Teknologi

Batan Akan Manfaatkan Limbah Radioaktif untuk Baterai Nuklir

YOGYAKARTA, SENAYANPOST.com –  Badan Nasional Teknologi Nuklir (BATAN) saat ini sedang mengembangkan pemanfaatan limbah radioaktif  menjadi baterai nuklir. Kedepan selain mendukung system pertahanan, baterai nuklir bisa dimanfaatkan sebagai sumber listik di daerah terpencil.

Kepala BATAN Djarot Sulistio Wisnubroto ide pembuatan baterai nuklir sebenarnya meniru yang dilakukan lembaga antariksa NASA dengan baterai nuklirnya untuk sumber daya pesawat penjelajah ruang angkasanya.

“Dari laporan baterai nuklir ini tahan lama dengan masa pakai yang panjang. Kami saat ini sedangan mengembangkan baterai nuklir dengan memanfaatkan berbagai limbah radioaktif yang diperoleh dari 15.000 instansi pengguna di Indonesia,” kata di Yogyakarta Kamis (19/4/2018).

Baterai nuklir dari limbah radioaktif diklaim memiliki banyak manfaat terutama bagi daerah terluar dan terpencil sebagai sumber energy listirk. Namun penggunaan baterai ini harus dengan syarat tingkat keselamatannya terjamin.

“Ini sangat bermanfaat bagi kepentingan pertahanan, militer dan masyarakat sipil di kawasan terpencil,” katanya.

Ia menyebutkan, baterai nuklir itu sendiri akan mampu bertahan setidaknya 10 tahun tanpa isi ulang.

Namun demikian, masalah keamanan harus menjadi perhatian. Menurut dia, tidak hanya masalah keamanan radiasi tetapi juga keamanan barang dari pencurian atau tindak kejhatahan dan jika untuk kepentingan militer, keamanan dari tembakan serta ledakan munisi di peperangan.

Kepala PTLR BATAN Husen Zamroni menjelaskan daya listrik yang dihasilkan baterai nuklir tergantung pada daya radiasinya. Makin besar daya radiasi maka makin besar daya listrik yg dihasilkan.

“Contoh, Plutonium-238 mempunyai daya radiasi sebesar 560 watt setiap kg-nya yang dapat dijadikan bahan baterai nuklir jenis RTG yang mampu menghasilkan listrik sebesar 25-40 watt,” katanya.

Husen memaparkan bahwa secara umum tingkat radioatif bahan nuklir ditentukan dari waktuh paruhnya. Jika waktu paruhnya semakin panjang, mencapai 100 tahun makan tingkat radioaktifnya semakin kecil, demikian sebaliknya. (MU)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close