Beda Perlakuan Terhadap Ribka Tjiptaning dan Okky Asokawati

Beda Perlakuan Terhadap Ribka Tjiptaning dan Okky Asokawati

Oleh Tontowy 

NAMA lengkapnya Ribka Tjiptaning Proletariyati. Wanita ningrat Jawa kelahiran 1 Juli 1959 ini, masih duduk sebagai Anggota Komisi IX Fraksi PDI Perjuangan.

Ayahandanya bernama Raden Mas Soeripto Tjondro Saputro, keturunan Kasunanan Solo, juga pemilik pabrik paku di Solo. Selain itu, Raden Mas Soeripto Tjondro Saputro merupakan anggota Biro Khusus PKI.

Ibunda Ribka, keturunan Kasultanan Kraton Yogyakarta bernama Bendoro Raden Ayu Lastri Suyati.

Ketika Ribka berusia 6 tahun, terjadi peristiwa Gerakan 30 September 1965. Peristiwa itu mengubah jalan hidup keluarganya. Ayahandanya tidak pernah lagi pulang ke rumah. Ibundanya dibawa tentara. Sejak itu Ribka dan saudara-saudaranya harus berpindah alamat.

Oktober 2002, Ribka meluncurkan buku bertajuk “Aku Bangga Jadi Anak PKI” yang membuat kegemparan di masyarakat. Isinya, menurut sejarawan Asvi Warman Adam, tentang penderitaan seorang anak yang orang tuanya ditangkap dan dipenjara karena dituduh terlibat peristiwa 1965.

Ribka pun dilabeli PKI, begitu juga dengan partai yang mengakomodasinya sebagai kader politisi nasional.

Okky Asokawati

Berbeda dengan Ribka, Okky Asokawati tidak pernah dilabeli PKI meski orangtuanya terlibat Gerakan 30 September 1965.

Sebelum terjun ke dunia politik, sosok kelahiran Jakarta, 6 Maret 1961 ini dikenal peragawati, model, bintang iklan, pembawa acara televisi, pemain sinetron dan pendiri sekolah modeling “OQ Modeling” di Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Ayahanda Okky Asokawati adalah perwira menengah polisi bernama Anwas Tanuamijaya, dengan pangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP), setara Letnan Kolonel di Angkatan Darat.

AKBP Anwas Tanuamijaya pada tahun 1965, menurut Asvi Warman Adam, menjabat sebagai wakil komandan G30S, satu tingkat di bawah Komandan G30S Letnan Kolonel Untung Syamsuri.

Okky juga meluncurkan buku berjudul “Jangan Menoleh Ke Belakang” pada April 2005. Menurut Okky, “...membutuhkan sebuah keberanian untuk menceritakan siapa dirinya yang sebenarnya beserta masa lampaunya.”

Namun, masa lalu Okky tidak pernah diusik. Mengapa demikian?

Mungkin karena Okky tidak menjadi kader PDI Perjuangan, tetapi menjadi kader Partai Persatuan Pembangunan, sebuah partai Islam.

Sejak 2009, Okky resmi menjadi kader PPP dan menduduki kursi DPR RI untuk periode 2009-2014 dan 2014-2019. Kemudian Okky loncat menjadi kader Partai Nasional Demokrat pimpinan Surya Paloh. Di Nasdem, Okky tidak berhasil menduduki kursi DPR RI.

Meski sudah jelas anak seorang tokoh penting peristiwa Gerakan 30 September 1965, Okky tetap aman-aman saja. 

Arteria Dahlan

Salah satu kader PDI Perjuangan Arteria Dahlan, sempat dinyatakan sebagai cucu dari tokoh PKI Sumatera Barat. Pernyataan itu datang dari wartawan Hasril Chaniago pada sebuah acara diskusi Televisi Swasta di Jakarta, September 2020 lalu. 

Prof. Auzal Halim, Dt. Bagindo Sati, paman Arteria Dahlan dari pihak Ibu, membantah pernyataan Hasril Chaniago. Kakek Arteria Dahlan dari pihak ibu bernama Wahab Syarif, seorang pedagang sukses di Tanah Abang, Jakarta. Sedangkan kakek dari pihak ayah, bernama Dahlan, bukan Bachtaroeddin yang disebut-sebut salah satu pendiri PKI di Sumatera Barat.

Begitulah nasib kader PDI Perjuangan. Ada saja yang mencari-cari keterkaitannya dengan tokoh kiri.

Taufiq Ismail 

Penyair terkenal Angkatan 66, Taufiq Ismail, untung saja tidak menjadi kader PDI Perjuangan. Kalau saja dia jadi kader PDI Perjuangan, boleh jadi akan diperlakukan sama dengan Ribka.

Tahun 2004, Taufiq Ismail meluncurkan buku berjudul “Katastrofi Mendunia, Marxisma, Leninisma, Stalinisma, Maoisma, Narkoba”. Dari buku itu kita bisa peroleh informasi, dari jalur ayahandanya, Taufiq Ismail punya kerabat yang kiri. Dari jalur ibunya juga demikian.

Ayhanda Taufiq Ismail adalah ulama terkenal, yaitu Kyai Haji Abdul Gaffar Ismail. Beliau punya adik sepupu yang terlibat pemberontakan gerakan kiri tahun 1927 di Sumatera Barat, sehingga sang Paman Taufiq Ismail ini harus mendekam di Tangsi Birugo, Bukittinggi, bersama beberapa puluh orang lainnya.. 

Ibunda Taufiq Ismail bernama Tinur Muhammad Nur, berasal dari Pandai Sikek, sebuah kampung yang terletak di kaki Gunung Singgalang, diantara Bukittinggi dan Padang Panjang. Dari Pandai Sikek ini terkenal seorang tokoh penting gerakan kiri Sumatera Barat, bernama Datuk Batuah.

Ibunda Taufiq Ismail punya kakak perempuan bernama Angah Katimah. Suami Angah Katimah yang biasa disapa Paktuo Muhammad Syukur oleh Taufiq Ismail, merupakan salah seorang dari 823 orang yang dibuang ke Digul.

Selain itu, Ibunda Taufiq Ismail juga punya adik sepupu yang disebut Etek L. yang dikenal sebagai aktivis Gerwani.

Artinya, meminjam istilah populer di masa Orde Baru, Taufiq Ismail sang penyair kondang ini “tidak bersih lingkungan”.

Mungkin karena menyadari dirinya “tidak bersih lingkungan” Taufiq Ismail sangat antusias membeberkan fakta-fakta tentang kekejaman gerakan kiri dari masa ke masa, di berbagai negara. Dengan begitu, dia aman.

Penculikan Aktivis 1998

Pada masa Orde Baru, pernah terjadi penculikan terhadap sejumlah aktivis. Menurut CNN edisi 25 Juli 2018, “Dokumen rahasia Kedutaan Besar AS yang dirilis ke publik mengungkapkan bahwa mantan Komandan Jenderal Korps Pasukan Khusus (Kopassus) Prabowo Subianto terlibat dalam penculikan aktivis pro-demokrasi di era 1998. Itu didasarkan sumber mahasiswa... Hal itu tercantum dalam dokumen yang dirilis oleh National Security Archive, The George Washington University, tertanggal 7 Mei 1998.”

Mereka yang diculik diduga berpaham kiri. Diantaranya, ada Desmond  Mahesa, Haryanto Taslam, Pius Lustrilanang, Faisol Reza, Rahardjo Walujo Djati, Nezar Patria, Aan Rusdianto, Mugianto, Andi Arief. 

Di mana mereka sekarang? Di GERINDRA ada Desmond Mahesa, Haryanto Taslam (kini almarhum), Pius Lustrilanang dan Aan Rusdianto (empat orang).  

Di PDIP ada Rahardjo Walujo Djati (satu orang). Di PKB ada Faisol Reza (satu orang). Di Partai Demokrat ada Andi Arief (satu orang).

Mereka tersebar di banyak parpol. Paling banyak di Gerindra. Tapi kenapa PDI Perjuangan yang dituduh sebagai sarang orang-orang berpaham kiri?

Aku Bangga Jadi Anak PKI

Mengapa Ribka harus memilih judul sedemikian menggemparkan? Buku itu menjadi kian menggemparkan setelah Wapres Hamzah Haz saat itu menyatakan, buku tersebut tidak sesuai dengan Pancasila dan harus dilarang peredarannya.

Dampak pernyataan Wapres kala itu, membuat buku tersebut dicari-cari. Harga jualnya, semula hanya Rp 20.000, melonjak menjadi Rp 150.000 per eksemplar.

Menurut Liputan6 SCTV, edisi 03 Oktober 2002, “... satu hal menarik dari buku setebal 191 halaman itu hanyalah judulnya yang provokatif. Andai ditelusuri dari halaman pertama hingga akhir, isinya lebih banyak bercerita tentang pengalaman, perjuangan mencapai cita-cita, sampai sukses menjadi dokter...” 

Jika kita mau bersikap husnudzon, berpikir positif, kemungkinan judul provokatif itu lahir dari sikap mental seorang anak yang sejak kecil sudah ditanamkan nilai-nilai luhur mikul dhuwur mendhem jero. Namun diekspresikan dengan sangat emosional, seperti orang yang memendam amarah yang amat sangat.

Makna mikul dhuwur adalah bahwa seorang anak harus menghormati orang tua dan menjunjung tinggi nama baik orang tua.

Sedangkan mendhem jero bermakna, segala kekurangan orang tua itu tidak perlu ditonjol-tonjolkan, apa lagi ditiru, tetapi harus dikubur sedalam-dalamnya.

Nilai luhur itu, mungkin sudah meresap ke dalam kalbu Ribka. Ia bangga, karena sosok yang dituduh PKI itu Bapak kandungnya.

Dalam ajaran Islam, seorang anak tetap berkewajiban berbakti dan merawat kedua orang tuanya, meski mereka telah bermaksiat kepada Allah hingga mendapat azab. 

Di masa Nabi Musa ‘alaihissalam, beliau mendapat wahyu, bahwa ada seorang pemuda yang kelak menjadi tetangganya di surga. 

Nabi Musa ‘alaihissalam pun berusaha menemui pemuda terebut. Setelah bertemu, Nabi Musa ‘alaihissalam melihat rutinitas sang pemuda yang membuatnya terperanjat.

Si pemuda tampak menggendong seekor babi besar yang ia simpan di rumahnya. Babi itu dimandikan dengan penuh kasih sayang. Usai dimandikan, babi itu dikeringkan, kemudian dipeluk dan diciumi oleh si pemuda. Hal yang sama dilakukan si pemuda pada babi yang  kedua. 

Nabi Musa ‘alaihissalam bertanya, mengapa ia memelihara babi.

Si pemuda menjelaskan, babi tersebut adalah kedua orang tuanya. “Ayah dan ibuku telah melakukan dosa besar hingga Allah mengganti wajah mereka dengan rupa babi,” ujar si pemuda.

Si pemuda merasa tetap berkewajiban untuk berbakti kepada kedua orang tua. Setiap hari ia berdoa kepada Allah agar mengampuni kedua orang tuanya dan mengembalikan wujud mereka seperti sedia kala.

Maka, Nabi Musa ‘alaihissalam pun paham, mengapa si pemuda mendapat keutamaan luar biasa saat di akhirat kelak. Keutamaan itu memang pantas didapatkan seorang anak yang sangat berbakti kepada ibu bapaknya.

Kisah selengkapnya bisa diperoleh pada buku berjudul “Birrul Walidain; 40 Kisah Berbakti kepada Orang Tua (Al Kautsar Kids)“.

Siapa Menyebarkan Paham Komunis di Indonesia

Paham komunis yang berkembang di Indonesia (Hindia Belanda) bukan disebarkan oleh kaum nasionalis-sekuler, tapi oleh kalangan agamis.

Salah satu sosok dari kalangan agamis tapi ternyata komunis adalah Munawar Musso, kelahiran tahun 1897.

Nama Musso menjadi beken pasca pemberontakan PKI di Jawa Barat dan Sumatera Barat pada tahun 1926.

Musso kian terkenal pasca pemberontakan PKI di Madiun yang terjadi pada September 1948.

Musso adalah anak KH Hasan Muhyi alias Rono Wijoyo, asli Mataram, yang pernah menjadi anggota pasukan Pangeran Diponegoro. KH Hasan Muhyi juga pendiri Pondok Pesantren Kapurejo, di Kediri, Jawa Timur. 

Ada dugaan, apa yang dilakukan Musso dengan gerakannya itu merupakan pilihan politik, bukan ideologis, dalam rangka melawan pemerintah kolonial Belanda.

Namun, tokoh NU seperti KH Wahab dan Haji Hasan Gipo yang pernah berdebat dengan Musso soal keberadaan Allah SWT di tahun 1926, meyakini bahwa Musso memang berpaham atheis.

Jadi, tuduhan PDI Perjuangan sebagai sarang komunis, adalah tuduhan tanpa fakta, semata-mata dilandasi kebencian dan kecemburuan, karena selama dua periode ini kader PDI Perjuangan mengemban amanat sebagai Presiden RI.

Faktanya, Partai Komunis Indonesia (PKI) sudah eksis sejak 1924. Empat tahun sebelumnya bernama Partai Komunis Hindia (PKH). Sedangkan Partai Nasional Indonesia (PNI) baru eksis pada 1928, setahun sebelumnya masih berupa Persyarikatan Nasional Indonesia, yang didirikan oleh Ir. Soekarno, Dr. Tjipto Mangunkusumo, Mr. Budhyarto Martoatmodjo, Mr. Iskak Tjokroadisurjo, Dr. Samsi Sastrowidagdo, Mr. Sartono, Mr. Sunario, dan Ir. Anwari. (*)