Bara Api La Nyala

06:50
670
LANYALA M MATTALITTI MENYALA -- Lanyala M Mattalitti menyala karena tidak dapat maju menjadi calon Gubernur Jawa Timur. Ditumpahkan kekesalannya lantaran dia sudah menyiapkan diri sepenuh hati. "Mahar" yang diminta partai yang bakal mengusungnya pun sudah dijanjikan akan dipenuhi. Dia pun merasa mendapatkan "rekomendasi" dari kelompok 212 sebuah keluatan yang lahir dari demonstrasi yang berjilid-jilid.

 

BARANGKALI Lanyala M Mattalitti hanya melampiaskan kekesalannya lantaran tidak dapat maju menjadi calon Gubernur Jawa Timur. Ditumpahkan kekesalannya karena dia sudah menyiapkan diri sepenuh hati. “Mahar” yang diminta partai yang bakal mengusungnya pun sudah dijanjikan akan dipenuhi. Dia pun merasa mendapatkan “rekomendasi” dari kelompok 212 sebuah kekuatan yang lahir dari demonstrasi yang berjilid-jilid.

Maka akibat lontaran kekesalan bagai bara api yang memercikkan kobaran ke mana-mana. Publik kemudian memperoleh gambaran masa lalu. Tentang peran seorang tokoh. Ihwal kisah sukses Anies Baswedan merebut kursi Gubernur DKI Jakarta, dan ternyata… ternyata banyak terkuak pasca nyanyian getir La Nyala.

Mengigaukah La Nyala? Sekadar omong kosong? Ataukah ada yang mendorongnya bicara blak-blakan seperti itu? Atau semuanya itu suara hati yang tak mampu ditahan? Berbagai spekulasi muncul. Beragam tafsir menyusul pernyataan yang menyentak dari lelaki yang sarat dengan pengalaman kontroversial itu.

Apalagi La Nyala tidak sendirian. Tokoh 212 Al Khotot ikut menghembus. Api berkobar membakar tokoh, membuka aib partai-partai, dan membuka tabir-tabir tentang misteri masa lalu. Upaya madamkan kobaran api La Nyala tenyata tidak mudah. Terlepas benar dan tidakmya nyanyian La Nyala, pemadaman àpi yang hanya dilakukan dengan guyuran air lewat selang-selang kecil menggunakan selang kecil, malah membuat api kian membara. Barang yang tadinya samar menjadi terang benderang.

Keping-keping puzzel isu dan informasi yang beserak menjadi tersambung dan menjadi utuh ceritanya. La Nyala tampil sebagai juru terang hal-hal yang sebelumnya kabur atau setidaknya abu-abu. Lanyala –entah sengaja atau tidak– merekonstruksi berbagai dugaan menjadi semacam sepenggal cerita sebab akibat dengan bermacam dimensinya.

Tentu ada yang sewot atas keberabnan La Nyala membuka aib rekan-rekan seiring. Nyanyian La Nyala ternyata tak enak di telinga. Mereka kemudian berupaya menghaluskan atau membelokkan tudingan La Nyala menjadi lebih soft. La Nyala sendiri sempat “meluruskan” pernyataannya. Tetapi dalam teori jurnalistik pernyataan pertama selalu dinilai lebih genuine. Pernyataan yang lahir kemudian adalah cerita olahan yang kehilangan orisinalitasnya.

Comments

comments