Bendera Terbakar Sudah!

Bendera Terbakar Sudah!

Oleh: Eros Djarot

PERISTIWA pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang terjadi saat perayaan Hari Santri Nasional di Garut Jawa Barat, telah mengundang polemik yang berkepanjangan. Ada kelompok yang merasa dihina dan marah besar; sementara ada pihak yang membenarkan. Kelompok yang berang, menganggap pembakaran bendera HTI yang menorehkan tulisan kalimat Tauhid merupakan penistaan dan penghinaan yang luar biasa terhadap umat Islam. Sementara yang membenarkan berdalih bahwa yang dibakar adalah bendera HTI dan bukan dimaksud sengaja membakar kalimat tauhid.

Pembakaran bendera terjadi di penghujung acara seusai peserta peringatan menyanyikan lagu Hubbul Wathon dan dilanjut dengan acara hiburan. Tiba-tiba saja ada sekelompok oknum peserta yang sengaja mengibarkan bendera HTI (organisasi terlarang). Padahal dalam rapat awal persiapan peringatan yang dihadiri organisasi massa Islam yang turut berpartisipasi, mereka telah bersepakat bahwa dalam acara peringatan Hari Santri Nasional yang akan digelar dengan damai, mereka bersepakat untuk hanya mengibarkan satu bendera: Merah-putih! Dengan kemunculan tiba-tiba kibaran bendera HTI yang sangat kental bermuatan aroma provokasi, sejumlah oknum Banser terpancing emosinya, sehingga merampas bendera dan membakarnya.

Andai bendera hanya dirampas, disita dan ditahan oleh fihak keamanan setempat, pastilah geger pembakaran ini tidak menyulut amarah massa yang bertebar di seluruh pelosok Tanah Air. Amarah ini wajar saja karena termotivasi dan bahkan jelasnya terprovokasi oleh tayangan pembakaran bendera bermuatan kalimat tauhid yang begitu drastis tersajikan dalam viral tayangan video berdurasi dua menitan. Tayang video ini menjadi sangat provokatif karena tanpa pengantar peristiwa apa pun sebagai pengantar latar belakang sebelum pembakaran bendera HTI terjadi. Sehingga sangat bisa dipahami ketika peristiwa ini menyulut amarah mereka yang terbakar oleh tindakan yang terlihat sebagai perbuatan membakar kalimat tauhid ini.

Andai kan juga peristiwa pembakaran ini tidak diunggah, disebarluaskan dan diviralkan, akankah keributan yang meruncing seperti sekarang ini terjadi? Sehingga pertanyaan diunggahnya video ini dilakukan tanpa sengaja dan semata hanya perbuatan iseng; atau dengan sadar dilakukan karena merupakan bagian dari sebuah desain politik tertentu yang menyimpan agenda besar di balik sekadar pembakaran sebuah bendera, perlu dipersoalkan. Pertanyaan ini tentu mengantar pertanyaan lanjut; siapakah mereka atau dalang mereka yang dengan sengaja menghadirkan bendera HTI di tengah perayaan yang telah disepakati untuk hanya mengibarkan satu bendera: Merah-putih?!

Jangan-jangan terpancingnya emosi para oknum Banser sengaja dipompa untuk secara demonstratif dan heroik membakar bendera di depan khalayak ramai. Karena peristiwa yang penuh emosi tinggi inilah yang memang diharapkan terjadi. Adegan ini sangat dramatik untuk divideokan untuk disebarluaskan sebagai alat pembangkit amarah umat Islam di seluruh penjuru Tanah Air. Mereka faham betul bagaimana komunitas sumbu pendek akan bereaksi keras mengecam tindakan ini ketika mereka melihat hanya sebuah pemandangan yang terfokus pada: sejumlah oknum Banser membakar bendera bertuliskan kalimat Tauhid.

Amarah yang manusiawi dan wajar dari mereka yang menganggap telah terjadi penistaan dan penghinaan terhadap kaum muslim ini, sebaiknya kita jadikan sebagai bahan perenungan lebih jauh. Terutama bagi para ulama yang memilih untuk selalu menebar kesejukan. Bahwa telah begitu jauh upaya untuk mengadu domba antar umat Islam digelar oleh kelompok tertentu di negeri ini. Sehingga bila kita hanya berhenti dan saling serang dan bertahan pada kebenaran masing-masing; maka yang benar dan yang akan menang adalah mereka yang menginginkan hancur dan berantakannya persatuan umat Islam Nusantara yang sejak berabad telah hidup dalam damai dan kerukunan yang tinggi.

Oleh karenanya, menyoal para oknum Banser pelaku pembakaran bendera HTI dan kita hanya berhenti dan berkutat di situ untuk selanjutnya saling umpat, saling tuding, saling serang, dan saling tuntut antar sesama umat Islam, sangatlah suatu perbuatan sangat naif dan merugi. Bila demikian yang terjadi, inilah tanda-tanda bahwa kita telah kehilangan arah dalam menjalankan kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama dalam sebuah negara dimana Pancasila menjadi pegangan dan pandangan hidupnya.

Bila demikian, inilah saat-saat dimana para ulama seantero Nusantara dihadapkan pada tantangan untuk menjalankan fungsi keberadaannya. Dengan tugas utama untuk segera menebar kesejukan dan mengusir kegelapan yang melilit pikiran dan jiwa umat dalam memaknai kehidupan berbangsa, bernegara, beragama, dan berketuhanan Yang Maha Esa.

Negeri ini merindukan sentuhan cinta yang hadir dari ucapan, tindakan, dan sentuhan tangan dan hati ulama yang dipenuhi cinta seluas samudera. Bukan yang penuh amarah dan menebar kebencian dengan ucapan yang justru menghinakan dirinya sebagai sosok yang berlabel dan menamakan diri seorang ulama!

Semoga cinta dari ulama yang kaya batin dan ilmunya, segera hadir dan ke luar sebagai pemenangnya…aamiiin!