Ekonomi

Bendung Produk China, Pemerintah Sudah Siapkan Anti-dumping

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Perang dagang antara China dan Amerika Serikat membikin was-was lantaran tidak menutup kemungkinan barang China dengan harga murah bakal membanjiri Indonesia. Nah, mengantisipasi kondisi itu, pemerintah berencana membuat kebijakan anti-dumping terhadap barang impor China

“Kalau terjadi dumping barang, kami akan kenakan anti-dumping,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Kamis (21/6).

BACA JUGA: Perang Dagang AS-China Memanas, Apa Dampaknya ke Indonesia?

Pekan lalu, genderang perang dagang memang resmi dikibarkan oleh AS. Presiden AS Donald Trump menyetujui kenaikan tarif bea masuk untuk daftar produk perdagangan dengan China senilai USD50 miliar.

Darmin menjelaskan pihaknya akan lebih dulu melakukan diskusi dengan negara pengimpor jika dumping yang kemungkinan dilakukan China mulai terasa. Namun, sebelum menerapkan antidumping, pemerintah akan lebih dulu berdiskusi dengan negara tersebut.

“Nanti dari situ ada dialog duduk bersama, ‘Wah sudah jangan gitulah. Ini sama-sama merugi’,” jelas Darmin.

Adapun jika setelah diskusi, dumping masih dilakukan, pemerintah pun tak segan menerapkan kebijakan anti-dumping. Kebijakan yang dilakukan melalui pengenaan bea masuk tersebut, menurut dia, tak akan dilakukan pada semua barang yang diimpor dari China.

Hal ini lantaran belum semua industri di Indonesia sudah maju atau memiliki skala besar.

“Misalnya produk-produk alumunium atau besi. Indonesia mungkin belum penghasil yang besar dalam bidang itu,” katanya.

Perang dagang AS dan China, menurut Darmin, tak hanya berdampak pada banjirnya produk China di dalam negeri. Perang dagang secara keseluruhan berdampak pada neraca perdagangan dan nilai tukar rupiah.

Seperti diketahui, sejak Selasa (19/6), nilai tukar rupiah kembali melemah dan masuk ke area Rp14.100 per USD. Beruntung, saat ini rupiah sudah lebih membaik ke level Rp14.099 per USD. Namun, bila dilihat sejak tadi pagi rupiah sudah anjlok 1,2 persen.

Sementara, neraca dagang sempat surplus dalam empat bulan pertama tahun lalu, yaitu USD5,33 miliar. Namun, pada periode yang sama tahun ini, neraca dagang justru defisit USD1,31 miliar.

“Itu berarti, yang nomor satu Indonesia harus urusi, yaitu neraca perdagangan itu. Jadi tidak perlu terlalu fokus perang dagang orang-orang itu. Fokus pada urusan kita saja,” ujar Darmin.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close