Belajar dari Petaka Suriah

Belajar dari Petaka Suriah

BEBERAPA hari lalu, tepatnya pada 28 September 2018, di Semarang berlangsung Sarasehan Anti Radikalisme dan Terorisme dengan Nara sumber Syeh Muhammad Sulaiman dari Suriah. Dia adalah ulama dan dosen di Universitas Negeri Syria.

Sarasehan di Convention Hall Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) itu menarik. Syeh Sulaiman mengisahkan derita bangsanya hingga porak poranda. Kisah kelam itu disebarkan agar bangsa-bangsa lain tidak mengalami derita yang sama.

Inti Ceramah Syeh asal Syria itu antara lain, barang siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia berarti tidak berterima kasih kepada Allah SWT. Dia berterima kasih kepada Taj Yasin Maimoen, Wakil Gubernur Jawa Tengah yang mengundangnya.

Taj Yasin adalah alumnus Universitas Syiria. Dia juga berterima kasih kepada para alumni pelajar Indonesia yang pernah belajar di Negeri Syam Suriah itu.

“Ketika saya berkunjung ke Indonesia saya khawatir akan adanya intervensi- intervensi dari luar seperti di negaranya.”

Syeh Sulaiman mengaku datang dari negeri yang punya pengalaman pahit yakni krisis dan konflik. Dituturkannya krisis di Suriah tidak dimulai tiba-tiba, tapi berawal dari proses adu domba dan pemikiran-pemikiran yang menyimpang.

“Pada tahun 2003 saat Amerika Serikat menginvasi Irak, kami sudah merasakan akan berdampak pada negara kami. Konflik dimulai dari media-media yang mempropaganda kebencian atau permusuhan antara aliran Suni dan Syiah. Kami sendiri merasakan adanya upaya pemecahbelahan itu. Meskipun berbeda, saya selaku ulama Sunni selalu bisa hidup berdampingan dengan Syiah karena saling menghargai,” tuturnya.

Sebelumnya di Suriah tidak mempunyai sejarah peperangan antara Sunni dan Syiah. Dia sendiri bingung sebenarnya masalah ini datang dari mana. Setelah muncul kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam, maka munculah isu yang berkembang bahwa ada musuh yang mereka sebut kaum kafir.

Tiba-tiba nasalah jihad menjadi wacana dan kemudian menjadi kenyataan yang menakutkan. Pertanyaannya Apakah jihad itu membolehkan membunuh sesama muslim? Apakah jihad itu menghancurkan negara? Inilah yang disebut gerakan ekstrimisme yang menyimpang.

Ajaran itu datang dari mana dan dari lembaga mana mereka belajar? Siapa yang merekayasa munculnya mereka? Negara-negara non muslim sebenarnya yang mendanai mereka, sehingga apakah itu bisa dinamakan jihad? Maka jadilah Suriah negara yang dulunya aman menjadi berperang, negara yang dulunya makmur menjadi babak belur.

Kembali syeh Sulaiman menuturkan, di sinilah terlihat untuk siapa mereka bekerja dan keuntungannya bagi siapa? “Terlihat bahwa yang diuntungkan adalah Israel karena mengalihkan perhatian dari perang di Palestina. Akibat itu negara kami hancur, harta benda hancur, ratusan ribu jiwa manusia melayang terbunuh. Ada banyak umat Islam yang datang menuju Suriah karena adanya isu propaganda yang dibentuk bahwa di Suriah telah terbentuk negara Khilafah. “

Dia lalu menegaskan, Khilafah seharusnya tidak didirikan atas dasar kekerasan, akan tetapi dengan perdamaian dan persaudaraan.

“Kami sudah mengalami peristiwa pahit yang panjang dan kami baru membangun dan memperbaiki negara dengan proses yang masih panjang. Kami ingin mengingatkan agar bapak ibu menjaga anak- anak agar tidak mudah termakan isu pendirian negara khilafah di Suriah. Di sana ada banyak kelompok-kelompok ekstrim, tidak hanya ISIS.

Tanggung jawab kita bersama, lanjut Syeh Sulaiman, adalah menjaga negara dan jangan pernah diam untuk menjaga negara.

“Jangan biarkan mereka membajak Islam, kita harus membawa Islam yang haqiqi dan membawa Islam yang bersaudara dan mengasihi seluruh manusia dan alam.”

Menurut Syeh Sulaiman, negara adalah tempat kita hidup, tempat kita makan dan bernapas.

“Saya hanya ingin bapak ibu memegang teguh Islam yang siap hidup membangun negara dan merawat negara kalian di jalan Allah SWT. “

Dalam sesi tanya jawab, Syeh Muhammad Sulaiman memberikan jawaban yang jelas tentang berbagai masalah aktual. Antara lain, tinjauan Syeh terhadap maraknya jihad ke Suriah.

Menurut dia jihad itu merupakan syariat dan tidak dapat dihapuskan, akan tetapi apakah jihad itu membunuh sesama muslim? Apakah itu dibenarkan? Dan untuk dipahami ekstremis yang saling membunuh tersebut pasti keduanya akan masuk neraka, karena yang dibunuh dan membunuh sudah berniat untuk membunuh sesama muslim. Hal tersebut menurut Syeh Sulaiman sama sekali tidak dibenarkan di dalam Islam.

Ditanya tentang kondisi Suriah sebelum tahun 2003, kondisi ulama dan Umaro di sana. Menurut Syeh Sulaiman: pada tahun 2003 di media-media ada yang ingin membenturkan antara Sunni dan Syiah. Ada yang tidak suka bahwa situasi di Suriah Islam hidup berdampingan. Situasi awalnya menjadi tidak jelas. Tidak ada yang mengetahui sebenarnya apa yang terjadi.

Masyarakat di sana tidak mengetahui mana kelompok yang benar mana yang salah. Di tempat saya tinggal ada kelompok yang ekstrem atau fanatisme berlebihan. Dia mengajak mereka berdialog bersama para pemuka agama, akan tetapi mereka tidak mau. Syeh Sulaiman pun heran, bagaimana mereka bisa dengan pengetahuan agama yang rendah, mereka memfatwakan siapa yang boleh dibunuh dan siapa yang harus dibunuh, padahal pengetahuan mereka kurang memadai. Ketika aktor-aktor mulai terang siapa di balik semuanya itu, mereka saling serang dan saling membunuh untuk mendirikan khilafah.

Mengapa bisa terjadi konflik separah itu di Suriah ?
Syeh Sulaiman menjawab dirinya juga tidak mengatahui bagaimana awal mulanya, akan tetapi yang diketahui kala itu para ulama berbeda pandangan, yang diawali dengan propaganda media- media massa elektronik yang berdampak adanya pertikaian antar kelompok di Suriah.

“Yang lebih penting bahwa Anda sekalian harus belajar dari pengalaman kami di Suriah, jangan sampai konflik tersebut terjadi di negara anda.”