Bergulat Demi Transisi Blok Rokan

Bergulat Demi Transisi Blok Rokan

ASA Pertamina untuk mempercepat proses transisi blok Rokan, Riau yang saat ini dioperasikan Chevron Pacific Indonesia (CPI) sampai sekarang belum menemui titik terang. Alotnya negosiasi percepatan ini ditenggarai karena terganjal persaratan liabilitas dan finansial yang belum terselesaikan. Memang secara hukum hak CPI mengelola blok ini berlaku hingga 8 Agustus 2021 mendatang.

Sebenarnya ada alasan logis dibalik niat percepatan transisi ini yaitu adanya kekhawatiran melorotnya produksi minyak blok rokan yang sulit dihentikan. Lazimnya, dalam situasi seperti ini perlu tindakan teknis untuk terus mempertahankan stabilitas produksi saat ini. Apa mau dikata kebutuhan itu terabaikan karena beragam alasan terutama isu keekonomian. Menurut data yang dilansir dari sejumlah sumber menunjukan bahwa laju penurunan alami (natural declining rate) produksi minyak blok Rokan faktanya sangat tinggi yakni 38 persen. Tentunya kondisi ini sangat merisaukan. Konon bila kondisi ini diabaikan (do nothing), bukan tidak mungkin laju penurunan ini bisa anjlok ke angka 60 % saat peralihan pengelolaan blok dari CPI kepada Pertamina,

Minimnya investasi aktivitas pemboran (infill drilling, side track atau sumur baru) ataupun aplikasi steam flood dan chemical EOR ditenggarai menjadi penyebab utama terjadinya penurunan produksi tersebut. Pada tahun 2013, blok Rokan yang mengandalkan lapangan Minas, Duri dan Bekasap ini masih mampu memproduksi minyak sebesar 315.00 Barel Oil Per Day (BOPD). Namun pada tahun 2018, kendati masih dilakukan pemboran di 89 sumur, jumlah produksi minyak menurun menjadi 230.000 BOPD dan terakhir di tahun 2019 semakin anjlok menjadi 190.000 BOPD. Bahkan diperkirakan tahun 2020 kemampuan produksi blok ini hanya sekitar 161.000 BOPD.

Sejatinya perjuangan mempercepat transisi itu juga ditujukan untuk mempersiapkan diri agar Pertamina sedini mungkin bisa menyusun kerangka dan fondasi bisnis yang baik dan benar, disamping mengkonslidasikan dan mengkoordinasikan segala tindakan teknis maupun non teknis yang diperlukan. Kepekaan seperti ini sangat beralasan mengingat karakter operasi bisnis blok Rokan ini tergolong rumit dan komplek. Mereka tidak mau pengalaman pahit di blok terminasi terdahulu yaitu West Madura offshore di Jawa Timur maupun Mahakam di Kalimantan Timur terulang kembali. Pertamina sadar bahwa proses transisi dengan waktu yang pendek akan menjadi masalah terutama dalam menjaga stabilitas produksi. Pendek kata Pertamina ingin kerja all out di blok Rokan.

Pada saat ini blok Rokan masih menjadi penyumbang produksi minyak terbesar nasional kedua, setelah ExxonMobil di lapangan Banyu Urip Bojonegoro. Bila produksi minyak dari blok ini menurun maka dikhawatirkan akan berpotensi menyebabkan dampak terhadap membengkaknya angka defisit impor minyak Indonesia. Sehingga percepatan masuknya Pertamina di blok Rokan ini dipandang sebagai langkah strategis bagi kepentingan nasional karena memiliki residu-residu penting yang kohesi vertikalnya bersinggungan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Melihat pentingnya konteks ini maka semua pihak harus menempatkan isu percepatan menjadi pekerjaan krusial yang harus segera diselesaikan. Saat ini tercatat jumlah kebutuhan itu diperkirakan mencapai sekitar 1,4 – 1,5 juta BOPD sementara produksi minyak nasional tidak lebih dari 800.000 BOPD. Gap sekitar 600.000 – 700.000 BOPD harus diimpor untuk memenuhi kebutuhan. Tercatat pengeluaran negara untuk import minyak mentah saat ini adalah sekitar U$ 5,7 miliar dan impor hasil minyak mencapai US$ 13,7 miliar

Kontrak Blok Rokan

Blok Rokan dengan luas konsesi 6220 km2 ini, terdiri atas 96 lapangan dimana 3 (tiga) lapangan yang terkenal yaitu Minas, Duri dan Bekasap merupakan sentra produksi blok Rokan. Lapangan Minas ditemukan oleh seorang Geolog asal Amerika, Wakter Nygren, pada tahun 1939. Jumlah ksumberdaya minyak yang ditemukan mencapai 6 (enam) miliar barel dan menghasilkan minyak yang dikenal dengan jenis Sumatera light crude. Sedangkan lapangan Duri ditemukan pada tahun 1941 dan mulai berporduksi tahun 1958. Caltex (nama lama CPI) sendiri mulai beroperasi di Indonesia sejak tahun 1924 dan memperoleh kontark pertama dari Pemerintah Indonesia pada tahun 1971 untuk jangka waktu 30 tahun. Semenjak itu hingga akhir 2017 tercatat bahwa total produksi blok Rokan mencapai 11,5 miliar barel minyak. Lapangan Minas yang dikelola semenjak tahun 1970 telah memproduksi minyak sebesar 4,5 miliar barel dan pada masa jayanya lapangan ini pernah menembus angka produksi sebesar 1 juta BOPD. Saat ini lapangan Minas yang sudah marjinal ini masih mampu menghasilkan produksi sekitar 45.000 BOPD. Sementara penemuan cadangan minyak terbesar saat itu di Asia Tenggara adalah lapangan Duri. Lapangan ini menghasilkan minyak mentah yang dikenal sebagai Duri crude dengan jumlah produksi mencapai 300 ribu BOPD. Hingga saat ini jumlah minyak yang terkuras dari lapangan Duri ini sebesar 2,5 miliar Barel

Kontrak Production Sharing (PSC) CPI di blok Rokan akan berakhir pada 8 Agustus tahun 2021. Cadangan terbukti blok rokan yang tersisa masih cukup besar yakni diperkirakan mencapai 1,5 miliar barel. Sehingga meski kontrak CPI belum berakhir, CPI kemudian mengajukan perpanjangan 20 tahun kontrak tambahan kepada Pemerintah mulai 2021 hingga tahun 2041, dengan nilai investasi sebesar US$ 88 miliar. Di tengah permintaan itu, ternyata Pertamina juga tertarik untuk menggarap blok tersebut, dengan ikut serta menyerahkan proposal kepada Kementerian ESDM. Investasi yang ditawarkan oleh Pertamina adalah sekitar U$ 70 miliar untuk 20 tahun ke depan dengan komitmen kerja pasti sebesar U$ 500 juta ditambah signature bonus sebesar U$ 784 juta dan pendapat negara sebesar U% 57 miliar, disamping memberikan hak participation interest kepada Pemerintah Daerah sebesar 10 persen. Setelah mengevaluasi proposal yang diajukan oleh CPI maupun Pertamina. Pemerintah beranggapan bahwa proposal Pertamina lebih menarik, terutama dari sisi komersial. Sehingga pada tanggal 31 juli 2018 Kementerian ESDM memutuskan untuk mempercayakan pengelolaan blok Rokan hingga 20 tahun ke depan kepada Pertamina. Setelah keputusan tersebut, babak baru persiapan proses transisi dilakukan.

Proses transisi ini berlangsung sangat alot sehingga berdampak terhadap kinerja operasi blok Rokan, terutama menurunnya produksi migas yang mencapai rata-rata sekitar 20.000 ribu per hari. Untuk itu, diperlukan investasi dan langkah-langkah baru dalam bentuk pemboran sumur produksi. Terkait hal ini, pihak manajemen CPI pernah menyampaikan 3 (tiga) skema transisi melalui aktivitas pemboran, yaitu : pertama CPI akan mendanai dan melaksanakan pemboran, kedua CPI yang mendanai dan Pertamina yang melakukan pemboran, serta ketiga Pertamina yang medanai dan melakukan pengeboran. Berdasarkan hal ini Pertamina menawarkan pemboran 20 sumur, disamping memperbaiki sistem pemipaan yang dinilai sudah rapuh.

Jangan Menyerah

Lalu bagaimana agar Pertamina dapat mempercepat transisi ? Pertamina never give up adalah jawabannya.

Istilah never give up adalah suatu tindakan kebajikan yang memiliki nilai universal dan acapkali digunakan ketika dalam menghadapi situasi yang menyebabkan kondisi yang kurang/tidak bersemangat. Kepekaan menghadapi kondisi seperti ini perlu segera disikapi secara bijak untuk mengembalikan gairah guna merebut momentum yang diperjuangkan. Bisa jadi, perbincangan dan negosiasi yang alot dan panjang antara Pertamina dengan CPI tentang hal-hal terkait liabilitas, tata kelola, finansial dan sebagainya bisa jadi membuat pihak-pihak yang berkepentingan diliputi rasa frustasi, yang kemudian menurunkan semangat juang percepatan transisi ini. Bila kondisi ini tidak segera tertangani maka bukan tidak mungkin situasi yang dihadapi semakin sulit hingga membawa proses transisi terbengkalai. Dalam hal ini, seluruh pihak harus menyematkan frasa never give up hingga menemukan titik terang yang dibutuhkan.

Blok Rokan menjadi salah satu kontributor penting produksi nasional. Menurunnya produksi minyak dari blok ini berimbas kepada menurunnya produksi nasional, yang pada gilirannya akan mendorong kenaikan angka defisit impor migas. Oleh karenanya, dalam proses negosiasi transisi ini semua pihak wajib menempatkan kepentingan nasional diatas kepentingan lainnya, kendati harus dilakukan dengan pendekatan business to business. Melalui spirit baru, semua pihak yang berkepentingan harus berani menyuarakan kesulitannya, memberikan informasi yang transparan dan akuntabel, serta membuka segala hal bagi menciptakan kemudahan. Menghimpun informasi secara rinci dari berbagai sumber, baik internal maupun eksernal, bagi Pertamina maupun CPI merupakan suatu keniscayaan. Tujuannya adalah mengatur kembali langkah-langkah konstruktif yang dibutuhkan, sehingga mampu memperkuat kembali fondasi kerja sama yang lebih kuat dengan spirit konsolidasi dan koordinasi yang tepa, lekat dan bijak. Bila hal-hal seperti itu tidak dibangun, bukan tidak mungkin proses negosiasi akan berujung pada suatu kegagalan, yang pada gilirannya memicu semakin sulitnya mencegah krisis produksi minyak di blok ini. Tentunya yang dirugikan dari situasi ini akhirnya adalah negara.