Opini

Berharap Kepada Kaum Cerdik Pandai di Kubu Prabowo

SAYA membaca daftar calon menteri jika Prabowo menjadi presiden. Daftar itu beredar luas di media sosial. Cukup banyak nama para cerdik pandai di sana: Rizal Ramli, Salim Said, Chusnul Mariyah, Bambang Widjojanto, Drajat Wibowo, Didik J Rachbini dan Rocky Gerung.

Sebagian dari mereka tak hanya akademisi, tapi juga aktivis. Sebagian dari mereka tak hanya intelektual, tapi dikenal pemberani menyatakan apa adanya.

Mereka sudah banyak menyatakan harapan tentang ideal Indonesia. Sekarang gantian, kita berharap kepada mereka.

Tapi apa yang kita harap mereka kerjakan? Tiga hal saja. Tak usah banyak. Namun jika dikerjakan, dengan keberanian yang pernah mereka tunjukkan dalam jejak selama ini, dengan kecerdasan yang sudah kita tahu, mereka dapat membuat situasi hiruk pikuk masa kini lebih baik.

-000-

Sebelum menyampaikan tiga harapan itu, kita apresiasi dulu mantan presiden SBY. Betapa ia menunjukkan kelasnya sebagai negarawan. Ketika ia melihat ada kepentingan negara kurang diuntungkan, politik partisan ia kalahkan.

Lihatlah sikapnya. Ketika pawai paling akbar kubu Prabowo di GBK Jakarta tak menggambarkan keberagaman Indonesia, lantang SBY berseru. Jangan eksklusif. Indonesia untuk semua. All for All.

Ketika minimal 6 lembaga survei menyampaikan hasil quick count di minimal 13 stasiun TV, dan ini quick count yang sudah puluhan kali dibuat lembaga survei itu, dengan jejak yang tak pernah salah, SBY membaca gelagat.

Semua Quick Count memenangkan Jokowi dengan angka 54-55 persen. Terbaca ketidak puasan kubu Prabowo mulai riuh rendah. Bahkan sebelumnya, Amien Rais menyerukan people power jika pemilu curang.

SBY kembali bersikap. Ia mulai menarik pasukan Demokrat dari markas Prabowo. SBY kembali menyerukan jangan pernah melakukan tindakan yang melawan hukum dan melanggar konstitusi.

Tapi hal serupa apa yang kita harap dilakukan oleh kaum cerdik pandai di kubu Prabowo?

-000-

Pertama, kita harap para cerdik pandai itu mendekati Prabowo, rebut Prabowo dari pengaruh lingkaran yange hanya membuat ABS (Asal Bapak Senang) saja.

Rizal Ramli hingga Rocky Gerung sebaiknya bersatu mendatangi Prabowo. Jangan biarkan Prabowo malah lebih dipengaruhi oleh mereka yang diragukan kemampuan untuk membuat penialain rasional.

Contoh paling sederhana: Klaim kemenangan. Prabowo merasa mempunyai data perhitungan real count. Ia pun mengklaim menang 62 persen. Karena data itu, bahkan ia membuat perayaan kemenangan.

Bukankah para cerdik pandai di kubu Prabowo dapat dengan mudah membantu Prabowo menelaah kebenaran laporan real count itu? Dan itu teramat sederhana. Matematika tingkat elementer.

Misalnya, cukup dengan menunjukkan, apakah data real count itu valid. Apakah itu bukan data palsu. Katakalanlah itu valid, tapi apakah sudah cukup prosentase data yang masuk untuk mengklaim kemenangan?

Apakah data itu diambil dari 34 provinsi secara proporsional dan random? Ataukah data Real Count itu hanya berasal dari provinsi yang kubu Prabowo menang saja.

Dari 34 Provinsi, memang Prabowo menang di 14 provinsi. Jika data itu mayoritas hanya dari 14 provinsi yang menang, dan hanya sedikit saja, tidak proporsional dari 20 provinsi yang Prabowo kalah, jelas itu cara menghitung yang salah.

Terlalu besar klaim kemenangan itu jika bersandar pada kesalahan elementer matematika.

Saya meyakini ada yang salah dalam klaim kemenangan Prabowo itu karena saya sudah 200 kali melakukan Quick Count. Semua hasil Quick Count LSI Denny JA tak pernah meleset soal siapa yang menang. Di tahun 2019, yang menang bukan Prabowo! Yang menang Jokowi!

Mau kah, berani kah kaum cerdik pandai di belakang Prabowo memeriksa klaim kemenangan Prabowo itu?

-000-

Kedua, dekati Prabowo, beri masukan alternatif soal apa yang sebaiknya dilakukan sebelum keluar hasil resmi KPU. Memang berdasarkan jadwal, hasil resmi KPU akan dilakukan tanggal 22 Mei 2019.

Tapi perhitungan manual bisa dilacak prosentasenya di website resmi KPU. Di awal Mei, data sudah menunjukkan perhitungan di atas 90 persen. Hasil resmi KPU resmi kemudian tak akan banyak berbeda dengan data 90 persen itu.

Sebelum tiba data itu, rebut Prabowo dari kaum demagog. Tiada guna manuver perayaan kemenangan, jika ujungnya ternyata kalah. Di era digital, semua manuver yang ternyata salah akan menjadi komedi abadi.

Jejaknya sudah ada. Di tahun 2014, Prabowo sudah sujud syukur merayakan kemenangan. Dan kita tahu, betapa sujud syukur Prabowo itu kini menjadi bulan-bulanan publik.

Di tahun 2019, Prabowo juga sudah terlanjur sujud syukur kembali. Tapi Prabowo masih bisa diselamatkan dari komedi lebih jauh.

Maukah dan berani kah kaum cerdik pandai di belakang Prabowo menahan Prabowo agar menunda semua rencana perayaan akibat klaim kemenangan?

-000-

Ketiga, dekati Prabowo, berikan pandangan alternatif soal cara mengukur kecurangan pemilu. Kini beredar luas sekali aneka video soal kecurangan. Di era segala hal bisa diedit, publik awal kadang tak bisa membedakan mana yang asli, mana yang edit.

Sampaikan kepada Prabowo, pasti ada ketidak sempurnaan dalam pemilu. Apalagi untuk pemilu Indonesia 2019 yang paling besar dalam sejarah manusia. Sekali lagi saya ulangi; pemilu Indonesia 2019 paling besar dalam sejarah manusia.

Digabungnya pemilu presiden dengan pemilu legislatif, banyaknya nama calon dari setiap partai di aneka dapil, membuat kerumitan sendiri.

Pasti ada ketidak sempurnaan. Namun ada ukuran untuk tahu dan menentukan. Apakah ketidak sempurnaan ini tidak signifikan untuk mempengaruhi pemilu. Ataukah ini kelas kecurangan yang massif, sistematis dan terstruktur.

Berikan pula rekomendasi yang sesuai dengan prosedur demokrasi. Hindari rekomendasi yang dapat berujung kerusuhan, apalagi jika semata didasari oleh salah baca data.

Rebut Prabowo dari para demagog yang ingin mencari keuntungan dari gunjang ganjing.

Mau kah dan berani kah para cerdik pandai di belakang Prabowo merebut Prabowo dari bujukan yang membuat semua kita menyesal di kemudian hari.

-000-

Saya termasuk yang percaya dengan integritas dan keberanian teman teman para cerdik pandai yang kita di belakang Prabowo.

Rizal Ramli, Salim Said, Chusnul Maryah, Didik J Rachbini, Drajat Wibowo, Rocky Gerung, Bambang Widjojanto, the Big Brother is watching you! Tapi Big brother di era digital bukan pemerintah. Ia adalah Google Search yang serba mencatat.

Om Google segera merekam apa yang dikerjakan dan tidak dikerjakan kaum cerdik pandai ini paska pencoblosan, 17 April hingga 22 Mei 2019.

Kitapun bersetuju dengan kearifan lama. Sebuah bangsa bisa terpuruk bukan karena banyaknya orang jahat. Tapi karena para cerdik pandai, berdiam diri, tidak bertindak mengambil tanggung jawab.

Dan inilah momen yang ditunggu. Apakah para cerdik pandai di belakang Prabowo ini benar benar menjalankan politik akal sehat yang sering mereka propagandakan?

KOMENTAR
Tags
Show More
Close