Belajar dari Norwegia

Belajar dari Norwegia
Todung Mulya Lubis

Oleh: T.  Mulya Lubis

PUKUL 09 00 pagi waktu Oslo saya menerima kunjungan virtual peserta latihan kepemimpinan nasional yang dibawa oleh Lembaga Administrasi Nasional (LAN) yang pesertanya hanya 10 orang. Mereka melakukan ’benchmarking’ di Norwegia khususnya dalam kasus penanganan pandemic covid-19 dan pemulihan ekonomi. 

Saya menguraikan kebijakan Norwegia yang konservatif, tegas dan tetap menjamin pendapatan para pekerja, pegawai dan perusahaan yang harus tutup karena pandemic dengan mengucurkan tunjangan yang dananya diambil dari Sovereign Wealth Fund Norwegia yang dananya memang kaya. Kita tak punya kemewahan untuk itu karena konsep Sovereign Wealth Fund kita beda. Kita tak punya surplus ekonomi yang dimasukkan kedalam Sovereign Wealth Fund kita. 

Jadi Norwegia memang beruntung karena kaya dan di negara kaya seperti Norwegia bisa dipastikan bahwa kebijakan yang mereka ambil seharusnya berhasil. Kata ‘failure’ nampaknya tak dikenal dalam kamus Norwegia mengingat kayanya mereka (plus governancenya yang bagus, demokrasinya penuh dan kebahagiaan warganya dirasakan). 

Lalu saya menjelaskan bahwa Norwegia yang kaya ini juga sudah menggunakan energi terbarukan karena semua energi dihasilkan dari industry hydropower dan solar yang bebas emisi. Semua kendaraan menggunakan energi yang dibuat dari sampah (biomas). 

Mobil listrik di sini jumlahnya sudah lebih dari separuh. Jadi bisa dibayangkan betapa udara di sini sangat bersih. Memang tidak apple to apple kalau membandingkan Norwegia dengan Indonesia tetapi banyak pelajaran yang bisa dipetik di sini.

 Kalau tujuan latihan kepemimpinan nasional ini untuk bisa membuat kebijakan ke depan saya usul agar draft kebijakan yang akan dibuat harus focus pada komitmen untuk melakukan ‘energy shifting’ karena dunia akan melangkah kesana. 

Kita akan menyesal kalau kita tak mulai melakukan itu karena semua investasi akan melihat apakah kita menggunakan energi terbarukan atau tidak. Semua ekspor kita nanti akan dihadapkan pada ’barrier’ bahwa semua produk harus menggunakan energi terbarukan. (*)

Dr. T. Mulya Lubis, Duta Besar Republik Indonesia di Norwegia.