjadi 6.022. Pada periode sama, investor asing membukukan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp1,32 triliun.

CEO Sucor Sekuritas Bernadus Setya Ananda Wijaya memprediksi indeks bergerak cenderung menguat pada awal pekan, karena sentimen pasar global.

Indeks Dow Jones di AS menguat 0,69 persen pada akhir pekan lalu. Penguatan indeks dipicu oleh pertumbuhan Indeks Belanja Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) AS pada Mei 2021.

Melansir CNN Business, Kementerian Perdagangan AS mencatat pertumbuhan PCE sebesar 3,4 persen pada Mei 2021. PCE menjadi yang tertinggi selama 29 tahun terakhir atau sejak 1992 silam.

Menurut Bernard, catatan PCE yang sesuai dengan ekspektasi pasar menjadi salah satu indikasi bahwa perekonomian di AS mulai pulih dari pandemi covid-19.

"Indeks Dow Jones ditutup meningkat 0,69 persen diakibatkan karena sentimen beli di AS dipicu oleh PCE yang meningkat 2,4 persen secara tahunan pada Mei," terang dia kepada CNNIndonesia.com, Senin(28/6).

Di dalam negeri, pasar bursa masih dihantui oleh ledakan kasus covid-19 yang sejak pekan lalu telah mencapai kasus tertinggi, yaitu 21.342 kasus. Sehingga, kenaikan indeks masih akan terbatas.

Ia mengatakan tingkat ketersediaan rumah sakit yang mulai penuh membuat pelaku pasar mulai khawatir. Pasalnya, tingkat ketersediaan rumah sakit berbanding lurus dengan pembatasan aktivitas masyarakat di luar rumah.

Jika ekonomi melambat dan capaian ekonomi kuartal II 2021 melambat di bawah ekspektasi pemerintah, yaitu 7 persen, maka kemungkinan akan terjadi penjualan (sell off) investor.

Ledakan kasus covid-19 perlu menjadi catatan karena Indonesia menjadi negara tertinggi kelima dengan tambahan kasus harian covid-19 terbanyak dunia, hanya kalah dari India, Brasil, dan Colombia.

Meskipun was-was, namun ia optimis dampak ekonominya tidak akan terlalu dalam karena pemerintah telah memastikan tidak akan memberlakukan kebijakan ekstrem dan melanjutkan PPKM Mikro.

Bernard mengungkapkan dua skenario perkembangan kasus covid-19 pekan ini. Pertama, jika kasus bisa ditekan di bawah 15 ribu per hari, maka ia memprediksi IHSG dapat melaju di rentang 5.957-6.117.

Tapi, bila kasus covid-19 tetap tinggi di kisaran lebih dari 15 ribu per hari, Bernard memproyeksikan indeks bakal sulit menembus level 6.117 dan akan bergerak di kisaran 5.957-6.085.

"Terutama bila indeks berada di level support 5.957, ini bisa dijadikan kesempatan untuk beli di harga murah (buy on weakness)," imbuhnya.

Lebih jauh, ia juga memperkirakan pelaku pasar asing masih akan melanjutkan pembelian bersih. Dari berbagai saham yang diburu asing pekan lalu, Bernard melihat ada potensi asing masih membidik beberapa saham besar.

Salah satu sektor yang diperkirakan menikmati pembelian bersih adalah sektor perbankan, khususnya saham-saham bank BUMN, seperti PT BNI (Persero) Tbk atau BBNI dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI.

BBNI di harga penutupan pekan lalu, yakni 4.760 masih murah untuk dibeli. Sedangkan untuk BMRI, ia menyarankan untuk membeli di area 5.800-5.900.

Saham potensi bidikan asing lainnya adalah PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk atau TLKM dengan rekomendasi area beli di 3.220-3.260. "Dengan covid-19 seperti pisau bermata dua, TLKM malah mampu meningkatkan penjualan datanya," jelasnya.

Di sisi lain, Bernard membeberkan sektor teknologi masih memiliki peluang cuan karena masih dilirik pelaku ritel. Salah satu saham yang menarik banyak minat investor adalah IPO Bukalapak yang dikabarkan akan melantai pada tahun ini.

Bernard mengatakan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) bakal diuntungkan karena memiliki saham di Bukalapak dan telah berpindah sektor dan masuk dalam IDX sektor teknologi.

"Bila berhasil menembus resisten 2.600, maka akan tercetak rekor all time high. Kami prediksikan EMTK mampu mencapai target 3.000," bebernya.

Saham lainnya yang ia rekomendasikan adalah PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) yang memegang layanan streaming film online, Vidio.

Bernard menyebut saham SCMA bisa menjadi pilihan karena Vidio merupakan salah satu layanan saingan terbesar Netflix di Indonesia. Sucor Sekuritas memasang target 3.000 bila SCMA mampu menembus area 1.730.

"Penopang sektor teknologi, yaitu penyiaran menara seperti PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) juga bisa menjadi pilihan. Strategi beli di area 3.000-3.100 dan bila menembus 3.250 ditargetkan secara fundamental di 4.000," jelasnya.

Yang perlu diperhatikan oleh investor di pekan ini adalah rilis laporan keuangan emiten kuartal I 2021 yang paling lambat dipublikasikan akhir Juni nanti.

Dari beberapa emiten yang masih belum melaporkan lapkeu, Bernard menyatakan ada dua perusahaan yang berpotensi mencetak pendapatan gemuk. Pertama PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) yang diproyeksikan meraup pendapatan besar dari kenaikan harga minyak sawit.

Kedua, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) ditopang pendapatan iklan dari dua program berating tinggi, yaitu Indonesian Idol dan sinetron Ikatan Cinta.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee juga tak memungkiri rencana IPO miliaran dolar dua unicorn teknologi di bursa saham Indonesia pada akhir tahun ini memicu permintaan untuk saham-saham afiliasi.

Kedua perusahaan yang dimaksud adalah GoTo dan Bukalapak. Salah satu perusahaan yang diuntungkan adalah peritel PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) yang memiliki sekitar 4,7 persen dari aplikasi ojek online PT Karya Anak Bangsa alias Gojek.

Sepanjang tahun ini MPPA telah mengalami kenaikan 929 persen. Tak hanya MPPA, induknya atau PT Multipolar Tbk (MLPL) juga mengalami kenaikan hingga 914 persen sepanjang tahun ini.

Di sisi lain, PT Bank Jago Tbk (ARTO) yang 21 persen sahamnya dimiliki oleh Gojek juga telah naik 297 persen.

Ditopang oleh sektor teknologi dan sentimen luar negeri, Hans optimis IHSG akan terkonsolidasi menguat di awal pekan dengan rentang gerak di level support 5.884-6.003 dan resistance di level 6.067-6.130.

Namum demikian, patut diingat, ia melihat potensi koreksi di akhir pekan nanti. Adapun saham-saham pilihannya pekan ini adalah EXCL, ADRO, BHIT, BJBR, dan WIKA.