Ekonomi

Bantul Beri Toleransi Kenaikan Harga Beras

YOGYAKARTA, SENAYANPOST.com – Selama masa menjelang Puasadan Lebaran Dinas Perdagangan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta memberi toleransi terjadinya kenaikan harga beras hingga 10 persen di atas ketentuan HET.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Bantul, Subiyanto Hadi di Ba tul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (8/5/2018).

Dia mengatakan, jika  diterapkan secara ketat akan banyak pedagang yang tertangkap karena melakukan pelanggaran. Bahkan, katanya akan ada banyak pedagang yang menutup usahanya.

“Akhirnya disepakati ada harga toleransi lapangan maksimal 10 persen dari HET,” katanya.

Ia menyebutkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) mengamanatkan bahwa harga eceran tertinggi (HET) beras medium sebesar Rp9.450 per kilogram, kemudian beras premium Rp12.800 per kilogram.

Dengan batas toleransi kenaikan harga beras maksimal 10% itu, katanya, maka untuk beras medium maksimal Rp10.300 per kilogram, sedangkan beras premium Rp14.000 per kilogram. Toleransi diberikan karena menghadapi bulan puasa.

“Kalau ada pedagang yang menjual beras medium di atas Rp10 ribu per kg kami proses, tetapi pantauan di lapangan sejauh ini masih di bawah Rp10 ribu per kg, jadi memang di atas HET, akan tetapi di bawah harga toleransi,” katanya.

Petugas pemantau kebutuhan bahan pokok penting juga memahami kondisi harga beras di pasaran di atas HET itu, akan tetapi kebijakan toleransi kenaikan harga beras itu tidak perlu disosialisasikan ke pedagang.

“Tidak perlu disampaikan ke pedagang, biar mengalir saja, karena kalau disampaikan seolah-olah punya pikiran dibolehkan jual Rp10 ribu per kg, padahal tidak, kan harus stabil harga itu. Mereka para pedagang harus berpedomaan pada HET beras,” katanya pula.

Pada kesempatan itu ia menambahkan, saat ini  Dinas Perdagangan Kabupaten Bantul, telah membentuk Tim Pengawas Distribusi Pangan yang dibentuk instansinya melakukan pengawasan bahan pokok di pasaran dan elpiji tiga kilogram.

“Kami sudah membentuk Tim Pengawas Distrbusi Pangan dan sudah saya tugaskan melakukan pengawasan terpadu tidak hanya beras di pasar-pasar tapi gas elpiji yang sasarannya di rumah makan,” kata.

Ia mengatakan pengawasan terhadap elpiji bersubsidi baik penggunaan apakah tepat sasaran atau harga di pasaran dilakukan menghadapi bulan Ramadhan 1439 Hijriah, guna mengantisipasi agar tidak terjadi gejolak di masyarakat.

“Fokus di rumah makan-rumah makan, karena ada rumah makan besar yang seharusnya tidak memakai gas tiga kilogram, tetapi masih makai, yang seperti itu kan kena persoalan karena melangggar Peraturan Gubernur,” katanya.

Subiyanta mengatakan, sedangkan terkait harga elpiji tiga kilogram, ada kebijakan dari pemerintah yang telah disepakati bahwa harga elpiiji tiga kilogram kalaupun ada kenaikan maksimal 10 persen dari harga eceran tertinggi (HET). (MU)

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close