Batal Demi Hukum, Dalam Jual Beli Harta Waris

06:15
271
Foto: Net

Pengasuh Rubrik Hukum Senayan Post, Ayah Kami meninggal dunia 12 tahun yang lalu, kami 2 bersaudara (perempuan dan laki laki) beragama Islam, sepeninggalannya ada beberapa bidang tanah, termasuk rumah dan sawah yang merupakan harta milik bersama orang tua kami, saat ini Ibu kami ingin menjual sebagian tanah tersebut, permasalahnnya kami kurang setuju dengan penjualan tanah tersebut karena harga jualnya menurut kami sangat murah, pertanyaannya apakah dalam melakukan jual beli tanah tersebut wajib memerlukan persetujuan kami selaku anak? Apa konsekwensi jika jual beli tersebut tetap dilakukan tanpa persetujuan kami? Terima kasih.

Ferry, Curup Bengkulu

Jawaban:

Harta besama adalah harta benda yang diperoleh selama perkawinan yang menjadi hak bersama suami dan istri. Jadi, apabila seorang suami meninggal dunia, maka anak dari perkawinan tersebut memiliki hak atas bagian ayahnya dalam harta bersama tersebut sehingga pemilik sebagian (setengah) harta adalah ibu dan anak anak selaku ahli waris. Artinya setengah dari seluruh harta bersama adalah harta waris sedangkan ahli warisnya terdiri dari ibu, Saudara dan adik.

Pasal 36 Undang-undang Perkawinan menyatakan suami atau isteri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak. Artinya salah satu pihak baik suami atau istri tidak dapat mengesampingkan ataupun meninggalkan pihak lainnya untuk melakukan perbuatan hukum yang berhubungan dengan harta tersebut, dikarenakan Ayah Saudara telah meninggal maka Saudara dan adik selaku ahli waris mewakili hak dari almarhum Ayah Anda, sehingga dalam melakukan tindakan hukum (jual beli) atas harta bersama tersebut persetujuan Saudara dan adik wajib dipenuhi, begitu juga sebaliknya Saudara juga tidak dapat melakukan jual beli atas harta waris tersebit tanpa persetujuan Ibu Anda.

Menjawab pertanyaan Saudara, apabila Ibu Saudara ingin menjual harta waris yang faktanya adalah harta bersama antara Ibu dan Almarhum Ayah Saudara, maka dalam proses jual belinya wajib memerlukan persetujuan dari Saudara dan adik.

Apabila dalam proses jual beli tersebut dilanggar, dalam arti tidak ada persetujuan dari Saudara dan adik, maka proses jual beli tersebut adalah tidak sah menurut hukum, yang artinya perbuatan hukum tersebut batal demi hukum. Para pihak yang melanggar prosedur tersebut dengan sengaja atau karena kelalaiannya dapat digugat dengan pasal 1365 KUH Perdata mengenai perbuatan melanggar hukum.

Comments

comments