Beragam Corak Karya Lukis Gusmen Heriadi

Beragam Corak Karya Lukis Gusmen Heriadi
Raihul Fadjri

Oleh: Raihul Fadjri

APA yang terjadi ketika seorang pelukis merayakan 25 tahun proses kreatifnya lewat pameran retrospektif? Pelukis Gusmen Heriadi memenuhi ruang pamer Jogja Gallery, Yogyakarta, dengan sekitar 150 karya dua dimensi dari ukuran paling kecil (23 x 32 Cm) hingga ukurang besar (200 x 300 Cm), dari karya lukis cat minyak dan akrilik di atas media kanvas hingga karya sketsa di atas kertas. Karya itu dipajang  pada pameran retrospeksi Gusmen Heriadi bertajuk Belum Selesai, 7 – 30 November 2021.

Yang menarik, karya pelukis kelahiran Pariaman, Sumatera Barat, 18 Agutus 1974, ini menunjukkan dia seniman yang tak terikat pada satu gaya tertentu dan tema (narasi) tertentu. Dia mengeksplorasi gaya yang bersumber dari berbagai gaya dalam seni rupa modern, mulai dari gaya realis, impresif, kubistis, hingga abstrak. Padahal masing-masing gaya (teknik) punya tantangan sendiri. Bahkan pada sejumlah karya Gusmen memakai teknik dan pilihan media yang tak biasa, dengan memadukan cat minyak di atas kertas.

Pada Periode Awal proses kreatifnya (1995-2004) Gusmen sudah menunjukkan keragaman gaya. Misalnya pada karya bertajuk Lingkaran Merah (1996) Gusmen mengeksplorasi gaya kubistik berupa berbagai bentuk kepala manusia. Atau karya bergaya realis (Malam di Kota Besar, 2004). Dia menggarap bentuk-bentuk realis yang menarik dengan tema beragam lewat karya gambar di atas kertas berukuran kecil.

Baca Juga

Sejumlah karya berukuran mungil (30x21 Cm) digarap dengan gaya surealis. Salah satunya bertajuk Koruptor (2002) yang dia bangun dari susunan arsiran garis berupa bentuk figur manusia bertubuh tambun dengan perut buncit dengan mulut melahap pepohonan. Sementara  tangan kiri figur itu menekuk leher unggas perparuh panjang. Sedang pada karya berjudul Lelaki (2002) menggambarkan seorang pria dengan tubuh berotot, kepalanya terbelah penuh berisi bentuk-bentuk tubuh perempuan telanjang.

Gusmen dalam proses kreatifnya bergerak lincah dari satu gaya ke gaya lain. “Saya tak peduli dengan pengkategorian gaya lukisan,” ujarnya. Bagi dia, klasifikasi terhadap karya seni hanya mempersempit daya imajinasinya.

Sedangkan pada Periode Kedua (2005-2021) Gusmen mulai membuat karya seri tematik, antara lain: seri kotak kaca, seri kota, seri kembang alam, seri kabar, seri kitab, seri tamu, seri fashion, seri hening, seri puncak, seri bunyi dan seri semesta intuisi. Beragam tema itupun dia garap dengan teknik yang berbeda.

Pada tema seri kota dengan mengulik ihwal lingkungan, Gusmen melanjutkan karya bertajuk Kekuatan Pohon (2004) berupa hamparan bentuk rumah seperti kerumunan rumah di perkampungan padat kawasan urban dengan bentuk pohon melayang di atasnya. Pada karya terbaru dengan tema yang sama (Save Our Soul, 2006-2009) berupa hamparaan bangunan menjulang dengan tulisan SOS dari citraan berbentuk awan di atasnya. Keduanya cenderung tampil dalam warna monokrom, sebagaimana keseragaman masalah lingkungan yang dihadapi di lingkungan urban.

Corak monokrom juga dia munculkan pada karya berjudul Melayang (2010) berupa bentuk puncak gunung dalam citraan minimalis menyemburkan sederet tubuh manusia dari puncaknya. Pada karya lain dia juga memunculkan bentuk puncak gunung dengan sejumlah citraan figur melayang dalam posisi duduk dengan kaki menyilang (Puncak#2, 2010). Sedang pada karya Malaikat (2016) warna monokrom kebiruan menyelimuti seluruh kanvas yang menampilkan citraan bentuk tubuh pria sebagai subject matter utama.

Perkembangan estetik Gusmen dari citraan bentuk yang datar (flat) di atas kanvas berkembang menjadi bentuk-bentuk bertekstur dengan menonjolkan kekuatan sapuan kuas (brush stroke). Yang menarik, dia tidak cuma mengeksplorasi bentuk-bentuk abstrak pada sejumlah karyanya (Semesta 2019; Tegak Lintang, 2019; Untitled, 2019; Nafas Semesta, 2018-2020) tapi juga mengawinkannya dengan bentuk realis seperti pada karya Tujuh Menggaris Diri (2004-2020) berupa 10 citraan bentuk kaki menjulur dengan berbagai bentuk ujung kaki manusia dan berbagai kaki hewan yang digarap secara realis.

Pada karya bertajuk Senjata Perempuan (2017), Gusmen menorehkan brush stroke bertekstur berupa citraan bentuk perempuan dari punggungnya dengan wajah syahdu dengan tubuh berselimutkan gaun pajang dalam warna pink yang menyembunyikan senjata laras panjang dalam goresan realis. Karya ini seolah menyampaikan pesan: jangan terlena keindahan sosok perempuan. 

Begitu beragamnya pergulatan estetik Gusmen Heriadi selama 25 tahun dia berkarya. Gusmen bak menciptakan sendiri gayanya yang beragam itu melengkapi genre yang sudah ada dalam seni rupa modern. Tak heran tajuk pameran ini—Belum Selesai—dipilih sebagai penanda pergumulan proses kreatifnya yang beragam akan terus berlangsung.  

Baca juga: *Rencong dan Proses Kratif Gusmen Heriadi di Balik Jeruji Penjara* di edisi besok.