Opini

Bencet dan Istiwa’ A‘zham

Silakan Periksa Arah Kiblat Tempat Anda Hari Ini

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

BAPAK. Ini tugu apa?”

Demikian tanya saya kepada ayah saya, ketika saya masih berumur sekitar tujuh tahun. Kala itu, saya masih tinggal di lingkungan Pondok Pesantren As-Salam, Cepu, Jawa Tengah. Pondok pesantren tersebut didirikan oleh kakek saya, K.H. Usman.

Nah, di samping kanan rumah kakek ada sebuah “tugu” kecil. Setinggi satu meter. Di bagian atas dan tengah “tugu” tersebut ada sebuah besi berbentuk persegi empat setinggi sekitar 10 cm. Besi itu tegak di bidang datar yang menjadi puncak “tugu” tersebut. Di bidang datar tersebut ada garis-garis yang kala itu saya tidak tahu untuk apa. “Ini bencet, namanya. “Tugu” dan besi ini digunakan kakekmu untuk mengetahui arah kiblat tepat langgar pondok pesantren ini. Pada bulan-bulan tertentu, kakekmu mengamati “besi” itu. Untuk mengetahui arah Kiblat secara tepat tempat itu,” jawab ayah saya.

Selepas itu, saya diajak masuk ke dalam rumah kakek. Ternyata, di sebuah lemari, tersimpan rubu’ alias astrolabe, sebuah instrumen astronomi berbentuk bulat yang digunakan untuk menentukan lokasi dan memprediksi posisi matahari, bulan, planet, dan bintang. Selain itu, juga kerap dipakai untuk menentukan waktu lokal berdasarkan informasi letak bujur dan letak lintang, survei serta triangulasi. Itulah saat pertama kali saya mengenal rubu’ yang kelak semakin saya kenal ketika saya belajar Ilmu Falak di Institut Agama Islam Negeri Yogyakarta.

Kenangan tentang dialog itu tiba-tiba muncul dalam benak saya, ketika kemarin saya menyimak pernyataan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) bahwa hari ini, Rabu 27 Mei 2020, dan besok, Kamis 28 Mei  2020, akan ada fenomena alam yang perlu menjadi perhatian kaum muslim Indonesia. Yaitu, matahari akan berada tepat di atas Kiblat kaum Muslim, Ka‘bah, yang berada di Kota Makkah. Fenomena alama itu, dalam kalangan para ahli ilmu falak Muslim, dikenal dengan sebutan Istiwâ’ A‘zham.

Istiwâ’ A‘zham tersebut terjadi dua kali dalam setahun. Yaitu pada setiap tanggal 27/28 Mei saat zhuhur di Makkah, pukul 11:57:16 Local Mean Time (LMT/ waktu Makkah) atau bertepatan dengan pukul 09:17:56 Greenwich Mean Time (GMT/waktu Greenwich)  yang bertepatan dengan pukul 16:17:56 Waktu Indonesia Barat/WIB, dan pada tanggal 15/16 Juli saat zhuhur di Makkah (pukul 12:06:03 LMT waktu Makkah) atau bertepatan dengan  pukul 09:26:43 GMT  yang dengan pukul 16:26:43 WIB.

Pada tanggal dan waktu tersebut, lintasan matahari berada tepat di garis lintang Kota Makkah, yakni 21.30’. Dengan kata lain, pada tanggal dan waktu tersebut itulah bayangan setiap benda yang berdiri tegak lurus di permukaan Bumi yang mengalami siang akan menghadap ke arah kiblat. Hal ini dengan catatan, tanggal 27 Mei dan Juli terjadi pada tahun kabisat seperti tahun ini.

Sedangkan pada tahun bukan tahun kabisat, peristiwa itu terjadi pada tanggal 28 Mei dan 16 Juli. Misalnya, pada tahun 2011 Istiwâ’ A‘zham terjadi pada tanggal 28 dan 16 Juli. Karena itu, pada tahun 2020 ini, Istiwâ’ A‘zham terjadi pada 27 Mei dan 15 Juli, karena tahun 2020 ini merupakan tahun kabisat.

Peristiwa tersebut adalah untuk kawasan yang mengalami siang bersamaan dengan Makkah (Indonesia Barat, Asia Tengah, Eropa, dan Afrika). Sedangkan untuk kawasan yang mengalami siang berlawanan dengan Makkah (Indonesia Timur dan Tengah, Pasifik, dan benua Amerika), peristiwa itu terjadi pada 12-16 Januari, pukul 04:30 WIB (11-15 Januari, 21:30 UT/GMT) dan 27 November-1 Desember, pukul 04:09 WIB (26-30 November, 21:09 UT/GMT).

Nah, kini, bagaimanakah cara meluruskan arah kiblat pada tanggal-tanggal tersebut? Hal itu, antara lain, dapat dilakukan secara sederhana sebagai berikut:

Sediakan tongkat lurus dengan panjang kurang lebih satu meter atau benang panjang berbandul;

Cocokkan waktu di tempat tersebut dengan tepat;

Tentukan juga lokasi pengukuran, di dalam maupun luar ruangan. Yang penting, tempat tersebut datar dan masih mendapatkan sinar matahari saat peristiwa istiwâ’ a‘zham berlangsung;

Pasang tongkat dalam posisi tegak atau pasang benang yang sudah diberi bandul serta penyangganya di tempat tersebut;

Jika saat istiwâ’ a‘zham sedang berlangsung, silakan amati bayangan matahari yang terjadi. Bayangan tongkat atau benang tersebut akan menunjukkan arah kiblat. Tandai pula bayangan tongkat tersebut;

Agar bisa menggunakannya di tempat lain, dapat pula bayangan tersebut dilukiskan di atas kertas, lalu arah mata anginnya dicocokkan dengan kompas;
Kini, arah kiblat yang tepat bisa didapatkan.

Jika pada hari Istiwâ’ A‘zham tersebut di suatu tempat awan sedang menutupi matahari atau mendung, metode tersebut masih dapat dilakukan, tetapi dalam batas dua hari sebelum dan sesudah hari tersebut. Hal itu dengan catatan, hari sebelumnya dikurangi tiga menit tiap hari. Sedangkan sesudahnya ditambah tiga menit tiap hari (berlaku kebalikan untuk tanggal 16 Juli).

Hari ini terjadi Istiwa’ A‘zham. Tidakkah Anda ingin tahu arah Kiblat tepat tempat Anda masing-masing secara tepat? Bila iya, silakan lakukan nanti sore atau besok sore.

Silakan!

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close