Ekonomi

Bank Dunia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Jadi 5 Persen Tahun ini

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5 persen pada 2019. Sebelumnya, dalam laporan bulan April, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa tembus 5,2 persen tahun ini.

“Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan turun menjadi 5 persen pada 2019,” kata Kepala Ekonom Bank Dunia di Indonesia Frederico Gil Sander, Kamis (10/10).

Ia menjelaskan revisi target tersebut disebabkan oleh kondisi eksternal yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi. Perang dagang AS-China, lanjut dia, mempengaruhi permintaan dan penawaran di pasar global. Akibatnya, kinerja ekspor dan impor Indonesia ikut tertekan.

Sebagai catatan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor turun 7,6 persen secara bulanan menjadi US$14,28 miliar pada Agustus lalu. Sementara, impor melorot lebih dalam sebesar 8,53 persen menjadi US$14,2 miliar.

Akibat perang dagang, pertumbuhan ekonomi China menjadi lesu. Padahal, lanjutnya, China merupakan pasar utama ekspor Indonesia. Pertumbuhan ekonomi China pada kuartal kedua tahun ini tercatat hanya mencapai 6,2 persen, terendah sejak 27 tahun terakhir.

Tak hanya perang dagang, konflik geopolitik terkait keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) juga turut mengancam pertumbuhan ekonomi. Dalam beberapa waktu terakhir, ancaman resesi ekonomi pun berhembus.

“Perekonomian global tengah dipenuhi ketidakpastian. Itulah alasan kenapa kami mengubah prediksi dari April lalu,” katanya.

Kendati demikian, Bank Dunia meyakini pertumbuhan ekonomi akan pulih secara perlahan. Ia menuturkan pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi mencapai 5,1 persen di 2020 dan 5,2 persen di 2021.

Alasannya, tingkat inflasi Indonesia rendah sehingga konsumsi rumah tangga diperkirakan tetap kuat. Pada September 2019, Indonesia justru mengalami deflasi sebesar 0,27 persen. Angka ini lebih kecil dibandingkan inflasi Agustus sebesar 0,12 persen.

Selain itu, ia meyakini stimulus fiskal yang digelontorkan pemerintah kepada sektor swasta mulai terlihat dampaknya tahun depan. Berbagai insentif fiskal tersebut diyakini dapat menggenjot pertumbuhan investasi.

Sebagaimana diketahui, pemerintah telah menyiapkan berbagai insentif fiskal seperti pengurangan pajak (tax allowance) dan pembebasan pajak (tax holiday). Bahkan, saat ini pemerintah tengah mematangkan konsep omnibus law yang bertujuan untuk menggenjot investasi.

“Meskipun lambat, pertumbuhan investasi diperkirakan akan tetap kuat terutama setelah Pemilihan Umum karena berkurangnya ketidakpastian politik,” paparnya. (AR)

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close